Untuk (yang) di(Perempu)-(k)an


(baca: Untuk Perempuan). @ID__One yang mengajarkan pada saya kenapa Perempuan dan bukan Wanita. Perempuan karena yang diper-empu-kan. Empu. Bukan wanita: b(a/e)tina.

Banyak perempuan (dan juga laki-laki) yang lebih senang menjadikan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu: hari untuk menghormati ibu. Tapi, menurut saya – hari ibu mengagungkan rasa keibuan secara berlebihan. Cara seperti ini (untuk mengapresiasi ibu) justru memenjarakan perempuan, secara fisik dan mental. Kenapa? Karena justru laki-laki yang mendefinisikan ‘ibu yang baik’ – bukan perempuan.

Di Indonesia, pemerintah mendefinisikan ibu lewat banyak program: UU Pernikahan 1974 pasal 31 ayat 3, Dharma Wanita dan Dharma Pertiwi, program PKK, program BKKBN, peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Hari Kartini dan Hari Ibu🙂

Lembaga-lembaga itu memastikan perempuan “kembali ke kandang emas” dalam rumah tangga: menjadi istri dan ibu yang baik. Perempuan, sebagai istri, punya ‘tugas mulia’ mendukung karir suami. Perempuan, sebagai ibu, punya ‘tugas mulia’ membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Keduanya adalah tugas mulia perempuan: sebagai istri dan sebagai ibu. Jadi, tugas mulia ini harus jadi prioritas dong. Kan mulia (baca: Nieuwenhuis, 1987)

Karenanya, dalam banyak kasus banyak perempuan menyerahkan hak mereka sebagai manusia tanpa sadar supaya memenuhi gambaran ideal “ibu” dan “istri” yang baik (baca deh Wieringa, 2001. Perempuan ‘ngalah’ dalam hal kerja dan Burke, 2003. Perempuan ‘ngalah’ untuk menggunakan komputer dan internet).

Jadi, jangan heran kalau masih banyak perempuan yang tidak ingin sekolah tinggi, setinggi-tingginya. Sekolah yang tinggi membuka kesempatan besar berkarir untuk perempuan. Karir yang baik artinya: bekerja di ranah publik, bukan di rumah (lihat lagi UU Perkawinan 1974 pasal 31 ayat 3). Kebanyakan perempuan yang memilih untuk memiliki karir bagus, harus kerja keras ngejar target setoran: sibuk di kantor, sibuk di rumah, sibuk di ranjang.

Yang paling mengerikan – dogma ‘ibu yang baik’ ini – melegitimasi orang (baik perempuan maupun laki-laki) untuk memberikan stigma-stigma tertentu bagi perempuan yang tidak sesuai dengan definisi ibu yang baik (termasuk perempuan yang memilih tidak menikah, memilih tidak memiliki anak, memilih untuk tidak menyusui, memilih untuk berkarir di luar kota dan meninggalkan anak).

Padahal, mari kita lihat – berapa banyak kantor yang menyediakan tempat penitipan anak? Berapa banyak kantor yang memfasilitasi perempuan untuk memiliki ruang dan waktu pribadi untuk memerah ASI dan menyimpannya dengan cara yang bersih dan sehat? Berapa banyak tempat penitipan anak yang aman, sehat, bersih dan murah? Jika Anda laki-laki seberapa besar kesadaran Anda untuk berbagi tanggung jawab dengan istri/ibu anak Anda untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak?

Ngomong-ngomong, bertahun-tahun yang lalu saya membaca sebuah artikel di majalah wanita tentang penjelasan baby blues syndrome. Penulis artikelnya, seorang psikolog perempuan, mengatakan: baby blues syndrome adalah situasi ‘hormonal’ yang ‘normal’ bagi perempuan setelah melahirkan. Menurut saya sih, nggak ;p Sedikit banyak, definisi ‘ibu yang baik’ punya andil.

By the way, I am a mother of my own definition. I am totally happy.

Saya pinjam gambarnya dari sini.

3 thoughts on “Untuk (yang) di(Perempu)-(k)an

  1. haha.. stigma yang ditanamkan itu… capek deh bahasnya. jadi perempuan memang berat. jadi, stick to your choice, being a happy mother of our own definition :-*

  2. Definisi Ibu yang baik itu relatif…even Ibu saya, dimata saya tetap menjadi “Ibu yang baik” buat saya. Meskipun dari saya kecil sampai saya kuliah, saya melihat ibu saya memilih untuk bekerja. Tapi urusan rumah tangga tidak pernah ia abaikan .

    Soal baby blues syndrome ini, saya pernah bahas topik ini pas siaran, konon katanya ini emang krn “hormonal” si ibu yang habis melahirkan karena “mungkin” salah satu penyebabnya adalah krn tidak ada support dari suami dan keluarga . Ibaratnya masih kaget ngurusin baby, capek ini dan itu..eh si suami gak ikut bantu2.. mijitin istrinya kek, bantu ngurusin urusan rumah tangga kek , dll..katanya sih begitu,
    hehehe, *panjang bener ya komennya* ah, tapi emang saya seneng kok diskusi soal perempuan,…
    salam kenal mbak🙂

  3. aku bersyukur yang dulu ngajarin aku konsep ‘perempuan yang diperempukan’ adalah pak guru bahasa indonesia waktu smp. lagi membayangkan aja, mungkin akan beda nuansanya kalau konsep itu diajarkan ke perempuan oleh perempuan dan oleh laki-laki. barangkali karena penanda kesetaraannya jadi lebih eksis kali ya.

    for that ‘december 22’ part… imho it’ll be more historically relevant if it’s called as women’s day instead of mother’s day. tapi teks sejarah hari ibu yang diperdengarkan di kantor-kantor pemerintah pas upacara 22 des [ouch!] itu emang rancu sih ya… ngomongin indonesian women’s congress yang jadi keluarannya pergerakan perempuan zaman itu tapi dibiasin lagi jadi kayak diselenggarakan di bawah bayang-bayang sumpah pemuda [baca: laki-laki]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s