God (damn) Particle


Saya habis baca-baca tentang “Apa Manfaat Penemuan “Partikel Tuhan”?” Bukannya tambah pinter, yang ada saya ngakak-ngakak.

Kebanyakan orang yang menuliskan komen mempermasalahkan nama ‘God Particle’ atau ‘Partikel Tuhan’. Beberapa orang, nggak rela science ‘membawa-bawa’ nama Tuhan. Pertanyaan polos macam ‘kalau partikelnya disebut partikel Tuhan, yang menciptakan partikel Tuhan siapa? Masak Tuhan menciptakan Tuhan?’

Jadi inget “masa jeruk makan jeruk”😀

Kenapa Tuhan disebut Tuhan? Atau God? Atau Der Gott? Kenapa Der Gott? Kenapa bukan Die Gott atau Das Gott? Kenapa Rambut namanya rambut? Kenapa bukan bulu? Kenapa orang nyanyi: “Kepala pundak lutut kaki lutut kaki” sambil menyentuh (pertama) kepala, lalu (kedua) pundak, lalu (ketiga) lutut, lalu (keempat) kaki, lalu (kelima) lutut, dan terakhir (keenam) kaki?

Kenapa waktu menyanyi “Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki” – bukan menyentuh (pertama) perut, lalu (kedua) hidung, lalu (ketiga) gigi, lalu (keempat) betis, lalu (kelima) gigi, dan lalu (keenam) betis?

Kenapa? Jawabannya karena udah dari sananya! Yang namanya kepala itu ya (tunjuk kepalamu!), dan yang namanya pundak itu ya (tunjuk pundakmu!), dan yang namanya lutut itu ya (tunjuk lututmu!), dan yang namanya kaki ya, (tunjuk kakimu!).

Siapa yang nentuin kalau (tunjuk kepala) itu disebut ‘kepala?’, kenapa bukan disebut ‘jengkol’?

Arbitrer. Suka-suka. Kenapa yang maha kuasa disebut Tuhan? Samalah, suka-suka. Tapi kata itu jadi ‘suci’ karena mengacu pada pada yang ‘kuasa’, yang ‘maha’. Sama, suka-suka yang memberi nama, mau diberi nama apa partikel itu.

Sebenernya sama, ‘Partikel Tuhan’ pun bisa ‘dibaca’ dengan berbeda-beda. Ya kan?
Partikel (pembuat) Tuhan, atau Partikel (buatan) Tuhan, atau Partikel (pembentuk) Tuhan, atau Partikel (dari mana) Tuhan (?) atau Partikel (punya) Tuhan atau Partikel (apa ya) Tuhan (?).

Kalau sudah, buru-buru komen. Nggak mikir dulu, sampai-sampai ‘Tuhan’ yang ‘dibela mati-matian’ dikatain ‘sok tau’

2 thoughts on “God (damn) Particle

  1. Ha ha…, “What’s in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet” – Orang hanya tidak paham, dan ketidakpahaman itu kadang menggelikan, apalagi kalau diingatkan justru semakin tidak paham.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s