CIRCUMCISION a.k.a SUNAT


Pemerintah German mengeluarkan aturan baru. Ini beritanya. Sekilas aturan ini seperti aturan larangan sunat.

Bukan, bukan larangan. Kalau Anda membaca aturan ini pelan-pelan, aturannya bukan larangan sunat, melainkan ‘penangguhan’ sunat.

Ada beberapa hal penting untuk digarisbawahi.

Pertama, larangan ini tidak berkaitan dengan agama tertentu. Jadi, kalau ada orang yang melihat aturan pemerintah Jerman ini sebagai tindakan ‘membenci Islam’, misalnya, salah besar. Di Jerman, paling tidak ada dua agama yang memprotes keras aturan baru ini: Islam dan Yahudi, karena sunat adalah ritual keagamaan yang penting.

Kedua, aturan ini sebenarnya bukan ‘larangan’ tapi penangguhan. Dari sudut pandang ‘kebebasan beragama’ tindakan sunat dianggap ‘memaksakan kehendak orang tua kepada anak’ untuk memeluk agama tertentu. Nah, karena sunat dianggap sebagai ‘tindakan yang akibatnya tidak bisa dikembalikan’ – pemerintah German melarang untuk melakukan sunat ketika si anak masih kecil dan belum dapat memilih secara sadar. Kalau mungkin ada yang berdalih ‘kenapa kok babtis bayi juga nggak dilarang?’ – perkiraan saya adalah: karena babtis tidak berdampak pada perubahan biologis seseorang. Nah, jadi sebenarnya yang dilarang bukan ‘sunat’-nya, tapi tindakan yang dilihat sebagai ‘pelanggaran kebebasan beragama’ – dengan cara ‘menangguhkan sunat’ (baca: pelarangan sunat pada anak yand dianggap belum bisa memilih secara sadar’)

Pemerintah Jerman jelas tidak melihat ‘sunat’ sebagai ‘tindakan untuk menjaga kesehatan alat kelamin’. Karena, seperti di Indonesia, misalnya, yang sunat dari bayi bukan hanya pemeluk agama Islam. Tapi hampir semua laki-laki – atas nama: kebersihan alat kelamin.

Saya, misalnya, atas dasar keingintahuan yang sangat besar – selalu punya pertanyaan wajib untuk semua teman laki-laki saya yang bukan asia (baca: bule) di Australia dan Canada: “kamu disunat apa nggak”. Selama ini, jawaban standard yang saya dapat: “Iya, saya disunat”. Pertanyaa kedua: “Disunat atau menyunat?” – jawaban standard yang saya dapat: “disunat, ortu yang nyunat”. Kalau ingin tahu, teman-teman saya ini punya latar belakang ‘agama’ yang berbeda: ada yang atheist, ada yang yahudi, ada yang kristen, ada yang agnostik. Umur mereka pun kisarannya beragam, dari 20-an tahun sampai 50-an tahun. Pertanyaan berikutnya adalah “kenapa?” – jawaban standard berikutnya: “kesehatan”.

Artinya, sunat sebenarnya kan bukan ‘hanya’ urusan agama, melainkan juga ‘kebersihan’. Sunat laki-laki punya alasan ‘kesehatan’ juga, selain ‘agama’ (Ini ada hubungannya dengan ‘struktur’ alat kelamin laki-laki).

Ya, orang punya sudut pandang sendiri-sendiri. Saya pribadi, lebih setuju kalau – sunat perempuan yang di ilegalkan. Pemerintah Jerman, dalah hal ini, tidak menspesifikasikan sunat. Artinya: aturan penangguhan sunat itu untuk kedua jenis kelamin.

6 thoughts on “CIRCUMCISION a.k.a SUNAT

  1. Sulit juga sih, meski mungkin memiliki tujuan untuk mengembangkan kesadaran lebih awal, namun biasanya orang tua tidak akan rela anaknya memilih agama yang berbeda dari yang ada di keluarga generasi sebelumnya.

    Meski ada yang mungkin tidak, namun tampaknya agama adalah sesuatu yang diwariskan pada generasi setelahnya. Jika tidak, mungkin sudah habis agama di dunia ini.

  2. @ Cahya, agree. Tp soal sunat ini emang agak lucu. Temenku (perempuan) dg nada defensif (baca: marah) wkt aku tanya anak laki2nya disunat atau tidak. DIa bilang: Tuhan sudah memberikan ‘daging’ disitu, ngapain dipotong2? Tuhan udah ngasih gitu kok, mau diotak-atik. Tapi, ketika aku tanya: ‘loh, tp kamu membiarkan anakmu menindik kupingnya dan membuat tatoo’ – Tuhan nggak kasih, kok kamu berinisiatif sendiri😀

    *iya, dia tambah marah sama aku awahahahh*

  3. paragraf terakhir ya kenapa harus di ilegalkan ? terkait masalah struktur kelamin juga kah ? #dibahas

    kalo ada larangan2 ajaib gitu emang jadinya terkesan aneh sih ya

  4. Iya. Karena struktur kelamin perempuan dan laki2 beda, Mas. Dan alasannya kan juga beda. Kalau laki-laki untuk kebersihan, kalau sunat perempuan alasannya adalah: “supaya perempuan tidak liar secara seksual”🙂 Padahal, yang ‘liar secara seksual’ – secara biologis itu adalah alat kelamin laki2. Ketika terstimulasi, langsung ‘aktif’ dan secara biologis terlihat dg jelas. Gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s