Your IQ is how many followers you have


Untuk Mariana.

Plato, pernah ‘meramalkan’ dalam ‘Thoth in Phaedrus’ bahwa ‘teknologi’ tulisan akan menghancurkan budaya oral, termasuk pengetahuan yang lahir dari diskusi dalam komunitas-komunitas lokal. Buku, tempat manusia merekam pengetahuan, menjadikan pendidikan terasing. Pendidikan mengubah ‘ilmu’ menjadi ‘dingin’ dan tanpa ‘jiwa’. Soliter dan angkuh.

Elizabeth Eisenstein, seorang sejarawan ‘menuduh’ budaya tulisan ‘membunuh’ diskusi dalam komunitas-komunitas lokal. Setelah ada surat kabar, misalnya – orang lebih suka membaca di rumah ketimbang berdiskusi dengan tetangga.

Ketika internet datang ke Indonesia, David Hill dan Merlyna Lim, misalnya – percaya akan mendatangkan kebaikan. Mmelepaskan orang Indonesia ‘dari kebodohan’ akibat ‘dibatasi’ akses terhadap ‘pengetahuan’ oleh Suharto. Ada benarnya. Setelah ada internet, orang dapat ‘mencari’ informasi, hampir tanpa batas. Bandingkan dengan jaman Suharto dulu, ketika ngomong vulgar sedikit langsung dibredel atau diciduk. Ya, internet punya andil besar membuka jendela pada dunia luar.

Setelah jamannya Web 2.0 – internet bukan lagi hanya menawarkan kebebasan mengakses infomasi, tapi juga menawarkan kebebasan untuk ‘membuat’ informasi.

Seorang teman mengeluhkan, orang jaman sekarang lebih percaya sama orang yang pengikutnya di Facebook dan Twitter banyak, ketimbang percaya pada profesor yang lulus dari universitas (tapi nggak punya akun Twitter dan Facebook). Media tradisional seperti televisi dan radio lebih memilih mengundang narasumber yang ‘terkenal’ di Facebook dan Twitter – ketimbang mengundang pakar yang mengantongi ijasah dari universitas bagus.

Plato tidak pernah mengira kalau di masa datang budaya tulisan itu ‘dekat’ dengan budaya oral alias ‘cuap-cuap’. Mungkin lebih tidak mengira lagi, karena budaya oral lingkupnya bukan sekadar ‘komunitas lokal’ tapi sudah di ranah publik. Tinggal beli telepon selular yang murah, buat akun Twitter atau Facebook, dan bisa ngetwit dan nge-facebook sepuasnya (kalau pas beruntung dapat pake hemat dari provider).

Asal pengikutnya banyak, asal mayoritas – lalu cuap-cuap, apa yang diomongin juga langsung dipercaya. Nggak perlu ijasah, nggak perlu tau lulus SD apa nggak – yang penting: pengikut di Facebook dan Twitternya banyak, terus sering update status.

Ya, Web 2.0 menjadikan ‘pengetahuan’ tidak lagi terasing dan dingin – karena ada di ruang publik dan dibicarakan rame-rame. Tapi, pengetahuan jadi ‘brutal’ dan ‘tak tentu arahnya’. Orang dengan mudahnya menyesatkan orang lain, dan orang dengan mudahnya percaya (membaca 140 karakter memang lebih mudah dan nyaman dari pada membaca buku teks yang 200-an halaman dan kadang pake bahasa Inggris). Nggak heran kalau ada orang yang nekat menjual akun twitter dan facebook dengan harga tinggi karena sudah punya banyak pengikut.

Hai para pakar dan profesor, ayo jangan ketinggalan. Segera buat akun Facebook dan Twitter, ayo ikut ‘cuap-cuap’, supaya pengetahuan tidak tersesat.

===========

Life is funny, baby, and that’s no joke ~ Rachel Cohn

5 thoughts on “Your IQ is how many followers you have

  1. masalahnya adalah, punya atau nyaman dengan aliran data yg dihasilkan dari social media itu adalah pilihan, dan masih ada yg memilih cara yg konvensional untuk berbagi dan mencari ilmu, karena kadang ya biasnya jg ga ketulungan seperti uraian diatas,

    ya semoga himbauan ini didengarkan paling tidakk oleh kolega2 sampeyan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s