(A)theist


Kemarin, alih-alih mengerjakan thesis, saya membaca banyak hal tentang atheism.

Awalnya, karena membaca kuliah anti bahlul tentang atheism, yang membuat saya sadar – betapa terbatasnya pengetahuan saya.

Selama ini, saya merasa ‘wajar’ kalau ada orang yang memisuh ‘kayak atheist ajah’ – untuk berkomentar terhadap tindakan yang amoral.

Salah. Salah. Salah besar.

Atheisme – memang tidak mempercayai Tuhan, tetapi bukan berarti tidak bermoral (baik). Sebaliknya, orang-orang yang menganut paham ini menjadikan penilaian moral mereka sebagai panduan hidup. Tidak peduli ada agama atau tidak. Tidak peduli ada tuhan atau tidak.

Gampangnya gini, kalau orang-orang yang beragama dan mengakui tuhan, melegalkan tindakan ‘amoral’ seperti pembunuhan, pengerusakan, membuat orang lain susah – atas nama agama dan tuhan (alasan paling sering: membela agama dan tuhan) – maka, mereka yang ‘beragama’ atheist tidak melakukan hal tersebut atas dasar: itu tindakan amoral. Apapun alasannya.

Mereka percaya, setiap manusia memiliki penilaian moral tentang apa yang pantas, apa yang jahat, apa yang tidak pantas, apa yang baik – dan, agama dan tuhan (sebaiknya) tidak terlibat/dilibatkan dalam penilaian moral seseorang.

Perbuatan ‘wajib’ dilakukan – tanpa iming-iming surga/neraka, disayang/dibenci tuhan, sesuai/tidak sesuai agama.

Dan saya sadar, betapa bahlul saya ini. Dan betapa terbatasnya pengetahuan saya. Dan sadar, ketika pengetahuan kita terbatas, mudah sekali menghakimi orang lain/situasi lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s