Green fairy, is she Tinker Bell?


Green-Fairy-fairies-30361113-377-500

Peringatan: tulisan untuk pembaca dewasa.

Saya bukan peminum alkohol. Sumpah, bukan. Bukannya tidak mau, tapi badan saya memiliki toleransi alkohol yang sangat rendah. Hanya butuh setengah gelas champagne atau sparkling wine untuk membuat kepala saya berkunang-kunang (lalu berjalan miring). Hanya butuh satu gelas minuman yang sama untuk membuat saya muntah-muntah dan hang over.

Pendek kata, tanggal 1 Januari yang lalu seorang teman berulang tahun. Saya diundang makan siang di sebuah resort bersama keluarganya. Setelah makan siang, teman saya tiba-tiba bilang: “Clara, take a shot with me”. Artinya, dia minta ditemani minum alkohol untuk merayakan ulang tahunnya, dan orang yang dipilih untuk menemaninya adalah saya.

@_____@

Teman saya lalu mengajak saya pergi ke bar. Dengan riang, ia meminta bartendernya untuk memberikan dua shot glasses (@ 25ml) untuk diisi apa pun, terserah bartendernya. Green Fairy Absinth Red Dabel. Hanya butuh 10 menit setelah menenggak satu shot glass, saya langsung limbung. Satu jam kemudian, saya muntah. Wow. clear-disposable-plastic-shot-glass-ce-25ml-1344-p

Karena ingin tahu, kemarin saya mencari-cari soal si alkohol ini. Ternyata, oh ternyata. Peri hijau ini adalah sejenis absinthe dengan kandungan alkohol sebesar 70%. (!) Tunggu, itu belum apa-apa. Si peri hijau ini juga mengandung jumlah maksimum thujone yang diperbolehkan dalam minuman alkohol. Thujone adalah zat narkotik (bersifat seperti narkotika) yang berasal dari wormwood (sejenis tumbuhan serupa ganja). Thujone ini yang memberi efek halusinasi kalau minum si peri hijau kebanyakan. Sebenernya sih, bukan cuma halusinasi.

Absinthe dipercaya menyebabkan sindrom yang disebut absinthism (serupa sakit jiwa). Karakter sindrom ini adalah sakau, hyperexcitability, dan halusinasi. Yang paling mengerikan, sindrom ini sifatnya genetis. Artinya, jika kita mengkonsumsi absinthe secara berkala hingga memiliki sindrom absinthism , keturunan kita berpotensi besar memiliki sindrom serupa tanpa harus mengkonsumsi absinthe. Itu sebabnya, karena sifatnya yang berbahaya absinthe yang mengandung thujon dan woodworms sempat dilarang dijual di beberapa negara sampai tahun 1990an.

Yang menarik, para ilmuwan dan seniman rupanya penggemar absinthe. Sebut saja Pablo Picasso, Vincent Van Gogh, Oscar Wilde, Toulouse-Lautrec, Charles Baudelaire dan Edgar Allen Poe juga Ernest Hemingway – sedikit orang ‘terkenal’ yang suka sekali minum si peri hijau ini. Kandungan thujon dan woodworm yang menyebabkan halusinasi, para seniman dan ilmuwan mengkonsumsi absinthe (termasuk si peri hijau), untuk membuat mereka lebih imaginatif, kreatif dan cerdas.

6471280919_328fa01e9b_z

Jangan deh. Jangan mencoba. Begitu saya selesai menenggak, rasanya panasssss sekali. Di perut. Di tenggorokan. Di kantong juga kayaknya (harganya sekitar 15 AUD per 25 ml) – untung dibayarin. 10 menit setelah itu, kepala saya nggliyeng. Satu jam kemudian, yak. PUKED!

Gambar saya pinjam dari sini dan sana. Terimakasih ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s