Be kind


Ada satu kutipan yang saya temukan tahun lalu. Kutipan favorit saya. Kutipan itu bilang begini:’Be kind, for everyone you meet is fighting a great battle’ (Alexandrinus Philo).

Sejak saya menemukan kutipan itu, saya selalu berusaha keras – sekeras saya bisa untuk selalu berbaik hati pada orang lain. Kalau tidak bisa baik hati, paling tidak saya tidak mau kasar atau jahat. Kalau bisa selalu mengucapkan kata-kata baik dengan sopan dan ramah. Susah sih, tapi tetap saya coba.

Saya punya teman, yang kerjanya selalu ngeluh. Udah gitu, orangnya tukang cemas. Apa juga dicemasin. Terus, sukanya parno-an sama orang. Terutama sama laki-laki. Beberapa bulan yang lalu, saya main ke rumahnya. Dia cerita, waktu dia berumur 7 tahun, ibunya mati ditembak orang ketika mereka berdua (teman saya dan ibunya) sedang duduk berdampingan di taman. Tiba-tiba saja, dia bilang, ibunya menggelimpang berlumuran darah. Lalu, sesuai budaya di negaranya, anak yang ditinggal meninggal ortu akan di’angkat’ anak oleh om/tantenya. Namanya doang ‘diangkat anak’, tapi praktiknya, mereka dijadikan pembantu tanpa bayar (dibayar pakai makanan, tempat tinggal, dan baju ala kadarnya). Baru setahun teman saya ini ditinggal ibunya dan jadi pembantu, tantenya yang tinggal di Australia mengadopsi dan membawa teman saya ini ke Australia. Si tante ini menikah dengan laki-laki yang sangat ‘abusive’. Tidak mau tau kalau teman saya ini baru berumur delapan tahun. Roti, mentega, cereal, susu – bukan makanannya sehari-hari. Kloset? Itu benda baru karena selama di negaranya, teman saya ini buang hajat di halaman. Untuk semua ketidaktahuan dan kekikukan akan hal-hal baru – hadiahnya adalah hardikan, tamparan, dan pecutan. Teman saya ini, lalu melarikan diri. Keluyuran di jalan, teman saya berhenti sekolah sebelum selesai SD, lalu hamil ketika berumur 17 tahun. Buntungnya, suaminya juga ‘abusive’. Sekarang, teman saya ini orang tua tunggal dari tiga orang anak.

Cerita teman saya – menampar wajah saya. Saya punya orang tua, ayah dan ibu. Ayah saya jauh dari sosok ‘abusive’. Ayah dan ibu saya memastikan kami selalu terlindung dan dilayani.

Malu. Malu. Malu. Saya malu sekali.

Jadi, saya memutuskan untuk: be kind- sekuat saya bisa.

Mari berbaik hati.

Kalau kita tidak pernah mengalami semua ketidaknyamanan dalam hidup, bukan karena kita ‘berhati-hati’ atau ‘beruntung’. Bukan karena orang lain ‘lagian sih, cari pacar bukannya yang bener’, atau ‘lagian sih waktu remaja ga sekolah yang benar’ atau ‘telat mulu! bukannya bangun lebih pagi’.

Bukan. Kita nggak tau kenapa. Setiap orang punya cerita hidupnya sendiri-sendiri yang tidak diungkapkan.

Kalau kita punya hidup yang menyenangkan, teman yang baik, suami yang penyayang dan berkecukupan – artinya kita harus membagi dengan orang lain. Tidak usah bagi-bagi orang uang. Cukup berbaik hati. Maklum.

Kehidupan kita yang menyenangkan dan berkecukupan nggak akan habis hanya karena kita berkata-kata baik, bersikap ramah dan penyayang.

4 thoughts on “Be kind

  1. mba, temennya punya kehidupan yang berat sedari kecil ya…ga salah jiwanya jd terbentuk penuh curiga ….
    iya mba, setidaknya berbagi hati dan hal yang menceriakan ya mba

  2. kasihan… gak kebayang yg seoerti itu bs kejadian di dunia nyata…😥
    Seperti kata sigmund freud, kondisi psikologis kita sekarang dibentuk oleh masa lalu kita..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s