Behind every veil

Tadi malam sebelum nonton Master Chef Australia, saya nonton berita. Program feature-nya , Behind the Veil menampilkan perempuan ‘berkerudung’ di Australi. Saya kasih tanda ‘…’ untuk kata berkerudung, karena perempuan-perempuan yang diwawancara bukan hanya yang mengenakan hijab, tapi juga yang mengenakan burqa.

Ada dua hal yang menarik buat saya.

Yang pertama adalah argumen dua perempuan untuk alasan mereka memilih menggunakan kerudung (yang seorang berhijab, yang lain berburqa):

There is, being in the beauty industry, and going and meeting, so many different women, there is so much pressure on women in society, with botox and liposuction and their appearance all the time, for society to accept them. And I don’t believe a woman’s body or a woman’s charms should be used for her to gain acceptance and recognition in society.

I like the fact that I can walk throughout society without men looking at me….Cheese and spinach… And it gives me control over who I show my beauty to and who I don’t. I like the fact that I am free from the slavery of having to follow trends and fashions and what society’s perceptions of how a woman should look like. I’m freed from all of that.

Yang kedua adalah tentang pernyataan mengenai hubungan antara ‘pilihan bebas’ dan ‘perasaan’.

So why shouldn’t men have to cover up?
Because women don’t have to cover either, it’s just a personal choice.
I feel liberated and I’m not saying being covered is being liberated but that’s how I feel.

Saya tidak akan membahas pernyataan lain – yang tidak mampu saya cerna dengan akal yang saya punya. TAPI, pernyatan perempuan yang saya kutip di atas, menggetarkan hati saya.

Rasanya, saya pernah menulis di sini – ketika kita berani menyatakan ‘jilbab (mungkin) bentuk penindasan terhadap perempuan’, mestinya kita juga berani menyatakan ‘make up dan trend mode juga (mungkin) bentuk penindasan terhadap perempuan’ – atau mungkin juga menyatakan ‘menjadi ibu rumah tangga juga (mungkin) bentuk penindasan tehadap perempuan’.

Kita memutuskan bukan dari materinya (jilbab/make up/menjadi ibu rumah tangga). Tapi kita menanyakan pada yang menjalankan. Tidak ada yang harus. “It is just a personal choice. I feel liberated and I am not saying being covered is being liberated but that’s how I feel“.

Dan saya suka sekali dengan cara Ibu Anisa menerangkan “pilihan bebas’nya untuk mengenakan hijab:

I studied the life of the Prophet and when you study the life of someone, or you fall in love with someone, it’s like a hero. You want to duplicate what they did or what they had in their life. It’s like people who love, I don’t know, Justin Bieber, you know, the boys are out there to copy Justin Bieber. But for us it was to duplicate the life of the prophet Muhammad.

Dan demikian pula dengan saya. Saya tidak mengenakan kerudung. Saya tidak mengenakan make up. Saya tidak mengikuti mode. Saya mengenakan pakaian yang saya suka. Karena, saya memutuskan pilihan bebas saya. Dan saya tidak melontarkan kecaman apapun untuk pilihan bebasmu. Jadi jangan melontarkan kecaman apapun untuk pilihan bebas saya.

Oh, I am duplicating nothing but a thing I call: peaceableness.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in: Logo

You are commenting using your account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )


Connecting to %s