If I were their parents



Hai teman tersayang,

kemarin saya tidak menulis postingan ke hari 12. Anggep aja saya nggak punya tanggal 12 di kalender saya.

Tapi, dua hari yang lalu saya iseng-iseng nonton Dr. Phil. Edisi dua hari yang lalu tentang ‘extreme parents’. Orang tua pertama adalah seorang ibu yang kaya raya. Ibu ini percaya, dengan memberikan barang-barang mahal, pesta milyardan rupiah, dan fasilitas berkelas untuk anak-anaknya, ia sedang mengajarkan etos ‘kerja keras’. Logikanya, semua kemewahan ini saya dapat karena saya bekerja keras.

Orang tua kedua pasangan suami isteri yang mengajarkan pada anak-anaknya bahwa ‘dunia luar itu kejam, Nak. Jadi tugas kami sedini mungking mengajarkan pada kalian cari menghadapinya’. Jadi, kalau setelah main kartu anak-anaknya kalah, maka ada hukuman, dan biasanya fisik seperti push up/lari/dan lainnya.

Orang tua yang ketiga pasangan suami istri yang memberi dukungan penuh pada putra satu-satunya. Saat ini, putra mereka senang mengenakan gaun dan perhiasan yang biasa dikenakan anak putri. Ketika ditanya: “apa tidak takut mengajarkan nilai yang tidak mengikuti arus utama?” Sang ibu menjawab: “No. Selama anak saya sadar kami mendukung sepenuhnya. Bahkan ketika nanti dia memutuskan untuk mulai mengenakan baju laki-laki. Laki-laki mengenakan pakaian perempuan bukan kesalahan. Masyarakat yang menciptakan label-label ‘feminin’ dan ‘maskulin'”.

Saya pernah membicarakan hal yang mirip dengan seorang teman dekat. “What if”. Kebetulan kami berdua memiliki anak perempuan. Jadi “what if” kami adalah: kalau anak perempuan kami memutuskan untuk menjadi lesbian, kalau anak perempuan kami memutuskan untuk menjadi trans gender laki-laki.

Idealnya, kami berdua sepakat akan membebaskan – walau mungkin ada keputusan-keputusan anak-anak kami, yang tidak sejalan dengan ‘apa yang semestinya’ (selama bukan kejahatan berdasarkan moral). Pasti ada perasaan sakit hati dan sedih dan tidak rela. Dan rasanya, perasaan itu manusiawi.

I don’t know. I am a parent yet a human. But I admire parents those can give a total freedom to their children to be human without giving up their love, as parents.

Dan saya ingat puisinya Gibran, On Children. 

Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.
You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow,
which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them,
but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday

Para orang tua yang diwawancara Dr. Phil, menurut saya – adalah orang tua yang hebat. Salut. Dan saya yakin, kalian para orang tua yang sedang membaca postingan ini juga orang tua yang hebat🙂

Salam sayang.

Gambar keluarga yang lucu itu saya pinjam dari situs Whyalla Campus. Terimakasih ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s