Digital Divide


Akhir pekan kemarin saya dan Gita menginap di rumah Nan dan Pop. Pagi setelah sarapan, Pop minta ijin untuk melihat-lihat telpon selular saya. Setelah beberapa menit, Pop berseru: “This is a phone that Nan and I need.” Walaupun jadul, telpon selular saya punya layar sentuh dan keypadnya QWERTY plus stylus.

Lalu Pop cerita, komunikasi dengan anak-anak mereka semakin jarang, terutama saat mereka bepergian. Sementara, setiap kali Pop dan Nan minta dibelikan telpon selular yang ‘bersahabat’ dengan ‘ketuaan’ mereka (baca: layar besar, keypad mudah) – anak-anak mereka selalu ‘mengecilkan’ dengan mengatakan: “Smart phone is to difficult for you to use”

Saya jadi terdiam. Digital divide, mungkin karena kita terlalu egois dan tolol. Smart phone itu apa? Telepon yang membuat kita smart (1), ATAU, telepon untuk orang yang smart? (2). Kalau logika pertama yang berlaku (1), kenapa kita tidak memberdayakan orang-orang seperti Pop dan Nan smart phone, supaya smart phone memberi pencerahan (kan pintar). Kalau logika kedua yang berlaku (2), kenapa kita malas membagi ilmu kita pada orang seperti Pop dan Nan. Kan setelah smart?

Dan orang-orang smart hanya akan berkomunikasi dengan orang-orang smart lain yang sama-sama menggunakan smart phone. Dan orang-orang yang lain, seperti Nan dan Pop – semakin tersisihkan. Karena kita, yang smart ini, males ngajarin pakai smart phone.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s