1

Tetangga Istiqomah 2


Setelah satu bulan di rumah, akhirnya tadi pagi saya keluar rumah untuk belanja. Ketika mengeluarkan mobil dari garasi dan parkir sebentar di depan rumah untuk menutup pagar, saya baru melihat bahwa pot-pot ibu tetangga sebelah sudah jempalitan kemana-mana. Bahkan ada dua pot yang masuk ke dalam got. Padahal, baru bulan lalu, saya lihat ibu tetangga sebelah itu minta seseorang untuk menata pot-potnya.

Baru sadar dan ngeh – kalau pot-pot itu juga korban bola yang dimainkan oleh anak-anak tetangga istiqomah yang selalu buat gawang di depan taman ibu tetangga sebelah.

Nasib pot-pot ibu itu sama dengan nasib pot saya yang pecah gegara bola ditendang keras, masuk ke dalam pagar dan mengenai pot saya.

Ini adalah wa salah satu tetangga yang istiqomah itu:

“Mohon maaf juga atas kesalahpahaman yg terjadi.. semoga kedepannya kita bisa bertetangga dengan baik dan saling tenggang rasa ya, dan bisa membicarakan baik2 jika ada sesuatu hal yg kurang berkenan

Ukurang tenggang rasa yang cherry picking. Membicarakan baik-baik? Baru bicara saja sudah dibully: diteriaki, dimaki-maki di depan pagar, dan lainnya. Bahkan jika bicara baik-baik: “Boleh nggak, jangan potong tegel jam 11 malam?” – yang terjadi, ada tetangga istiqomah lain yang teriak di depan pagar kita: “Besok potong aja sampe jam 12 malam. Ini hak kita kok. Bangun rumah sendiri, pake uang sendiri.”.

Fuck. Fuck.

0

Tetangga Istiqomah


Sungguh cobaan mendapatkan tetangga seperti tetangga di depan rumah saya. Entah, definisinya tentang ‘tenggang rasa’ itu apa.

Menikahkan anaknya ngga bilang-bilang tetangga. Lalu ia menutup jalanan dengan tenda sampai tetangga ngga bisa masuk rumah hingga tengah malam – tanpa izin tetangga.

Dengan semena-mena pasang polisi tidur pas di depan rumah pintu pagar rumah orang, hingga orang yang punya rumah kesulitan masuk rumahnya sendiri.

Buka usaha minyak tanah, dan para pengecernya parkir di depan rumah tetangga – sampai yang punya rumah ngga bisa masuk seharian. Waktu di tegur, marah-marah dan membully.

Bangun rumah tanpa IMB. TUkangnya mulai kerja dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam. Keriuhannya luar biasa. Waktu ditegur, malah mengintimidasi.

Anak-anaknya main bola di depan rumah orang, sepanjang hari. Bolanya berkali-kali menendang pagar dengan keras. Waktu orang yang punya rumah protes, malah teriak-teriak: “Jadi tetangga ngga ada tenggang rasa”. Lalu saking kerasnya menendang bola, bolanya masuk rumah tetangga. Anaknya bohong, bilang: “Orang itu ambil bola saya”. Tanpa malu, si tetangga sialan ini ngelabrak yang punya rumah. Ngga mau tanya baik-baik ada apa.

Dan ketika sudah dibicarakan di tingkat RT, dia yang bilang: mari bertangga dengan tenggang rasa.

FUCK.

0

Unloving parents


Be careful to what you believe as the definition of love. It is not what you say (that you love your children). it is what you do. Mind your words, so you don’t twist your words between your children and do not twist your children’s words to use them against each other for the sake of your ego. Do not let your children to learn love as something chaotic, painful, dramatic and confusing.

Genuine love creates feelings of warmth, pleasure, safety, stability, and inner peace – Susan Forward.

0

We are all weird


I have lived in a society, where people think being a woman as well as a divorcee (baca: janda) is something a courteous woman should keep in secrecy. So did I, that I never openly shared or confirmed. I wanted people to see me as I am, not as a janda – as I know they would feel sorry for me or mock me. I was so fancy that people would not realise that I am a janda as well as a single parent.

Overtime, I became quite proficient at looking after and managing my life, as a person as well as a parent – covering almost every aspect in our life, be it economically, socially, spiritually, and emotionally. My daughter and I – we were both happy and content. I got so good at it, in fact, I actually preferred this life. I truly enjoyed this life and felt very grateful every single moment that to me this life was just perfect. Because through juggling my life and had almost no time to waste, not only I tasted freedom but also I strengthened my core, physically and mentally. In the midst of what for other people seemed to be a tough life, I found my life is full of amazement and I am at peace with the world. . . similar to that of a wonderful journey.

I never think about what other people think anymore, but I am still a divorcee – a janda. I still do not intentionally share or confirm my status. But occasionally when people know that I don’t feel sorry for being a janda – instead they know that I am very happy and proud, most of them think I am weird for feeling relieved and happy being a janda. Sometimes I’ve tried to explain to them why I am happy. But they can’t relate. So I’m still a weirdo in their eyes.

Image
0

Kulit


Ini terkait #blm. Saya mudah memahami mengapa gerakan itu muncul atas reaksi terhadap kematian George Floyd. Bahkan, saya dapat memahami (bukan menyetujui) tindakan anarki berupa penjarahan dan pengrusakan terkait #blm.

Ada teman yang bingung, dan bertanya berulang kali “sebenarnya, apa masalahnya?” dan menambahkan, “kan polisinya sudah ditangkap?”. Saya bingung, dan nyaris bertanya, “lo kemana aja, emang ngga pernah baca berita?”. Tapi saya tahan karena merasa kurang sopan kalau bertanya seperti itu.

Komentar Samantha Katie dalam akun IG nya tentang kemarahan orang kulit hitam di Amerika menjelaskan kebingungan saya.

Saya tiba-tiba ingat pada sebuah kejadian beberapa tahun lalu – tahun 2007-2008. Waktu itu saya keki pada sekelompok orang yang memasang spanduk bertuliskan “Orang Kristen dilarang bangun rumah di sini”. Saya mengutarakan keki saya pada seorang teman, Muslim. Responnya, “Ngga apa. Kan hanya wacana.” Teman saya merasa keki saya itu sesuatu yang berlebih.

Saya menarik benang merah. Kedua teman saya itu, mereka berdua adalah kaum mayoritas. Mereka lahir dengan semua hak istimewa mereka. Bisa dipastikan, mereka tidak pernah merasakan ada di posisi George Floyd, atau orang-orang yang karena agamanya diusir dari sebuah wilayah di Indonesia (atau bahkan ditolak penguburan jenasahnya). Mereka mungkin tidak akan pernah merasakan dipersulit naik pangkat karena warna kulit. Mereka mungkin tidak akan pernah merasakan ikut undian yang hadiahnya (kalau dapat) tidak dapat mereka nikmati (misalnya, umroh). Artinya, mereka tidak pernah merasa keki. Keki: mau marah ngga bisa karena kondisinya memang sudah begitu.

George Floyd bisa marah gimana, ketika ia terlahir sebagai kulit hitam? Kaum Tionghoa bisa marah gimana, ketika ia terlahir sebagai Cina? Mereka yang lumpuh sejak lahir bisa protes ke siapa, ketika dilahirkan tanpa kaki?

Mereka yang lahir dengan hak istimewa tidak akan bisa paham rasa frustrasi. Mereka yang lahir dengan hak istimewa sulit paham bahwa frustrasi karena tidak bisa mengubah keadaan dapat berubah menjaadi kemarahan dan gelap mata. Mereka yang lahir dengan hak istimewa akan sulit memahami pengalaman orang yang ditindas karena lahir berbeda. Mereka yang lahir dengan hak istimewa seringnya punya pengalaman yang baik dan positif dalam hidup mereka. Sehingga ketika ada orang menuturkan pengalaman mereka yang berbeda akan dipertanyakan atau dianggap bohong. Mereka yang lahir dengan hak istimewa, merasa tanpa dosa melakukan diskriminasi Mereka ini kesulitan untuk bisa paham pengalaman menyakitkan (karena nyaris tidak akan pernah mengalami seumur hidup mereka). Bahkan, dalam usaha empati mereka pun – ada diskriminasi.

Lalu kalau sudah, dengan mudahnya minta maaf karena ” I’m not in your shoes to understand this fully” – Samantya Katie.

Ah, pret.

2

SALT and LIGHT


things we take for granted, but the core of your faith.
am nobody if i refuse to try.
i have failed every now and then.
i keep trying, no matter what – too stubborn to stop.

13 “You are the salt of the earth. But if the salt loses its saltiness, how can it be made salty again? It is no longer good for anything, except to be thrown out and trampled underfoot.
14 “You are the light of the world. A town built on a hill cannot be hidden. 15 Neither do people light a lamp and put it under a bowl. Instead they put it on its stand, and it gives light to everyone in the house. 16 In the same way, let your light shine before others.

0

Constipated.


There are similarities between women’s orgasm, constipation and publishing an article in an international journal.

There are – first, they need concentration, not to give up. Women need to concentration and focus to get orgasm. Human needs for concentration to get ‘that moment, so the poo will successfully get out. Academics need concentration in working on their articles.

Second, if you are tired of trying to concentration in such a long wait, then you tend to give up. Thus, you end with no result. No orgasm. No poo. No publication.