Gusti Allah


Satu minggu ini saya mencari konsep tentang ‘budaya guyub’ (mungkin istilah ‘mangan ora mangan asal ngumpul’ lebih terkenal, ya). Karenanya seminggu ini saya membaca banyak buku tentang studi mengenai ‘filosofi bangsa dan masyarakat Indonesia’.

Saya membaca bukunya Clifford Geertz (1960). Juga bukunya Koentjaraningrat (1997). Lalu bukunya Fuad Hasan (2004).

Dan, ya ampun. Buku-buku itu memang kuno, jauh tahun dan popularitas dibanding buku-buku yang sebelumnya saya baca – yang kebanyakan keluaran tahun 2010an dan semuanya tentang yang maha modern, internet.

Tapi, isi buku-buku itu. Ya ampun.

Clifford Geertz, misalnya. Ia mengambil konsepsi ‘ketuhanan’ dalam tiga lapis masyarakat yang berbeda: abangan, priyayi dan santri.

Dengan indahnya, Geertz ‘menerjemahkan’ bahwa tiga lapis masyarakat yang berbeda ini, mereka sebenarnya memiliki konsep ‘ketuhanan’ yang sama. Indah. Menenangkan. Damai. Sejuk. Tentram. Nyaman. Suci. Tuhan.

Geertz mengambil contoh mitologi ‘milik’ para abangan: kisah Bima dan Dewa Ruci (Geertz menggunakan kata ganti ‘the little god’ untuk merujuk kosakata ‘dewa’):

“The little god says ‘Enter me;’ and Bima does, through the mouth, the big man entering the little. Inside, he sees that the whole world is there, contained inside the little god” (Geertz 1960:274.)

Kisah Bima dan Dewa Ruci ini menggambarkan kepercayaan para abangan bahwa tuhan ada dimana-mana di dunia ini (konsep utama pantheisme).

Lalu, Geertz membandingkan dengan keimanan para priyayi, yang melihat tuhan sebagai yang esa (monistic):

“If god is everywhere in the world, then he is in you too, and you must look into yourself and see the world there, and then you will have the power you seek” (G. 1960:274.)

Dalam pandangan monistic, tuhan adalah yang maha tunggal, karenanya ia berada dalam setiap benda di dunia ini – termasuk di dalam manusia.

Sementara, mereka yang santri, melihat tuhan sebagai yang maha

“Before the power and majesty of God all men are as nothing (G. 1960: 129).

Dalam pandangan para santri, “tanpa tuhan, manusia tiada. Karena tuhan adalah yang maha kuasa”. Tentu, tanpa tuhan – dunia tidak ada, dan dunia tidak ada. Tidak ada gunung. Tidak ada pohon. Tidak ada hutan. Tidak ada lautan. Tidak ada saya.

Dan, saya terdiam. Betapa indahnya padangan tentang tuhan dalam setiap masyarakat yang bahkan berbeda-beda (abangan, priyayi, santri). Lalu, kalian masih saja berpendapat tuhan kalian lebih indah daripada tuhan saya?

2 thoughts on “Gusti Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s