OYAYUBIBUNKA


… arti harafiahnya: budaya jempol (thumb culture – Takahashi, 2010). Ini untuk menggambarkan ‘kebiasaan’ baru setelah ‘pager‘ bersama kroni-kroni terbarunya lahir.

Pengguna pager (pager dan kroni-kroni model selanjutnya semacam telpon selular, telpon pintar, lalu telepon tablet) mengembangkan ‘bakat’ untuk berkomunikasi dengan jari, bahkan kadang tanpa perlu melihat keypad lagi. Seolah-olah mereka ini punya mata di ujung-ujung jarinya. Thomas L. Friedman bilang, “It’s really frightening sometimes being on the subway and watching all these people talking on cell phones with their thumbs.” Hahaha

Baru-baru ini ada debat seru di mailing list (milis) yang saya ikuti. Sebagian orang tidak suka, ketika mereka bertemu (kopar) beberapa orang sibuk bergadget ria. Sebagian orang nggak masalah dengan kebiasaan ‘sibuk sendiri bergadget ria’.

Mereka yang tidak suka, bilang gini:

“Sangat amat tergganggu,laah situ mau kopdar ama manusia ama sama gadget…”

“ini kopdar antar manusia kan? bukan dengan HP/Blackberry/iPhone/Android/Laptop/Gadget? :D”

“karna 1. saatnya kita kumpul dan silaturahmi, jadi maksimalkan kesempatan untuk tatap muka, saling bicara 2. apdet pergosipan di lingkungan kita, jadi jgn sibuk sendiri, jadi tau siapa yang kenapa dan bagaimana diantara kita 3.dia akan ketinggalan keseruan yang terjadi….seperti saat ada jokes atau bahkan games 4. kalo memang sibuk yang urus aja dirisendiri”

“kurang menghargai lawan bicara”.

Glotz et al (2005) bilang bahwa dengan telpon rumah (alam bawah sadar) kita menyadari sedang menelpon “tempat”. Artinya, kita tahu bahwa yang menjawab kita bisa siapa saja (yang tinggal di rumah itu). TAPI, dengan telpon selular (alam bawah sadar) kita menyadari sedang menelpon seseorang (yang kita kenal).

Jadi, berkomunikasi secara ‘mobile’ dengan menggunakan gadget – sebenernya, kita tuh secara sadar sedang melakukan komunikasi personal (walaupun kadang komunikasi ini dilakukan dengan mailing list yang jumlahnya lebih dari satu orang).

Nah, terus, kalau memang mau berkomunikasi pakai gadget, ngapain dong dateng kopdar? Michael Hulme dan Anna Truch bilang bahwa pada dasarnya, sejak teknologi gadget berkembang, manusia tuh pingin punya kemampuan “interspace“: bisa ada di rumah, bisa ada di kantor, bisa ada di milis, dan … bisa ada di tempat kopdar. Jadi, interspace ini mungkin kayak sejenis ambisi untuk jadi manusia kloningan.

Artinya apaan? Sebenernya sih orang-orang yang sibuk bergadget ria ketika sedang kopdar itu justru jadi bukti ampuh bahwa alat komunikasi ‘mobile’ itu punya kemampuan untuk menegosiasikan tempat (space) dan waktu (time), juga wilayah publik dan pribadi. Waktunya makan, kita bisa sambil bbm-an sama temen. Waktunya nge-mall, kita bisa sambil buat postingan di blog, waktunya buang air besar, kita bisa sambil YM-an sama rekan bisnis.

Kalau ada yang tanya “situ mau kopdar sama manusia apa kopdar sama gadget” – ya nggak adalah kopdar sama gadget. Gadgetnya kan pasti batere-nya penuh dan ada koneksi internetnya (atau ada pulsa). Jadi, pasti si gadget ini terhubung dengan seseorang nun entah di mana. Jadi, biar yang sibuk bergadget komunikasinya pake jempol dan wajah kita memandang layar – tetep lah: mereka berkomunikasinya sama manusia juga.

Kalau ada yang bilang bahwa bergadget ria ketika sedang kopdar itu tidak sopan. Lalu apa ngobrol dengan rekan bisnis sambil buang air besar itu sopan?

Nah kan?

Jadi, sebenarnya – orang-orang yang sibuk bergadget ketika sedang kopdar itu menandakan ‘budaya komunikasi’ kita sedang (mau) berubah. Bisa berubah – kalau semua orang sepakat untuk kopdar tapi setiap orang sibuk berkomunikasi dengan jari-jarinya. Atau bisa tidak berubah – kalau semua orang sepakat yang namanya kopdar itu untuk ketemu dan berbicara dengan manusia yang berwajah (bukan manusia yang punya layar dan keypad).

Kalau saya loh, saya nggak mau hidup saya didikte sama alat. Alat apa aja. Saya harus jadi pengatur yang punya hak otonomi penuh. Termasuk mengatur prioritas berkomunikasi.

Saat saya bertemu dengan seseorang – komunikasi (dengan orang ybs) jadi prioritas saya. Jadi, ketika saya bertemu dengan orang – semua gadget saya ‘kandang’ di dalam tas. Logikanya, orangnya kan ada di depan mata – ngapain saya pake gadget untuk berkomunikasi dengan ybs? Ngabis-ngabisin pulsa dan beterai aja! Lagian, saya nggak pernah puas tuh dengan gaya poke-poke ala Facebook. Saya sih lebih seneng tunyul-tunyul orang yang beneran.

Berkomunikasi ala budaya jempol – itu kalau untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang nun jauh dimana. Supaya saya dapat memangkas biaya transportasi dan menghemat waktu.

Gambarnya saya pinjam dari sini. Terimakasih ya!

7 thoughts on “OYAYUBIBUNKA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s