Eyang


Ada yang sudah jadi eyang? Ayo ngaku!

Beberapa bulan yang lalu bos besar, ibu saya, datang berkunjung ke Australia. Atas nama ‘sayang’ dan ‘sudah lama tidak ketemu’ dan ‘jarang bisa begini dan begitu untuk Gita’ – jadilah bos besar memanjakan bos kecil, Gita. 

Sebelum bos besar datang, misalnya, bos kecil punya tugas rutin membersihkan dan merapikan tempat tidur setiap bangun pagi dan mencuci tempat makannya sendiri sepulang sekolah. Catatan penting: rutin. 

Sebelum bos besar datang, saya menghabiskan waktu tiga sampai enam bulan supaya bos kecil tau artinya rutin: tanpa diminta, otomatis, tanpa disuruh berulang-ulang, dan segera. Selama tiga sampai enam bulan itu, taulah sendiri kalau emak-emak ngajarin rutinitas: mulai dari ngomel-ngomel, marah-marah, capek mulut – hampir setiap hari supaya si bos kecil terbiasa dengan tugasnya. 

Ketika kebiasaan ini sudah terbentuk, lumayan sih. Bos kecil rutin melakukan tugasnya. Paling nggak sudah dua tahun saya tidak lagi harus marah-marah atau riwil. Praktis begitu lompat bangun tidur pagi-pagi, si bos kecil langsung merapikan tempat tidur. Praktis begitu pulang sekolah, si bos kecil langsung mencuci tempat makannya sendiri. 

Nah, ketika bos besar datang – atas nama ‘sayang’ dan ‘sudah lama tidak ketemu’ dan ‘jarang bisa begini dan begitu untuk Gita’ – jadilah bos besar memanjakan bos kecil, Gita. Jadi, bos besar yang merapikan tempat tidur dan mencuci tempat makan bos kecil. 

Sebenernya, bos besar tinggal nggak lama-lama amat sih. Hanya tiga bulan. TIGA BULAN. 

Setelah bos besar pulang ke Jakarta, saya balik lagi ngarus ngajarin (baca: riwil) supaya bos kecil rutin membersihkan tempat tidur dan mencuci tempat makannya. 

Sekarang, sudah dua bulan setelah bos besar kembali ke Jakarta, bos kecil masih juga susah diajak untuk rutin lagi melakukan dua tugas utamanya. 

Jadi eyang-eyang – waspadalah! Cinta itu kadang-kadang bisa membunuh (baca: merusak). Dan, kasihan dong sama ortu-ortu yang sudah susah payah ngajarin dengan riwil dan galak. Sebenernya, kasian juga si bos kecil. Sekarang ini jadi kayak ‘reply’ – mengalami semua keriwilan, omelan, dan teguran si bos (nggak besar, nggak kecil). Serius deh. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s