0

Our Demon


It is our demon, who prevent us from being kind to others. It is our demon, who fails us to see others as they are. We sigh at our dirty windows, dark soul. We see other people are as dark as our sight, as evil as our mind.

Then we blame on others. Excusing our demon as our strategy of protection from what our demon tells us as evil people, protecting us from others.

And our demon creeps even deeper, inside us – eating us alive.

 

2

Gojek: A Space of Relationships


I applied GoRide countless time. But, never been so anxious with an enigmatic connected presence (Licoppe, 2004), to describe what so called a sense of being intimate and attached from a certain distributed family.

Long story short, this is my email for Gojek’s customer service:

Gojek yang baik,
perkenalkan nama saya Endah Triastuti.
Saya pengguna aplikasi gojek dengan nomor hp 0812XXXXXX
Hari ini, saya mengalami kejadian yang sungguh tidak mengenakan dan membuat saya cemas.
  1. ada telpon ke whatsapp saya dari gosend. Laki-laki itu menyatakan akan mengantar paket untuk saya. Saya menyatakan tidak sedang menggunakan jasa gosend. Ia maksa mau antar, saya tanya antar ke mana? Ia bilang ke warung buncit. Baik kantor dan rumah saya bukan di warung buncit.
  2. Tidak beberapa lama, saya ditelpon oleh nomor yang sama lagi ke telpon (bukan whatsapp), menyatakan dari gosend dan mau antar barang. Saya bilang hal yang sama bahwa saya tidak pesan gosend. Saya tanya siapa nama penerimanya, ia bilang: atas nama Diah. Nama saya Endah, bukan Diah. Ia bilang: oh, nomor salah ya? Dan saya tutup.
  3. Nomor yang sama menghubungi saya beberapa kali – tapi saya hiraukan.
  4. Lalu tidak beberapa lama, saya ditelpon lagi dengan nomor yang berbeda – saya angkat dan lagi-lagi dari gosend dan mau antar barang. Saya bilang dengan kesal (karena saya sedang bekerja) bahwa saya tidak pesan gosend. Saya tanya ia ada di mana, ia bilang ada di warung buncit. Saya tanya siapa yang akan diantar? ia bilang namanya ayu. Saya bilang nama saya Endah dan saya ada di UI Depok. Lalu saya tutup.
  5. Lalu, nggak berapa nomor yang sama telpon masih ngotot mau antar paket dan tanya rumah saya di mana? saya nggak jawab. Lalu ketika saya mau menutup telpon, ia sempat bilang: Ibu galak banget, bentak2.
  6. Lalu, saya sms dengan mengatakan: ia tidak sopan dan akan saya laporkan ke gojek.
  7. Tidak berapa lama, nomor lain telpon saya 4 kali. Lalu saya blok.
  8. Lagi, nomor telpon yang lain telpon saya 4 kali. Lalu saya blok.
  9. Tidak berapa lama saya di add di wa grup Komunitas Gojek XXXXX. Saya left.
  10. Lalu ada lagi yg tlp saya – tidak saya angkat.
  11. Lalu saya di add ladi di grup yang sama wa grup Komunitas Gojek XXXXX. Total saya left 2 kali.
Saya merasa tidak aman sekali. Saya sama sekali tidak punya order gosend.
Saya menelpon customer service gojek yang meminta saya untuk menulis email ini dengan menyertakan semua bukti (terlampir).
Semoga Gojek dapan mencari jalan keluarnya. Terima kasih.
WhatsApp Image 2018-12-06 at 3.46.29 PM (1)
We may agree that Gojek is a leading national mobile apps that share the face of modernity. It is where social and economy structures are entangled in the most high dynamic. Gojek is where people are, a communication-at-a-distance. 
Yet, my experience is an evidence that a communication-at-distance has reached its point of beyond distance. In contrast, it creates a space of intensified complex spatial relations. Why it is complex? Because of this:
WhatsApp Image 2019-03-12 at 10.19.24 AM
So feeding my curiosity – I have tracked down the community that has added me to their online community in whats app. I found them, though. Not sure whether they recognise my number by looking at my face.
Gojek – though it started from an effort to sustain urban economic, my experience show there is a performance of closest and most familiar consociates community, that role continuously in time in spite of physical separation (Christensen, 2009). 
In other words, it is apparent that media instead of de-spatialise people, in fact reinforce close ties between previously anonymous people. Media do not diffuse them, as Fletcher has predicted in 1992.
In turns, “in this way locative media create, as the Brazilian writer André Lemos notes, ‘augmented realities [. . .] integrated, mixed processes that merge electronic and physical territories, creating new forms and new senses of place’ (Lemos, 2009).
0

Courage to see


I think it needs a courage to love ourselves through people’s eyes.

It may need our strength to accept things our eyes cannot yet see, which other clearly can see through with clarity. On contrary, it may require our grace to trust our sight, which other refuse to accept instead of believing what they want to see but the truth.

Things other can see through, things we refuse to see – acknowledge them, then learn to accept them. Because they are part of you and you will love them no matter what.

Things you see but others wrongly accuse when they see you – trust them. Never let anyone impair your visual, but forgive those people. Understand that others may apply their own vision.

We do not deserve of being offended by others as well as by ourselves – but to love ourselves, unconditionally with courage.

 

 

0

(broken) Mirror


images

Somewhere along the way we have recollected and framed our fear, sadness, anger, wreck, trauma – keep them and carry them everywhere, in the mirror. We constantly carry that mirror, facing inward toward ourselves as we are too afraid of others can see our hurts, breakdowns, flaws, and imperfection.

As we carry that mirror facing inward toward ourselves, we may think we are successfully hide the hideous part of ours. Yes. Not only other can hardly see the real us – in fact, that mirror blocks us too to see the beauty of others. Instead, we only see their hurts, their breakdowns, their flaws and their imperfections. Thus we label them and judge them.

Every hurt and breakdown and flaw and imperfection of others we have seen and used against others are our reflections. It comes from the mirror we carry facing inward toward ourselves.

The reflection that we see everyday has nothing to do with other or how others see us. The glass lies, break it.

“A beautiful human should break its mirror early.” – then we attain to see how beautiful we are, how beautiful others.

0

A baffle


I think we are confused, sometimes.

We would be nearly without doubt accepting credits from people who thinks they have seen our very best and beauty and benevolence and aristocracy tang.

That becomes our privilege.

On the other side, we profoundly tempted to blurt out our flaws to avoid from being alienated from ourselves.

These flaws entitle us human. 

But some are aware of being a human or not is trivial. For some are delighted at being aliens. Being a darling for everyone is more exultant – baffling flaws, straining them in the dark of the soul.

 

 

1

1X24 JAM, JARI HARAP LAPOR


Throughout our nervous history, we have constructed pyramidic towers of evil – ofttimes in the name of good
[sepanjang sejarah, manusia terus membangun menara piramida kejahatan, dan seringnya mengatasnamakan kebaikan]
(Maya Angelou pada sebuah konferensi yang bertema Facing Evil di Texas tahun 1982).

Sepekan ini netizen riuh ‘mendiskusikan’ masalah video dua laki-laki yang dikabarkan  adalah pasangan gay. Kabar ini datang dari seorang perempuan yang melihat dua orang laki-laki berpelukan di atas sebuah sepeda motor. Perempuan itu lalu merekamnya dan membagikan video itu melalui akun media sosial. Netize mulai menghujat kedua laki-laki tersebut, yang ternyata adalah kakak dan adik. Keriuhan berbalik. Netizen mulai menghujat si perempuan yang akhirnya minta maaf.

Tak lama muncul keriuhan lain. Sepasang mahasiswa membuat kampanye CELUP (Cekrek. Lapor. UPload), yang mengajak orang untuk pergokin yuk! pasangan-pasangan pacaran di ruang publik, termasuk berduaan di mobil (takutnya hamil). Kegusaran netizen seputar aspek hukum dan etika akhirnya membuat pembuat kampanye itu menutup aplikasi dan semua akun media sosial CELUP.

Terlepas dari keriuhan yang terjadi, sebenarnya dua kejadian tersebut menggambarkan fungsi pengawasan media yang bukan hal yang baru dalam kehidupan bermasyarakat. Sebelum era digital mulai, sistem pengawasan dalam kehidupan bermasyarakat sudah mengambil bermacam bentuk.

Mungkin banyak yang masih ingat sistem siskamling dan ‘aturan’ wajib lapor 1×24 jam bagi pendatang yang masih berlaku hingga hari ini di setiap RT dan RW? Aturan itu ada dasar hukumnya, dan sebenarnya sudah dibiasakan sejak zaman Presiden Suharto. Dua sistem itu merupakan bentuk partisipasi sipil sebelum era digital dalam membantu pemerintah menjaga ketertiban dan keamanan (Lim, 2002).

wajib-lapor

Gambarnya pinjam dari sini

Buku Hannah Arendt Eichman in Jerusalem: A report on the Banality of Evil (1963) membahas Adolf Otto Eichman, prajurit Nazi yang mengorganisir pemusnahan kaum Yahudi. Menurut Arendt, Eichman tidak melakukan kejahatan karena “He did his duty…; he not only obeyed orders, he also obeyed the law.” (1963:135) sehingga “[it was] well-nigh impossible for him to know or to feel that he [was] doing wrong” (ibid:276). Artinya, sebenarnya selalu ada konteks sosial yang mendorong dan/atau membiarkan manusia melakukan ‘kejahatan’.  Konteks sosial ini mengakar kuat dalam budaya dan pemikiran kita. Konteks sosial ini membiasakan dan membenarkan kita untuk melakukan hal-hal normatif dalam konsep mayoritas, yang bisa jadi sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran.

Ingat sistem pengawasan masyarakat yang mewajibkan tamu wajib lapor 1×24? Atas nama norma ini, sepasang kekasih yang sedang mempersiapkan pernikahannya diarak, dianiaya dan ditelanjangi (baca di sini). Warga yang berpartisipasi dalam aksi persekusi itu merasa sudah turut menjaga ketertiban dan keamanan daerah mereka, utamanya dalam hal kesusilaan.

Partisipasi masyarakat untuk membantu negara menjaga ketertiban dan keamanan (susila) berlanjut di era digital. Bedanya, masyarakat tidak perlu melakukan penggerudukan tatap muka, melainkan praktis bisa pakai jari saja.

Cukup dengan jari, Mbaknya membagikan video kakak beradik yang dikira pasangan gay. Saat itu, Mbaknya yakin ia tengah melakukan kebaikan, “Niat saya hanya kalau kita melihat yang tidak layak tolong tegur agar tidak berdampak bagi orang lain. Tidak perlu dengan kekerasan main hakim sendiri. Saya rasa kalau kita menegur dimuka umum itu (….) tamparan keras bagi mereka.” (silahkan baca lengkapnya di sini, sekalian saya pinjam gambarnya ya). Dengan meminta netizen lain untuk ‘tolong tegur’, Mbaknya merasa telah berpartisipasi dalam menjaga keamanan dan ketertibagan masyarakat.

sri mulyani 1

Hal yang sama pun membingkai kampanye akun @cekrek,lapor.upload di Instagram yang menjelaskan bahwa (jari) mereka tengah melakukan “kampanye anti asusila” untuk mengembalikan fungsi ruang publik yang sesungguhnya. Kampanye ini mendorong sebuah gerakan (jari) untuk mempublikasikan foto pelaku tindak asusila agar tidak mengulangi perbuatannya lagi (tulisan lengkap dapat diakses di sini)

Menurut Arendt, sebenarnya tidak ada tindakan yang benar-benar jahat (radical evil). Yang ada hanyalah konsep mayoritas yang dijabarkan dalam kategori-kategori detil menenai kebaikan dan kejahatan.

Gay itu percintaan laki dengan laki toh? Gay itu asusila.
Hubungan intim itu harusnya di dalam kamar toh? Hubungan intim di luar rumah, asusila dong!
Orang yang (kelihatan) muda itu belum menikah toh – orang muda berduaan, pasti mereka pacaran. Asusila!
Pacaran itu kan bercinta toh?  Pasti pacaran itu mesum! Nggak layak, sudah pasti asusila

Konsep mayoritas semacam itu lambat laun mengakar dengan kuat dalam diri manussia. “It spreads like a fungus on the surface” (Arendt, 1963:287). Konsep-konsep mayoritas mengenai kejahatan dan kebaikan membuat kita menerima begitu saja apa yang menurut orang banyak ‘benar dan salah’, otak kita malas untuk berpikir sampai jauh, yang sebenarnya menggambarkan ketidakmampuan masyarakat untuk berpikir secara baik dan benar lagi (problem of thinking – Bergen, 1998:39).

Sehingga, cara paling mudah ialah menggunakan alasan ‘demi kebaikan‘ kita melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak mampu atau malas kita cerna dengan otak kita. Di era digital ini, kita jadi hobi memanfaatkan jari-jari kita sebagai perpanjangan otak dan mulut kita yang murahan. Alasan ‘demi kebaikan’ sejujurnya adalah cara pendek, yaitu dalih kita agar tidak perlu lagi menggunakan otak kita dengan benar.

Dasar otak murahan! Tuh kan, jarimu jadi murahan juga! 

Menyebarkan tuduhan gay pada dua laki-laki yang ‘intim’ jauh lebih mudah dibanding menahan jari (sementara otak mikir kemungkinan lain atau memahami). Keputusan melakukan perundungan online terhadap gay, jauh lebih mudah dibandingkan menahan jari (sementara otak mikir untuk memahami manusia LGBT dan masalah mereka). Kampanye CELUP, jauh lebih mudah daripada kampanye menahan jari (sementara otak mikir untuk buat kampanye yang mengajarkan anak-anak muda untuk menghormati tubuh dan masa depannya.

Dan di atas segalanya, alasan ‘menyelamatkan ruang pubik’ jadi pembenaran untuk menerabas ruang pribadi orang lain.

Ya, jari murahan lahir dari otak yang murahan – yang dibiarkan malas karena ‘toh semua orang begitu‘. Jari murahan lahir dari otak murahan yang malas untuk mempelajari perbedaan (hidup dengan orang-orang yang satu golongan jauh lebih nyaman karena tidak  harus selalu mempelajari hal baru). Jari murahan lahir dari otak murahan yang lebih suka menerima konteks sosial yang banyak dipercaya orang (tapi salah). Jari murahan lahir dari otak yang murahan, yang hanya mau ikut arus (walau menyesatkan).