Unconditional (love)


Image

Seseorang memberi saya pelajaran berharga tentang anak. Pengalaman yang ia berikan jadi sangat penting, bukan saja karena saya seorang anak. Yang lebih penting adalah, karena saya memiliki anak. Jadi, saya punya dua saluran bolak balik untuk membuat refleksi diri: sebagai anak (korban) dan sebagai orang tua (pelaku kejahatan).

Dari pengalaman teman saya ini, saya baru benar-benar menyadari bahwa anak dilahirkan untuk mencintai orang tua mereka, apapun juga yang terjadi (saya percaya, kalau sampai anak membenci orang tua, pasti kebencian itu dilakukan dengan susah payah).

Teman saya itu pula yang menunjukkan pada saya, bahwa anak-anak adalah mahluk paling pemurah, paing pemaaf, paling setia, paling ‘nrimo’. Yang saya tau, apa pun yang orang tua katakan, lakukan, tunjukan (mau baik kek, jelek kek, jahat kek, menyenangkan kek, menyedihkan kek) – anak-anak akan bekerja keras untuk tetap mencintai orang tua.

Saya juga belajar bahwa, bagi anak – orang tua adalah superstar, idola, rujukan – apalah namanya. Orang tua jadi panutan, bukan hanya untuk hal-hal baik yang secara sadar/tidak sadar kita lakukan, tetapi sayangnya juga hal-hal buruk (dan mengerikan) yang secara tidak sadar kita lakukan.

Ya, saya tau – paling tidak dari pengalaman saya. Ketika saya lelah, ketika saya stres, ketika saya sakit – gampang sekali buat alasan untuk membenarkan teriakan, kekesalan, pahit lidah, jutek, ketus – yang saya lontarkan pada anak saya.

(Dan anak saya tetap mencintai saya – tanpa syarat. Dan saya kesal, lalu marah, lalu kasar, lalu pahit lidah ketika anak saya melakukan hal diluar harapan saya – mengatasnamakan cinta).

Dan betapa sedihnya saya, ketika mendengar teman saya ini bertanya bingung : “Kenapa setiap saya membentak dan memisuh orang-orang yang saya sayangi, mereka berhenti menyayangi saya dan meninggalkan saya? Orang tua saya membentak dan memisuh saya – dan saya tetap mencintai mereka. Saya tidak meninggalkan mereka.

Dan tiba-tiba saya merasa betapa tidak pantasnya saya, mendapat cinta luar biasa besar dari anak saya. Tapi juga merasa betapa mujurnya saya (atau justru apes?) karena sebagai anak, saya dikaruniai kemampuan untuk mencintai orang tua saya, tanpa syarat.

Surga ditelapak kaki ibu? Ayah adalah kepala keluarga? Lalu, anak-anak yang mencintai (orang tua) tanpa syarat – gelarnya apa?

The human race tends to remember the abuses to which it has been subjected rather than the endearments. What’s left of kisses? Wounds, however, leave scars.
― Bertolt Brecht

=====

Gambarnya saya pinjam dari sini 

2 thoughts on “Unconditional (love)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s