(orang) Kaya KW1, Pencuri Fasilitas Umum


10501650_10152415328644690_3632325427482789413_n

Mohon maaf bila ada yang tersinggung.

Sejak lebaran kemarin, ‘pemerintah lokal’ seputar gang rumah saya memberlakukan aturan baru: menutup portal muka gang. Gara-garanya ketika liburan lebaran lalu, ada warga yang kecurian mobil.

Sebelum ‘pemerintah lokal’ menutup portal muka gang dekat rumah saya, saya sudah tidak suka mengendarai mobil. Sekarang, saya lebih tidak suka lagi. Kalau mengendarai mobil, untuk keluar rumah menuju jalan raya, saya harus memutar ke arah muka gang yang satu lagi, melalui jalan yang lebih panjang dan lebih banyak rumah (tetangga, yang saya tidak kenal). Di depan hampir tiap rumah yang saya lalui, ada mobil di parkir di (pinggir) jalan. Akibatnya, saya selalu deg-degan, takut menyerempet karena jaraknya mepet sekali. Belum lagi kalau dari arah yang berlawanan ada mobil lain yang juga akan lewat. Kemarin, saya berpapasan dengan sebuah mobil besar, yang dikendarai supir yang ‘pongah’ – tidak mau minggir sedikit juga dan mengharapkan saya nyetir mundur sejauh 200 m. Enak saja.

Seminggu ini saya menyimpulkan sesuatu.

Lingkungan tempat saya tinggal bukan lingkungan orang ‘kaya raya’ (sepertinya). Lingkungan ini penuh dengan gang-gang sempit dan rumah-rumah sederhana (well, kalau dibandingkan dengan rumah-rumah di Pondok Indah atau Menteng). Setiap rumah, rata-rata, tidak lagi memiliki pekarangan dengan rumput. “Rumah” adalah bangunan yang tidak menyisakan area ‘pekarangan’ bahkan untuk garasi sekalipun. Pemilik rumah memaksimalkan tanahnya untuk bangunan.

Tapi, kebanyakan orang memiliki mobil-mobil mewah yang diparkir di (pinggir) jalan depan rumah mereka. “Mencuri’ jalanan yang selayaknya adalah fasilitas umum. Beberapa memiliki mobil sekelas Land Cruiser dan Jeep yang maha besar dibanding lebarnya gang. Saya perhatikan, mereka ini parkir tanpa empati (bukan lagi perasaan bersalah mencuri jalanan sebagai fasilitas umum) dan menyetir dengan pongah, hati-hati saja tidak mau.

Kenapa mereka tidak membeli tanah yang lebih besar supaya dapat membuat garasi? Kalau karenanya mereka harus ‘berkorban’ membeli mobil yang lebih sederhana, kenapa tidak? Mau terlihat kaya dengan pamer punya mobil mewah nan besar, tetapi mengambil hak umum dengan parkir di (pinggir) jalan (umum).

Mencuri, tapi bangga sekali. Tidak tahu malu.

Terimakasih Ira Hairidauntuk meminjami saya gambar parkiran mall di Palembang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s