Kalau Cyberpunk – digundulin juga?


In 1623, Shakespear’s Measure for Measure used the word ‘punk’ to refer to a prostitute (Falk dan Falk, 2005).

Beberapa hari yang lalu membaca laman teman Facebook, Muda Bentara, ada tautan tulisan Azhari Aiyub, “Saya Azhari, Saya Punker: Apa Ada Masalah Besar?”.

Ada beberapa point yang menarik dalam diskusi. Azhari, yang punya tulisan, tegas mengatakan punk adalah sebuah ideologi politik. Beberapa mengatakan gerakan punk itu ‘lawan’ dari pemerintah arus utama. Makanya, kelompok-kelompok punk ini ‘digaruk’ – nggak di Jakarta, nggak di Aceh.

Yang menarik, ada pendapat-pendapat yang mulai melihat persinggungan gerakan punk dengan budaya lokal. Yummy!

secara legal formal boleh jadi mereka tidak bersalah, tapi budaya mereka tidak sesuai dengan budaya dan adat istiadat Aceh. jd wajar saja kalau di aceh, punk tidak dibolehkan, ibarat kata pepatah Lain Lubuk Lain ikan, lain padang lain belalang.

Budaya punk sendiri tumbuh dari rapuhnya pendidikan di rumah tangga, nah gejala rapuhnya pendidikan di rumah tangga bisa berbentuk budaya punk, bisa berbentuk penggunaan narkoba, kebut-kebutan liar, premanisme dan sebagaimana. Nah kalo mau selesaikan punk, maka selesaikan akar masalahnya.

Lalu, saya membaca lini massa-nya @escoret, tentang persinggungan antara punk, Aceh dan Islam:

Saya selalu tertarik dengan diskusi mengenai budaya dalam ranah arus utama vs arus tandingan. Ada dua hal yang menarik. Pertama, kebanyakan orang sibuk hidup di dalam kenyamanan budayanya sendiri. Jadi, kalau ada budaya baru yang berbeda – inginnya langsung memusnahkan budaya yang lebih baru itu (atau minimal ‘sebal’ atau ‘tidak suka’).

Yang di Aceh bilang, budaya punk tidak sesuai dengan budaya Aceh, jadi wajar kalau di Aceh punk dilarang. Lalu orang mengkaitkan khasus penggundulan kelompok punk di Aceh ini disebabkan karena budaya punk tidak sejalan dengan nilai Islam. Loh, tapi di Jakarta (katanya) kelompok punk digaruk juga! Padahal, masyarakat Jakarta kan lebih heterogen? Haha (Lalu nanti ada yang beropini: “Iya, tapi kan mayoritas masyarakat Indonesia itu beragama Islam” atau “Iya, tapi kan budaya punk tidak sesuai dengan nilai-nilai ketimuran“). Padahal, saya masih ingat – beberapa tahun yang lalu membaca buku tentang penolakan terhadap anggota punk disebuah perusahaan di Jerman. Padahal, Jerman bukan negara yang mayoritas penduduknya Islam – dan, jelas-jelas bukan “Timur”.

Loh? Jadi? Lha iya, ini bukan masalah punk itu nggak sesuai dengan nilai-nilai Islam kok. TAPI lebih karena punk itu memang nggak sesuai dengan nilai-nilai budaya arus utama di mana aja🙂

Yang kedua, mereka yang mempraktikan budaya lebih baru kadang tidak sadar bahwa mereka ini ‘ditunggangi’ media. Akibatnya, muncul ‘sempalan-sempalan’ lebih baru lagi yang kadang nilainya jauh berbeda. Azhari dengan tegas bilang: punk adalah sikap politik. Benar, sikap awalnya/aselinya begitu. Tapi, paling tidak mengacu pada Contemporary Youth Culture pada perkembangannya budaya punk di-depolitisasi oleh industri pakaian dan media arus utama. Lho, kok bisa? UUD – ujung-ujungnya duit. Karena sub kebudayaan seperti budaya punk selalu kontroversial. Liat saja berita penggundulan punkers di Aceh. Sudah berapa hari coba dibicarakan dimana-mana? Artinya apa coba? Uang sudah pasti. Masih ingat dengan budaya ALAY? Menyebalkan kan? Tapi berapa industri yang menggunakan bahasa alay untuk beriklan? Pengambil-alihan ini, yang akhirnya melahirkan nilai-nilai baru – di luar kuasa kendali dari niat awal berkembangnya budaya punk.

Diskusi ini jadi tambah menarik karena pada akhirnya budaya punk ini melibatkan ‘remaja’. Padahal, menurut Simonelli (2002) budaya punk ini dikembangkan bukan oleh sembarang remaja, tapi remaja pekerja (working class YOUTH – not adolescent). Remaja (YOUTH) sendiri, pada dasarnya bentuk sub kebudayaan (dari budaya arus utama “dewasa” dan “anak-anak”): youth culture.

Mereka ini mau meniru orang dewasa (udah nggak mau diatur kayak anak kecil), padahal kebanyakan belum bisa bertanggung jawab (kebanyakan kuliah aja masih dibayarin ortu, beli mobil pake duit ortu). Jadi nggak heran kalau remaja mengembangkan nilai-nilai yang beda (baca: labil hahaha). Sama juga dengan punkers ini (kalau punkersnya remaja yang ADOLESCENT, bukan YOUTH) – kebanyakan labil (baca: immature): gampang marah – akhirnya sering tawuran pake senjata tajam, ngobat, ngelem, mabok, dan melakukan tindak kriminalitas.

Lalu, orang jadinya menstereotipekan punker itu anarkis dan kriminal (dan yakin punkers harus dihapuskan). Stereotipe kayak gitu yang membuat punkers macam Luthfi yang masih mengacu pada nilai-nilai aseli budaya punk jadi sebah.

Oh, lalu kalau ada suara seperti ini: “Habis sih, penampilannya aneh gitu!”. Tentu. Pengikut (atau anggota) budaya punk (dan sub kebudayaan lain yang lahir karena berusaha ‘menandingi’ kebudayaan arus utama) JUSTRU ingin terlihat berbeda dari orang kebanyakan (yang dianggap pengikut budaya arus utama). Lha kalau mereka berpenampilan sama, berbahasa sama, dan memiliki nilai yang sama – apa dong bedanya sama pengikut budaya arus utama? Oh!

Padahal, jelas loh. Kalau menurut saya loh ya (baca: my humble opinion) – pemerintah Aceh dan media arus utama itu harusnya jangan terbatas menyoroti “punk” nya ketika menggaruk kelompok punkers di Aceh kemarin. Tapi, lebih menyoroti fakta bahwa kelompok ini membawa senjata tajam, obat terlarang dan miras. Titik. Bukannya lalu bilang para punkers ini sudah diinsafkan. Padahal, coba deh kalian pergi ke pertunjukan musik hidup. Penonton yang nggak punkers juga banyak yang membawa senjata tajam, obat terlarang, dan miras. Seandainya pemerintah tidak membatasi ‘menginsafkan punkers’ (jadinya kan membuat seolah-olah punkers ini sesat) – pasti pemerintah bisa menginsafkan lebih banyak orang (nggak cuma punkers – tapi semua orang yang bawa senjata tajam, obat terlarang dan miras).

Oiya, tau nggak kalau ada juga yang namanya Cyberpunk?

Ps:

Jujur ya – kalau soal tulisannya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad tentang Jamaah Punkyyah – ummm menurut saya Paman ini membahas dari sudut pandang kajiannya: “Penulis adalah peminat kajian Shamans dan Gnosiologi”. Tapi ya menurut saya (lagi-lagi baca: my humble opinion) Paman ini memotong kajiannya. Beliau tidak menyertakan awalnya budaya punkers ini, langsung loncat ke tahun 1990 dan di Pulau Jawa (Indonesia) pulak (baca paragraf pertama ya). Coba deh, baca soal creolization. Juga ketika paman ini bicara soal Jemaah Punk di Australia (lalu mengkaitkan tanpa dasar budaya punk tidak ‘terselesaikan’ karena sikap agnostik kebanyakan masyarakat Australia). Oh.

Gambarnya saya pinjam dari sini.

9 thoughts on “Kalau Cyberpunk – digundulin juga?

  1. Mungkin kalau dari segi pengalaman, saya tidak begitu suka dengan ranah “punk”, tapi bukan bermakna saya membenci ranah itu. Saya suka seorang “punk” yang membantu nenek tua menyeberang jalan, daripada seorang dengan setelan jas rapi nan lengkap di atas mobil sport yang menyipratkan genangan air hujan secara liar pada mereka – pejalan kaki yang malang di pinggiran.

    Saya tidak ahli sosiologi, saya juga tidak banyak mengenal kaum “punk”, jadi saya tidak berhak memberikan justifikasi apapun.

    • punk yg bantuin nenek2 itu bisa diliat sebagai personal (bukan ‘punk’ sebagai identitas kelompok). krn punkers itu lebih ke identitas kelompok. sama alay itu jadi alay kl udah bawa identitas kelompok. walaupun, kl di punkers agak susah ya – krn mereka pake atribut kelompok ketika jadi individu🙂

  2. Ahha, senang baca tulisan ini kak. Di Facebook ku maupun fb teman-teman lainnya, bahasan perihal punk ini masih menjadi perdebatan panjang. Tulisan kakak disini mengulas dengan lugas bagaimana fenomena punk dari kaca mata selain kami, baik kami yang pro dengan penggarukan itu ataupun kami yang tidak pro.

    Sebenarnya, jika ingin melihat kasis pemggarukan anak punk dan pembinaan di SPN Seulawah itu, kisah semuanya berawal dari berita ini : http://news.okezone.com/read/2011/02/09/340/422922/duh-anak-punk-tikam-polisi-syariah-aceh.

    Di berita itu dijelaskan tentang anak punk yang menikam Polisi Wilayatul Hisbah. Atas alasan penikaman itulah pihak polisi bekerjasama dengan satpol PP dan WH merazia anak punk sehingga beberapa dari mereka saat itu dicukur rambutnya. Saat itu banyak LSM dan lembaga HAM yang mendampingi dan mendukung anak punk.

    Setahu aku kak, setelah aksi razia dan pencukuran rambut oleh polisi pada februari itu, para anak punk itu diberi peringatan apabila mereka masih tetap menimbulkan keresahaan, maka polisi akan menindak mereka. Jadi, aksi pembinaan di SPN Seulawah itu adalah bentuk dari tindak lanjut dari peringatan yang sudah diberikan sebelumnya. Dari berita-berita yang aku baca dan pengakuan kawan-kawan yang wartawan, anak punk yang dibina di Seulawah itu cuma dibina saja dan tidak dididik secara militer. Pun mereka tidak dihukum karena punk bukanlah perkara kriminal.

    Thanks atas ulasannya yang bagus kak, membaca tulisan ini dan tulisan di link Punk Muslim itu bikin nambah banyak informasi baru🙂

    • 🙂 karena aku dulu pernah sidang skripsi mahasiswaku tentang dua (atau tiga ya) grup punk yg anti narkoba, anti rokok. semuanya anak2 pintar. mereka tetap punk (rambutnya). ibadahnya lancar, lagu2 itu lebih ke pemberdayaan dan kritik sosial.

      btw, di jakarta anak2 smu yg tawuran dan ketangkep juga digundulin loh. padahal mereka ga punk.

      iya, aku sih bisa ngerti kalau akhirnya punk ini di larang di aceh (kl udah menyangkut miras, benda tajam, drugs) – di mana aja harus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s