Teurimeung Gaseh


Dalam konteks budaya Aceh, aselinya – tidak ada kosakata “terimakasih”.

Menarik ya?

Budaya Aceh berpendapat, tindakan ‘melakukan sesuatu untuk orang lain’ selalu dilandaskan azas ikhlas, tanpa mengharap apa-apa termasuk ucapan terimakasih. Ingat “Tangan yang di atas (tangan yang memberi) lebih baik dari tangan yang di bawah (tangan yang menerima atau meminta)“?

Konsep “memberi” merupakan tindakan aktif, bukan tindakan pasif (memberi setelah diminta).

Waktu saya belajar meditasi, saya belajar tentang konsep “awareness” (or mindful) dan “responsible“. “First, take responsibility for your part of the interaction. Only we are responsible for everything we do, say, or think, or feel.” Termasuk ketika kita memberi/menolong – sebaiknya datang dari kesadaran kita untuk menolong/memberi. Lalu bertanggung jawab terhadap tindakan kita itu. Artinya, karena kita yang berkehendak memberi, ucapan terimakasih itu tidak perlu. Kita bersyukur kalau menerima ucapan ‘terimakasih’. Kita bersyukur kalau tidak menerima ucapan terimakasih (bersyukur karena kita sudah memberi/menolong). Jadi, konsep memberi sebagai tindakan aktif melatih kita untuk peka terhadap orang lain (dia nggak minta, tapi saya tahu dia butuh bantuan/pertolongan) atau justru berhati-hati untuk tidak menolong ‘sembarangan’ (If you know what I mean – in the great context) dan terhadap diri sendiri (saya mau menolong/memberi karena saya mau dan bisa – peduli amat dia mau bilang makasih atau nggak. Atau habis itu mau jahatin saya. Ini mau saya kok, bukan maunya dia).

Itu sebabnya, dalam kosakata aseli bahasa Aceh – tidak ada yang artinya terimakasih. Kalaupun ada, itu modifikasi murni dari bahasa Indonesia: teurimeung gaseh.

Terimakasih untuk Bapak Teuku untuk obrolan dan kursus bahasa Acehnya🙂

Saya lupa gambarnya diambil darimana. Tapi yang jelas, gambar snoopy menari itu bukan milik saya. Terimakasih.
==============================================
All the joy the world contains
Has come through wishing happiness for others.
All the misery the world contains
Has come through wanting pleasure for oneself.
(Shantideva, The Way of the Bodhisattva. Random House, 2008)

One thought on “Teurimeung Gaseh

  1. Oooh historisnya gak ada ucapan terima kasih iku ngene toh..
    Tak kirain karena hal lain…

    Perenungan yg bagus mbak, aku suka ini:
    Jadi, konsep memberi sebagai tindakan aktif melatih kita untuk peka terhadap orang lain (dia nggak minta, tapi saya tahu dia butuh bantuan/pertolongan) atau justru berhati-hati untuk tidak menolong ‘sembarangan’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s