0

T-O-B-Y


On losing a dog.

Dear Toby,

I never would have believed that grieve could be so real like this. I never would thought I would loved you, this much – until you are not here anymore, leaves me empty.

I love you.

Advertisements
0

D-O-S-A


Gita mulai sekolah di SMP tahun ini. Saya tidak tahan untuk tidak berbagi keluhannya hari ini.

Gita: “Kalau kita salah, dicatat di dalam buku. Terus, kok gitu. Minggu pertama, ada temanku salah pakai baju dan langsung dicatat. Padahal, kan peraturannya baru saja diberi minggu itu. Harusnya kan jangan ditulis dulu, harus dibiasakan dulu.”

Saya: “Ya, mungkin biar terbiasa, jadi langsung dicatat di dalam buku”

Gita: “Dan, Ibu tahu tidak – mereka menamai bukunya apa?”

Saya: “Nggak. Memang apa?”

Gita: “BUKU DOSA”

lalu ….

Gita: “Sejak kapan lupa pakai baju seragam apa itu DOSA, Ibu????”

Saya sedih sekali.

Maaf ya, Nak.

1

Place(s)


Miracle_by_euzhaphotography

Some people have their favourite places. They post these places on their media accounts for other people to see, and hopefully feel the same. These places are indeed beautiful and stunning.

Been to many places and I have not decided yet which one is my favourite place. Or actually I have? Not sure. Still wondering whether are they the places that have stunned me, or have people I interacted with that bonded me.

I think it is not important whether these places (or these people) are beautiful or stunning  or not (that we make them our favourite). The most important thing, to me, is how these places (and people who live there) have changed me into myself now.

And that is the most important.

And that is the reason why I always return to myself, a place where I can talk with the dead, talk with my lost self, my disappeared self, and I can visit those places again, and understand it differently. That makes a huge difference.

“It’s a temporary stage in human evolution, this need to travel to distant places in order to be with ourselves.”
― Joseph Rain

1

Belum cukup?


Hari Jum’at saya harusnya berangkat ke kantor jam 7 pagi, seperti biasanya. Tetapi, hari itu ternyata jadi hari yang luar (dari) biasa(nya). Saat saya sedang menyetir mobil menuju kantor, saya melihat seekor anjing berkeliaran. Saya hampir yakin, anjing itu hilang atau terlepas dari pemiliknya – karena tubuhnya cukup gemuk dan sehat. Ya, saya takut kalau-kalau jenis orang yang suka mengkonsumsi daging anjing melihat dan menangkapnya. Aduh. Saya tidak sampai hati membiarkan.

Entah, apa yang ada di kepala saya – akhirnya, saya bawa pulang. Seolah, belum cukup semua beban kerja di kantor dan di rumah yang saya punya selama ini.

Ini hari ketiga, anjing itu ada di rumah saya. Saya sudah mengumumkan pada  kelompok-kelompok pencinta ajing di media sosial yang saya jadi anggotanya, bahwa saya menemukan seekor anjing. Tak ada satu pun yang mengaku kehilangan.

Sementara, pada media sosial, banyak orang terus ribut menyelamatkan anjing. Banyak juga yang terus ribut ketakutan dan marah pada orang-orang yang memakan anjing. Juga, tak sedikit orang yang sinis dan menyindir pada mereka penyuka anjing ras (tetapi juga tidak melakukan apa-apa – tolong berkata/berbuat baik, kalau tidak bisa, tutup saja mulutmu atau diam jarimu).

Yang saya heran, masih saja banyak orang bangga mencari pasangan kawin untuk anjingnya, bangga ketika anjingnya pada masa lop. Masih banyak yang bangga ketika anjing mereka melahirkan anak-anak anjing. Beberapa merasa segera membuat steril anjing-anjing adalah tindakan yang tidak hewani.

Belum cukup ya?

0

A reflection


Libur Lebaran. Puji Tuhan.

Liburan ini saya kebanyakan menghabiskan waktu di rumah.

Saya memuaskan diri menghabiskan waktu bersama Gita: nonton film, browsing, main monopoli dan tidur. Ada juga sih, waktu-waktu untuk diri sendiri: nonton film, browsing, tidur dan menulis. Tetapi, dua hari ini saya memutuskan untuk membersihkan dan membereskan rumah.

Saya membutuhkan waktu seharian untuk membersihkan dan merapikan rumah. Saya menghabiskan waktu berjam-jam dan membuang tenaga banyak untuk menyapu, ngepel, membersihkan debu, mencuci, mengeringkan, memilah, membuang, menata ulang, menggosok, melipat, menyimpan, dan yang lain. Pfft. Sampai pinggang saya sakit (juga lengan, kaki dan leher).

Parahnya, saya yakin kondisi rumah yang bersih, rapi dan wangi ini hanya akan bertahan beberapa jam.

Butuh waktu yang lebih singkat untuk mengobrak-abrik rumah 😦 Mulai dari meneteskan cairang yang tidak perlu, menjatuhkan remah yang tidak termakan, melempar baju kotor, menjatuhkan kertas tak dipakai, dan meninggalkan jejak kaki basah, meninggalkan noda di pakaian, menaruh piring kotor di dapur begitu saja, meninggalkan tempat tidur dengan kondisi acak-acakan, membeli barang-barang yang tak ada gunanya, dan yang lainnya, dan yang lainnya.

Hal-hal yang merusak adalah hal-hal yang mudah. Kegiatan memporakporandakan tidak membutuhkan banyak waktu. Betapa mudahnya membuat kacau, merusak, memporak-porandakan. Begitu sulitnya menjaga, merapikan dan merawat.

I reflect this in every way. 

1

Jiwa ku/mu (?) sakit


Have you ever heard about Project Semicolon?

Here, at Global Semicolon, they say: The trend of semicolon tattoos was started by Project Semicolon, which describes itself as “a faith-based non-profit movement dedicated to presenting hope and love to those who are struggling with depression, suicide, addiction and self-injury.” As to the significance of the symbol itself, the organization writes on its website, “a semicolon is used when an author could’ve chosen to end their sentence, but chose not to. The author is you and the sentence is your life;” thus, in the case of these tattoos, it is a physical representation of personal strength in the face of internal struggle.

What people don’t understand about depression is how much it hurts. It’s like your brain is convinced that it’s dying and produces an acid that eats away at you from the inside, until all that’s less is a scary hollowness. Your mind fills with dark thoughts; you become convinced that your friends secretly hate you, you’re worthless, and then there’s no hope. I never got so low as to consider ending it all, but I understand how that can happen to some people. Depression simply hurts too much (Tyler Hamilton).

They are not insane, by the way. They are struggling from illness – like influenza we usually suffer every now and then. Yet, invisible illness.

But if you insist to define insanity, I would say it is the inability to relate to another human being. It’s the inability to love (Richard Yates)

slide_408318_5119786_free

0

I-K-R-A (sebelum buka mulut atau ngetik status)


hari ini saya melihat sebuah posting yang dipasang pada akun FB seorang kolega. Itu, di bawah tulisan ini.

11181199_10153190983128369_7575668907768820215_n

Rasanya, postingan tersebut mengarah pada legalisasi kawin sesama jenis.

Kalau mau kontra, silahkan saja Mas Bro. Tetapi boleh tidak pakai aturan?

Pertama, jangan menjelekan pihak lain – termasuk binatang. Mereka juga mahluk ciptaan Tuhan.

Kedua, boleh nggak sih jangan secara terbuka menyatakan diri kita (Anda) bodoh di ruang publik (di internet pulak), dengan memberi indikasi kita (Anda) tidak baca (atau punya fasilitas internet hanya untuk melakukan hal-hal yang bodoh dan menambah kebodohan?) Baca. Baca. Baca. Baca. Baca. Apakah bandwidth internet kita (Anda) nggak mencukupi, sih? Cari free hotspot.

Oiya, untuk postingan gambar itu – tentu saja saya memberikan komentar. Yaitu ini, itu dan yang keren ini, Biological Exuberance.

Ayo dong. Jangan malu-maluin. Anak, istri, suami, bapak, dan ibu kita (Anda) jadi teman loh di akun FB kita (Anda).