Asisten atau pembantu (rumah tangga)?


cleaning-8765

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang terburu-buru pulang, seorang teman bertanya: “Kenapa buru-buru?”
Saya menjawab: “Karena anak saya sendirian di rumah”.
Teman saya bertanya: “Oh, nggak punya pengasuh atau asisten?”
Saya jawab: “Saya nggak punya pembantu”.
Teman saya tersenyum dan berkata, “Asisten, bukan pembantu.”
Saya, tersenyum balik, mengatakan: “Nggak, pembantu kok. Bukan asisten.”
Lalu, saya berlalu.

Dalam bahasa Inggris (paling tidak), asisten (rumah tangga) (assistant) memiliki arti:
as·sis·tant [uh-sis-tuhnt]
noun

  1. a person who assists or gives aid and support; helper.
  2. a person who is subordinate to another in rank, function, etc.; one holding a secondary rank in an office or post: He was assistant to the office manager.
  3. something that aids and supplements another.
  4. a faculty member of a college or university who ranks below an instructor and whose responsibilities usually include grading papers, supervising laboratories, and assisting in teaching.

Sementara, pembantu (rumah tangga) (home-helper) memiliki arti:
home-help·er [hohm-hel-per] 
noun

someone who provides part-time or full-time care for a sick or disabled person at home.

Saya ngaku, salah satu sifat saya adalah sok tahu dan keras kepala. Saya kekeh menggunakan kata ‘pembantu’, dan bukan kata ‘asisten’ karena nasihat ayah saya.

Menurut ayah saya, pembantu adalah: orang yang membantu kita. Artinya, pekerjaan apa pun yang mereka bantu – pada dasarnya adalah pekerjaan kita. Jadi, kita adalah penanggung jawab utama pekerjaan itu. Artinya, yang utama yang harus melakukan kerjaan apapun itu adalah: kita. Sementara pembantu bukanlah orang utama yang seharusnya melakukan pekerjaan apapun itu. Tugas mereka adalah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kecil, pritil, dan bukan utama.

Sekarang ini kan orang-orang itu kebalik. Justru pembantu yang melaksanakan pekerjaan utama, sementara kita melakukan sisa kerjaan yang kecil-kecil dan bukan utama“, kata ayah saya.

Jadi, menurut ayah saya – misalnya, kalau kerjaan itu adalah memasak, maka tugas pembantu adalah: mencuci perkakas yang kita gunakan untuk memasak. Tetapi bukan: ke pasar belanja bahan (karena bahan adalah yang utama). Tetapi bukan: mempersiapkan bahan makanan (karena bentuk dan ukuran adalah yang utama). Juga bukan: memasak (karena rasa adalah yang utama). Kalau penampilan masakan adalah yang utama, maka pekerjaan itu bukanlah pekerjaan pembantu, tetapi kita.

Sesederhana itu logika ayah saya.

Kebanyakan dari kita terlalu malas. Sehingga banyak orang menganggap menggunakan kata pembantu adalah merendahkan pekerjaan ini.

Padahal, menurut saya – secara logika, ‘pembantu’ lebih tepat dari kata ‘asisten’. Mereka bukan orang kedua setelah kita kalau dalam urusan rumah tangga. Masih ada suami atau isteri atau anak.

Tapi, tentu saja – logika ini adalah menurut saya (berdasarkan nasehat ayah saya yang saya anggap benar secara logika).

Demikian.

Gambar diambil dari sini, ya.

4 thoughts on “Asisten atau pembantu (rumah tangga)?

  1. Apapun istilahnya (PRT atau ART) itu tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah: sebaik apa kita memperlakukan mereka🙂

    (ini kalimat kudapat dari twitter sekitar 3 4 tahun yg lalu)

    • Bener. Hanya kalau aku, pilihan kata itu punya efek psikologis. Ada temanku, misalnya, membayar dengan harga tinggi dan sering ngasih banyak persenan. Tapi, semua pekerjaan diberikan pada pembantunya (satu orang pulak). Maksudku, ada juga orang yg merasa karena sudah bayar banyak terus boleh memperkerjakan seperti apapun. **meracau**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s