You are what your gadget(s)


Dari dulu, saya merasa tidak pernah jadi orang yang ‘gila gadget’ dalam arti, tiap ada yang (versi) baru, saya langsung beli/ganti.

Rasanya, kalau tidak salah (tolong ingatkan saya), saya jadi pengguna gadget baru versi awal. Maksudnya gini, (tidak termasuk telpon selular versi pertama) saya punya blackberry jaman jebot dulu. Waktu semua orang masih liat saya dengan pandangan aneh waktu saya nenteng2 blackberry ke kelas waktu mengajar. Waktu itu, jumlah pengguna blackberry di universitas saya masih bisa diitung jari. Kayaknya lho, di antara pengajar di departemen saya – hanya saya yang pakai. *Uhuy!*

Tapi, cuma bertahan setahun karena habis itu saya dicuekin sama keluarga saya karena terlalu ‘nyantol’ ke blackberry saya dan nggak mau bersosialisasi. Saya kapok. Saya jual blackberry saya. Sejak itu, saya tidak pernah lagi tertarik untuk beli blackberry.

Jaman smart phone, saya termasuk pengguna pertama juga. Saya punya palm yang bisa nyimpen data mulai dari pdf, powerpoint, microsoft word, dan lain-lain. Belum terhitung fungsinya untuk chatting, kirim email, blutut, pocket iTune, kamera, recording, call/text block, bisa buat ngeblog, twitteran, facebookan, dan segudang lainnya karena bisa donlot software dari internet – gratis.

Ummm palmnya masih saya pakai sampai sekarang. Iya loh. Padahal udah bocel2 nggak keruan. Tapi, semua fungsi masih berjalan dengan baik dan memuaskan. Belum impoten. Batere-nya aja, hanya saya isi ulang tiap dua hari sekali. See? Masih bagus kan? Padahal pernah saya banting sampai luluh lantak (casingnya mencelat kemana-mana) dan ketumpahan kopi sampe pliket ke dalam-dalam.

Yang lucu, ada teman saya di sini – yang senanngggg sekali beli gadget baru. Dia punya iPhone yang dipake untuk sms-an, telponan, dan potret-potretan. WTF? Hahaha bahkan, dia nggak tau cara nyambung ke internet. Nggak tau cara simpan lagu dan mendengarkan lagu. Nggak tahu bahwa dia bisa download software untuk ngeblock mantan suaminya yang suka ngancam dan nyumpah-nyumpah di sms atau di telpon.

Lebih lucu lagi, karena dia selalu mendorong saya untuk membeli telpon selular baru karena palm saya sudah keliatan dekil, dengan bilang: “Yours is very old phone, Clara. Don’t you think you need to buy the new one? Does it still work? It looks like nearly kaput.”

Yeah, you’re right.

Beberapa minggu yang lalu, saya beli iPad2. Alasannya lebih supaya Gita nggak ngerecokin (laptop) saya. Karena kami berdua suka jalan-jalan, sepertinya lebih baik dia punya gadget sendiri yang nggak berat, dan Gita bisa skype-an dengan ayahnya tanpa mengganggu (laptop) saya.

Hari ini kami (saya dan beberapa teman, termasuk teman wanita saya di atas tadi) ngopi. Biasanya, kalau kami ngopi bisa sampe 3 jam. Makanya saya bawa iPad tanpa bermaksud pamer – karena ada kerjaan yang mesti diserahin besok. *serius* Selama yang lain ngobrol, saya nyambi kerja.

Sontak aja loh, dia dan beberapa teman yang lain bilang mau beli. Waktu saya tanya: “buat apa mau beli?” jawaban dua orang dari mereka: “Karena semua orang pakai iPad sekarang”. Seseorang tanya saya: “Kenapa ngga beli yang 64 giga?” – saya tanya: “Buat apaan 64 giga?” – dia bilang: “Buat nonton film”.

Oh. Ok deh.

Ah, nonton film mah kerenan di bioskop kayaknya. Nonton film di iPad mah nggak bisa makan popcorn sambil pegangan tangan gelap-gelapan.

Dan sampai sekarang, saya masih aja bingung sama orang-orang yang entah kenapa kecanduan banget BELI gadget baru, padahal nggak (bisa) pakai semua fitur yang disediakan hanya karena alasan: semua orang punya (dan terlihat keren).

================================

Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed.
(Mohandas K. Gandhi, quoted in E.F. Schumacher, Small Is Beautiful
)

Saya pinjam gambar dari sini. TErimakasih ya.

19 thoughts on “You are what your gadget(s)

  1. kalo kaya gini mendingan Ibu-ku. ga mau dibeliin hp yang aneh2. yang penting bisa buat sms dan telpon. sayang beli yang bisa macem2 tapi ga kepake…

    • Ahahahah samaaaa! aku mending punya hape thok buat sms dan tlp – tapi duit berlimpah, mobil 20, rumah 15, suami ganteng dan baik, berlian, liburan ke luar negeri sebulan sekali. surga.

  2. Ngakak :))
    Kayaknya aku tipenya sama ama dirimu mbak. Biasanya beli generasi pertama terus abis itu ampe bocel ya msh dipake.

    Tp untuk BB aku termnasuk yg lambat pakai krn puas bgt ama hapeku yg terdahulu, pake BB terpaksa krn urusan kerjaan🙂

    Salam buat Gita

    • Wahahaha dulu nokia ku aja sampe aku karetin *supaya dapat sinyal* – baru setelah 3 karet nggak bisa nahan, aku beli lagi.

      Salam balik Dek dari Tomblok.

  3. wahaha hape SG502 dari tahun 2008 masih nyantol di leher…
    bonyok juga, karena eman eman, dan masih fungsional..
    pengen beli seperdi iphoe tp uangnya masih dipake buat yg laen

    *sodorin rekening* hehehe…
    *towel pipi mamahnya gita*

  4. hehehe,aku jadi inget di kelas seminar bang ade dan mba inaya, ada temenku yang punya BB baru, terus kami main2in, eh gak sengaja mencet MP3, jadilah Jason Marz membahana,,terus yang punya kalang kabut matiinnya. akhirnya karena hilang akal, dia cabut batrenya, :)) ternyata kemampuan membeli gadget tidak selalu linear dengan kemampuan menggunakannya😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s