Bawang


Belakangan saya percaya dan mempraktikan naturopathy, dan saya mulai mengajak Gita.

Ternyata susah-susah gampang, terutama di bagian ‘asupan herbal’. Misalnya, susah sekali membujuk Gita mau minum teh herbal: cengkih, sereh dan madu (akhirnya, porsinya saya kecilkan, tapi disajikan tiap satu jam).

Tadi malam, Gita batuk-batuk, padahal saya sudah membalurkan minyak kayu putih dan ‘sejenis’ balsam’ ke tubuh Gita. Kasihan. Padahal, tidur itu penting sekali untuk ‘memberi kesempatan’ pada tubuh untuk memperbaiki komponen yang ‘sakit’.

Akhirnya, saya menggunakan pilihan terakhir: bawang merah. Bawang merah saya iris halus dan saya ulek. Lalu saya balurkan ke bagian dada, perut, punggung dan telapak kaki. Gita marah-marah karena ‘dingin’ dan ‘bau’. Saya hanya bilang: harus percaya kalau saya berusaha membantu (pake otoritas ‘ibu’ dikit😀 )

Setelah itu – sepanjang malam, batuknya berhenti dan tidurnya nyenyak sekali.

Pagi-pagi, Gita cerita kalau: “Last night, I felt nice. My body felt warm. Even, I took off my socks. But I felt nice. Even I felt warm in my throat, I didn’t feel itchy any more.”

Tadi, sebelum tidur Gita dengan sukarela membiarkan saya membalurkan parutan bawang merah di daerah yang sama. Sekarang, ybs sudah tidur. Nyenyak. Semoga cepat sembuh.

4 thoughts on “Bawang

  1. Naturopathy itu ada sejak dari dulu di nusantara. Di Bali ada yang namanya kitab “Taru Premana”, it’s nice, but long lost in time. Saya dulu punya salinannya, tapi sepertinya sudah musnah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s