Maaf Pak Guru


Beberapa bulan ini, saya merasa terbebani sekali dengan proses penulisan disertasi saya. ***keluh***
Terutama, karena saya merasa semua yang lakukan salah, kurang, nggak sempurna, nggak berkualitas.
Apa pun yang saya kerjakan, pasti dikritik habis-habisan oleh profesor saya. Kritik yang terus-terusan membuat rasa percaya diri saya menghilang sama sekali. Sampai-sampai, ada satu masa saya sadar – setiap ngomong berhadap-hadapan muka dengan profesor saya itu , otak rasanya beku karena udah takut bakalan dikritik dan disalahin. Semua kata ada di otak saya tapi nggak bisa keluar. Kayak orang gagu. Sampai-sampai profesor saya bilang: “Makin hari kok bahasa Inggrismu makin jelek aja.” DYAR!

(Saya nggak nyalahin profesor saya kalau sampai berpandapat gitu. Jangankan ngomong, mikir aja saya nggak bisa. Pokoknya kalau udah ngeliat profesor saya, saya rasanya mati kutu. Brain dead.)

Sekarang kondisinya jauh lebih baik. Jauh.Lebih.Baik. Saya mulai pulih dari brain dead. Saya sudah mulai bisa lagi membangun argumen. Saya bisa menulis panjang lebar dan mendapat pujian di sana sini untuk poin-poin argumen yang saya bangun.

Tapi, bahkan sampai bulan lalu – rasa tidak suka saya pada profesor saya masih ada. Beberapa kali saya menemukan diri saya bercerita pada orang lain dengan nada mengolok-olok dan marah dan tidak suka – mengarah pada rasa benci.

Hari ini, saya mendapat email dari profesor saya. Selesai membaca, saya langsung menangis. Saya merasa bersalah sekali sudah berpikir sedemikian buruk dan negatifnya pada profesor saya ini. Benar-benar merasa bersalah, sampai-sampai saya bisa memanggil kembali semua ingatan baik tentang orang ini. Seharian sambil terus mengetik, entah kenapa – hanya profesor saya ini yang saya pikirkan.

Kadang apa yang dilakukan seorang guru membuat kita kesal, marah dan sakit hati setengah mati. Tapi, percaya deh. Guru yang baik itu dapat melihat dengan jelas apa kebutuhan muridnya dan dengan penuh dengan optimisme tahu bahwa dibawah asuhannya, muridnya bisa melakukan hal-hal yang bahkan si murid tidak percaya kalau bisa melakukannya.

Dari awal, sebenarnya saya sudah tahu kenapa saya memilih orang ini untuk menjadi guru saya.
Hormat, dan maaf Pak Guru.

5 thoughts on “Maaf Pak Guru

  1. We are learn to be a learner, so we are not become a teacher, but a helper to other so they are capable of becoming a good learner, aren’t we?🙂.

  2. Great! Salam hormat buat pak Guru
    Eh btw mbak, jadi temenku yang sejam sebelumnya disemprot abis2an ama dosennya pas bimbingan, sesudah diperbaiki dia mesti konsul lagi. Pas nunggu itu dosen, dia SMS ngomel2, BT ama bosnya… maksudnya ditujukan ke gue, tau-taunya otak dia hang, dia kirim ke dosennya ituuuu :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s