Bintang jatuh


Beberapa tahun yang lalu, saya keguguran anak pertama saya. Hampir semua orang, kecuali dokter kandungan saya menyalahkan saya. Mereka menduduh saya lalai. Seorang kerabat mengatakan seperti ini: “Ibu macam apa kamu, menjaga anak di dalam kandungan saja nggak bisa. Apalagi kalau menjaga anak beneran.”

Sakit hati, tapi tetap merasa bersalah. Sedih karena dituduh macam-macam.

Jadi, malam itu – begitu pulang dari rumah sakit, saya naik menuju balkon. Seorang lain yang dekat, mengatakan seperti ini: “Baru keguguran sudah naik-naik tangga. Susah sekali dikasih tau”.

Biar. Karena saya perlu tahu.

Di balkon, di bawah langit malam yang penuh bintang – saya berdoa: “Anakku, aku minta maaf ya. Tuhan, kalau memang anak saya mengerti, dan tidak menyalahkan saya – dan memaafkan saya, tolong dong beri saya tanda. Tanda kalau dia mendengar. Saya ingin melihat bintang jatuh.”

Begitu saya selesai mengucapkan doa, saya melihat bintang jatuh. Besar sekali. Melintas tepat di depan mata saya. Cahayanya terang dan besar. Rasanya dekat sekali.

Dan hari itu saya belajar, orang boleh menuduh kita apa saja – terserah. Tidak perlu bersedih. Tuhan maha penyayang dan maha mengerti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s