Baby-blues syndrome


Beberapa waktu yang lalu, seorang teman perempuan menulis pada lini twitternya: “makin takut punya anak” – ini berkaitan dengan baby-blues syndrome yang (mungkin) habis didengar/didiskusikan.

Walaupun, sebelum hamil sempat membuat tulisan untuk makalah tugas s2 tentang baby-blues syndrome ini, pas hamil saya sempat ‘terjangkit’ juga. Kesian.

Ada yang bilang baby-blues syndrome ini gegara hormon yang tidak seimbang setelah melahirkan.

Salah.

Buktinya kalau salah?

Ada kok baby-blues syndrome yang berjalan tahunan sampai yang menderita bunuh diri. Kalau memang baby-blues syndrome ini gara-gara hormon yang belum stabil setelah melahirkan, kenapa juga nggak pulih-pulih?

Menurut saya sih, peran ketidakseimbangan hormon dalam kasus baby-blues syndrom itu nggak signifikan sama sekali. Yang paling signifikan untuk dituduh sebagai penyebab adalah … ya, masyarakat. Iya, orang-orang di sekitar kita, perempuan yang habis melahirkan.

Saat hamil menurut saya adalah saat yang menyenangkan bagi kebanyakan perempuan (catatan: tidak semua). Orang-orang disekitar perempuan yang hamil rata-rata memanjakan mereka. Perempuan hamil diberi perhatian khusus. Jangan ini, jangan itu, saya temenin ya, saya ambilin ya. Jangan capek, jangan tidur malam-malam, makan yang enak ya, makan yang sehat ya.

Hari melahirkan pun hari yang menyenangkan bagi rata-rata perempuan. Teman-teman berkunjung, saudara dan handai tolan menengok. Tidak lupa pujian-pujian, doa-doa, dan hadiah-hadiah. Tamu mengalir tidak henti-hentinya. Kita tidak kesepian.

Tapi, coba deh. Satu bulan atau dua bulan setelah melahirkan. Semua orang kembali dengan ritme hidupnya sendiri-sendiri. Dan kita, perempuan yang telah melahirkan, ‘wajib’ menjalani ‘tugas’ sebagai ‘ibu’ (baca: orang tua tunggal secara fisik).

Orang mulai memberi kita label-label. Ibu yang baik itu HARUS menyusui dengan ASI (Tidak boleh tidak. ASI nggak keluar? NGGAK MUNGKIN!!! COBA LAGI!) Ibu yang baik itu harus mengurus anaknya yang masih bayi di rumah (HAH? KE MALL??? Masih bayi kok udah diajak ke mall!) Ibu yang baik itu mengurus anaknya sendiri tanpa bantuan pembantu/baby sitter (Anaknya anak siapa? Anak baby sitter????)

Dan banyak suami yang lupa, anak yang baru lahir itu adalah anak ibu dan ayah, suami dan istri (LOHHHH!!! Saya kan sudah mencari uang!!! Seharian di kantor, masak pulang ke rumah masih harus mengurus anak bayi?? Capek tauk!) Lupa, bahwa jadi ibu dengan anak bayi itu kerja 24 jam. Tanpa coffee break. Tanpa lunch break. Tanpa teman. Tanpa diskusi. Tanpa baju kantor yang cantik. Tanpa peningkatan karir. Tanpa gaji.

Dan ibu yang baik tidak boleh mengeluh. Dan ibu yang baik berkorban (karir, pertemanan, hiburan, sendirian). Dan ibu yang baik mengabdikan jiwa dan raganya pada anak dan suami. Dan ibu yang baik itu seperti superman, sebisa mungkin ngurus anak sendiri tanpa baby sitter dan pembantu.

Kalau perempuan sadar bahwa kebanyakan masyarakat itu seperti itu. Kalau perempuan siap bahwa suaminya adalah bagian dari masyarakat yang seperti itu. Kalau perempuan bisa memutuskan rasa bersalah karena tidak nurut pada label-label dari masyarakat yang seperti itu.

Tidak akan ada baby blues.

Tapi, lalu apa gunanya suami (dan ayah si bayi)? Apa gunanya keluarga? Apa gunanya tetangga?

Kenapa susah sekali menyayangi perempuan?

2 thoughts on “Baby-blues syndrome

  1. aku juga pernah baca ada Ibu yg mengalami baby blues syndrome sampe bunuh 5orang anaknya😥 kalo hormon yg gak stabil pasca melahirkan itu mungkin namanya PND (Post Natal Depression) ya mbak? *CMIIW*

    Btw, aku udah sering baca tulisan mbak Titut, sering takjub, tapi kayanya ini paling bikin “makjleb” buat aku.. kapan2 boleh aku share ketemen2 ya mbak🙂

  2. Mba Titut🙂 aku salah satu pengunjung setia blog Mba dan selalu baca kalau ada post terbaru.. suka sekali dengan gaya penulisan dan topik yang diangkat.. selalu masuk akal buatku.. aku gak berkomentar apa-apa sih karena pada dasarnya setuju dengan pemikiran Mba.. jadi kalau berkunjung ke blog Mba cuma menikmati tulisan-tulisan di blog ini..

    Mba selalu bisa mengutarakan hal-hal yang aku atau mungkin pembaca lain gak bisa utarakan.. and knowing someone (that is you) can express it very well, is a blissful feeling..

    long story short, untuk 2 post terakhir, aku ijin share ya🙂

    Take care,
    Kate.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s