Aside
0

Dari kemarin saya membaca beberapa postingan tentang praktik berbahasa di Indonesia.

Saya tertarik dengan diskusi di blognya Citra Rahman mengenai bahasa Aceh Indonesia vs bahasa gaul, yang sering dikira nama lainnya bahasa Jakarta atau berasal dari Jakarta.

Yang saya tahu, dunia akademis membedakan antara bahasa gaul dan bahasa Jakarta (beda lagi dengan bahasa Betawi).

Dalam bahasa Inggris, bahasa Jakarta diterjemahkan Jakartan Indonesian. Istilah ini serupa dengan terminologinya Citra: Aceh Indonesia. Sementara dalam bahasa Inggris bahasa gaul itu diterjemahkan sebagai gaul language atau the language of sociability. Ada beberapa ilmuwan sosial yang membedakan bahasa gaul dengan bahasa prokem. Menurut saya memang beda sih. Lain kali saja saya buat postingannya🙂

Nah, ini yang penting. Bahasa gaul bukan milik (orang) Jakarta karena diadopsi dari banyak bahasa, baik bahasa daerah maupun bahasa asing dan dipraktikan oleh kebanyakan anak muda di Indonesia.

Bahasa gaul sering dikonotasikan sama dengan bahasa Jakarta atau dikira milik orang Jakarta karena posisi ekonomi politik Jakarta sebagai ibukota negara. Karena posisinya itu, Jakarta ketiban untung jadi pusat industri media. Industri media inilah yang mempopulerkan (dan kadang menciptakan) bahasa gaul.

Nah, orang-orang yang tinggal di Jakarta, yang dari dulu jadi pihak pertama yang menerima kreatifitas media membuat kosakata gaul. Jadi, ada kesan orang Jakarta yang membuat bahasa gaul. Padahal, kabanyakan dari mereka hanya membantu mempopulerkan lewat percakapan sehari-hari.

Lalu kenapa kok bisa populer. Lagi-lagi karena posisi politik, ekonomi dan budaya Jakarta sebagai ibu kota. Karena posisinya, Jakarta jadi pintu pertama dan utama yang menghubungkan Indonesia dengan dunia luar, kebanyakan dengan budaya Barat (lewat film, lewat buku, lewat restoran, lewat hotel, dan lainnya). Sehingga, apa pun yang dipopulerkan oleh Jakarta dianggap moderen (dan hebat). Padahal belum tentu.

Lagian, membantu mempopulerkan tidak berarti menciptakan, kan? Lagi pula, di tiap daerah pati ada kok bahasa gaulnya. Bergaul itu kan kemerdekaan setiap orang. Kita saja yang membiarkan bahasa gaul yang dipakai “orang-orang Jakarta” ketika bergaul membungkam kita untuk mempopulerkan bahasa gaul kita. Padahal, cara bergaul itu sangat berbeda di satu budaya dan budaya yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s