Litter in public spaces



Teman tersayang,

hari ini ngapain aja? Pagi ini saya rencananya mau baca buku dan menulis bab untuk tesis. Tapi perhatian saya jadi bertumpu pada lini massa mengenai kasus tabrakan maut yang menewaskan sembilan (atau delapan) pejalan kaki di daerah Tugu Tani Jakarta Pusat. Akhirnya nggak cuma twitter yang saya tonton, tapi juga berita-berita terkait mengenai kasus ini. Dan, bagaimana orang menanggapinya.

Yang saya liat hari ini ya, manusia moderen menggunakan media bukan hanya untuk mencari berita. Tetapi juga untuk mengungkapkan kekesalan dan, (ini yang paling miris) menyebarkan kebencian dan kemarahan.

Ada pengguna twitter yang menyabarkan akun-akun twitter orang-orang yang diduga ada di dalam mobil penabrak. Jujur saja, saya mikir: untuk apa? Walaupun kalimat twitter hanya berisi bahwa ID yg disebutkan ada di dalam mobil – tanpa nada provokatif.

Saya sudah sejak lama memperhatikan fenomena ini. Bagaimana orang-orang di dunia maya berbagai alamat/identitas online orang-orang yang dianggap ‘musuh bersama’. Ujung-ujungnya apa? Penyerangan secara verbal – walau nonmetion sekalipun. Tapi dibalik itu, saya melihat ada kebencian dan kekerasan yang disebarkan lewat lini massa.

Tapi tidak hanya lini massa twitter. Komentar-komentar di surat kabar online pun – penuh dengan kebencian dan kemarahan – yang seringnya menyimpang jauh dari konteks. Makian yang berkaitan dengan fisik sampai tuduhan “paling juga udah nggak perawan” ada hampir di setiap link yang saya kunjungi.

Entah deh, membisu ketika saya membaca dan mengamatinya. *sigh*

Hari ini, setelah mengamati apa yang terjadi di dunia maya berkaitan tabrakan maut, saya berjanji untuk lebih bijaksana. Saya merasa – bukan hak saya juga untuk membagikan identitas online orang – walaupun, identitas itu terbuka untuk diakses.

Media online (dan media sosial) memang berfungsi untuk memberdayakan pemakai dan menjalin keakraban. Mungkin ada baiknya, fungsi media online (dan media sosial) lebih dimaksimalkan dengan menggunakan dengan bijaksana? Memberdayakan dengan positif?

Why do we kill people for killing people to show that killing is wrong? Why we speak uncaring words to show how uncaring people are? Why we do uncaring behaviour to point someone’s uncaring attitude?

However, I regret and dislike her and her friends uncaring attitude. I swear at her and her friends silently.

Ini pendapat saya. Saya mengerti kalau teman-teman punya pendapat yang jauh berbeda dengan saya.

Selamat berkomunikasi online ya🙂

Salam.

Gambarnya saya pinjam dari sini. Terimakasih ya.

One thought on “Litter in public spaces

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s