Google before you tweet


Hari ini rencananya mau naik kereta jam 07.19 supaya bisa sampai ke konsulat Kanada jam 9 pagi. Berharap visa bisa ditunggu, sehari jadi.

Sebenarnya sampai di halte bis masih jam 07.10. Jarak antara halte bis dan stasiun kereta nggak jauh. Jalan kaki paling lama itu 7 menit. Tapi saya merasa nyeri di pergelangan kaki. Mungkin karena mau menstruasi. Akhirnya, saya memutuskan untuk nunggu bis. Dengan perkiraan bis tepat waktu dan akan sampai di stasiunbdalam dua menit. Tunggu punya tunggu, bisnya nggak dateng-dateng. Berkali-kali pingin jalan kaki aja. Tapi nggak jalan-jalan. Menunggu bisa sambil kesal hati.

Bis datang 7.30, begitu masuk bis saya bilang bisik-bisik: “Ugh kamu telat!” (tapi berharap supirnya dengar). Dan kereta berikutnya jam 08.11. Saya mengirim pesan singkat pada kakak saya sambil menangis kesal sendiri pada bis yang datengnya telat itu.

Saya sampai ke konsulat Kanada jam 10.30. Awalnya petugas visa bilang saya mesti menjemput visa besok. Duh. Saya bilang, “Nggak bisa ya sehari ditunggu. Saya berangkat hari Rabu. Besok kan Selasa.” Life is too kind. Petugasnya ngeliat jam dan bilang: “Hmm saya nggak janji. Tapi kayaknya bisa. Biasanya aplikasi terakhir yang diterima untuk ditunggu sehari jadi paling telat harus masuk jam 10. Tapi ini kan cuma lebih 30 menit. Coba ya, tunggu saja.”

======

Menyalahkan orang lain/hal lain itu gampang sekali. Lebih gampang daripada bertanggung jawab terhadap diri sendiri, emosi sendiri, hati sendiri, badan sendiri.

Padahal kan mau-mau saya menunggu bis (karena kaki saya sakit). Saya bukannya nggak punya pilihan. Banyak malah: naik taksi (tapi bayar, sementara saya lagi nggak punya uang), jalan kaki (mungkin kaki saya akan tambah sakit), atau menunggu bis (tapi mungkin akan telat – tergantung supir bisnya).

Dan, sebenarnya saya bisa melihat konsekuensi dari pilihan-pilihan yang ada.

Pilih kaki sakit tapi tepat waktu sampai ke konsulat Kanada (Kalau ada dokumen yang kurang, saya masih bisa pergi ke perpustakaan terdekat mencetak dokumen yang kurang, lalu kembali ke konsulat dan kembali hari Selasa untuk mengambil visa. Kalau dokumen semua lengkap dan visa langsung disetujui hari itu arti saya punya waktu bebas satu hari sebelum berangkat hari Rabu. Hati tenang dan riang).

ATAU pilih naik bis supaya kaki tidak sakit. Tapi jadinya saya jadi punya dua kemungkinan kondisi. Bisnya bisa tepat waktu (dan semua berjalan lancar seperti rencana pada paragraf di atas tadi). Tapi MUNGKIN bisnya telat dan saya akan ketinggalan kereta dan telat sampai ke konsulat Kanada (Kalau ada dokumen yang kurang, karena kesiangan saya tidak bisa mencetak di perpustakaan terdekat karena percuma. Jadi MUNGKIN harus kembali ke konsulat Kanada hari Selasa. Mepet sekali. Hati ketir-ketir).

Saya kan hanya bisa mengatur diri sendiri, tapi nggak bisa ngatur orang lain. Jadi, kalau mau rencana berjalan lancar, pilihannya tinggal dua: taksi dan jalan kaki karena saya nggak bisa ngatur supir bis untuk datang jam 07.12 (memang saya yang gaji). Tapi kan, saya milih naik bis. Saya milih tergantung orang lain. Jadi, harusnya saya kan sudah harus paham dengan konsekuensi yang ada. Terus, kenapa saya marah sih? Terus nyalahin si supir bis? Yang buat keputusan saya, kok yang dimarahin supir bisnya.

Banyak kejadian dalam hidup yang kayak gitu. Iya nggak sih? Perkara supir bis mah, contoh kecil. Coba perkara lain. Kayak misalnya nih, kan tahu gaji sebulan cuma 2 juta. Eh, ngiler pingin beli iPad. Terus akhirnya pinjem uang ke temen. Eh, tapi terus mendadak sakit dan butuh ke dokter. Jadi uang untuk bayar temen dipake dulu deh untuk bayar dokter. Tapi temen (kita pikir) ngga mau ngerti – kekeh nagih uangnya sesuai jadwal. Eh, berantem dan ujung-ujungnya nuduh si temen: “Nggak bisa ngertiin orang banget sih” – terus kalau udah marahan.

Masalahnya yang tadi itu. Kita hanya bisa mengatur diri sendiri, tapi nggak bisa ngatur orang lain. Dan, menurut saya ya, ‘peta’ soal bis tadi itu terjadi di setiap waktu hidup kita. Jadi, kalau sudah memilih untuk ‘tergantung orang lain’ – sebenarnya kita punya tambahan pilihan konsekuensi sih: ikhlas atau setres.

Iklas itu menurut saya ya pasrah (ngaku aja, oiya saya salah memutuskan ya ternyata) – lalu berharap kehidupan berbaik hati pada kita. Life is kind.

Setres itu menurut saya marah-marah, memaki-maki dan kesal nggak keruan, nyalahin orang sana sini. Biasanya sih, menurut pengalaman saya – kondisi seperti ini tidak menguntungkan. Kenapa? Karena kalau kita marah-marah, dan kesal hati dan pikiran kita jadi ‘kemrungsung’ (kacau balau). Biasanya, kita jadi lupa untuk hati-hati melakukan tindakan kita selanjutnya. Jadi ada kemungkinan dalam satu hari kita melakukan kesalahan berkali-kali (menyalahkan orang berkali-kali, marah dan kesal berkali-kali. Lingkaran setan). When we shit life, life shits us back, at least double.

Think before you speak. Think before you do. (Google before you tweet hahaha). Plus having faith. Plus be grateful for everything. Plus letting go. Plus forgiving your self. Life is kind.

Gambarnya pinjam dari sini Life life list.

4 thoughts on “Google before you tweet

  1. “Think before you speak. Think before you do. (Google before you tweet hahaha). Plus having faith. Plus be grateful for everything. Plus letting go. Plus forgiving your self. Life is kind”

    like above part…. i knew it but its nice to read it now….🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s