Wow word(s) untuk murid (SMU?)


Saya tiba-tiba ingat perbincangan di dunia maya dengan seorang teman tentang penghargaan (award) di sekolah. Hari itu saya bercerita tentang kejadian menyenangkan yang saya lihat di sekolah Gita.

Setiap minggu, di sekolah Gita ada acara yang namanya assemblies. Assemblies adalah acara pemberian penghargaan pada murid-murid, mulai dari KG (Kindergarten – atau TK), sampai year 6 (setingkat SD kelas 6). Penghargaannya bermacam-macam. Mulai dari ‘You can do it‘ sampai ‘Gold Certificate‘. Sistem penghargaan ini berbasis pada penghargaan pada aktivitas harian: Wow Words.

Kalau ada yang bertanya, Wow Word itu penghargaan untuk apa? Jawabnya: macam-macam. Mulai dari peningkatan mutu membaca, berhitung sampai kualitas sosial seperti: memungut sampah di halaman dan membuangnya ke tempat sampah. Jadi, tingkat “Gold Certificate” adalah penghargaan untuk murid dengan baik kualitas akademis, etika, dan perilaku sosial.

Nah, yang menjadi bahan pembicaraan saya dengan teman maya saya itu adalah cerita seorang anak laki-laki. Suatu Jum’at, ketika semua anak yang berhak sudah mendapat penghargaannya masing-masing – tiba-tiba seorang guru maju. Ia membawa sebuah piala kecil. Guru ini berkata: “Saya punya hadiah tambahan, hadiah khusus untuk seorang anak yang khusus pula.

Lalu, guru ini bercerita – di awal minggu ketika diadakan kompetisi atletik – seorang anak dipaksa teman-temannya untuk bertanding di nomor tambahan. Kenapa? Karena anak ini memenangkan kompetisi lari 100 m dan 200 m. Dan, teman-temannya masih ingin kemenangan tambahan untuk kelas mereka. Sehingga, teman-temannya meminta anak ini menggantikan seorang teman yang lain (yang mereka anggap tidak akan mampu memenangkan kompetisi atletik berikutnya).

Lalu, anak ini dengan santai menolak. Ia berkata: “Tidak. Tadi saya sudah ambil bagian dalam kompetisi dan kalian bersorak-sorai menyemangati saya. Sekarang, saya akan ambil bagian saya untuk memberi semangat, menyoraki dia. Dia yang akan maju kompetisi. Nggak penting kalah atau menang. Yang penting kita punya waktu yang menyenangkan.”

Untuk keputusan yang – menurut saya bijak dan sangat rendah hati – guru tadi merasa perlu memberikan penghargaan khusus untuk anak ini. Dan, saya setuju. Komentar teman saya: “Ah, ribet amat! Ngapain? Nggak perlu lah! Cuma gitu doang!”.

Hmmm “Cuma gitu doang?” I don’t think so.

Ketika kemarin pelajar SMU 6 Jakarta memukuli wartawan – saya jadi teringat lagi obrolan saya dan teman saya itu. Ditambah, membaca linimassa pelajar SMU 6 Jakarta pada hari itu. Sebelumnya saya minta maaf. Dari sudut pandang saya, yang seorang pengajar – saya bisa memahami ‘keributan di jalan’ dari sudut pandang teori kerumunan. Saya tidak membenarkan, tapi hanya mencoba memahami. Dalam kerumunan yang chaos, orang mudah kehilangan kesadaran. Mudah melakukan tindakan brutal tanpa ingat lagi akal sehat.

Yang membuat saya prihatin, lebih pada komentar-komentar teman-teman mereka yang JUSTRU pada saat kejadian tidak ada di jalan. Seperti: “@AstridAdriani haha saik .__. wartawannya semoga mati deh😀” Saya benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana seorang pelajar yang berpendidikan bisa mengatakan harapannya untuk kematian seseorang (yang mungkin punya keluarga: istri dan anak). Anda boleh bilang saya ‘lebay‘. Hey, coba pikirkan lagi, sebelum mengatakan saya lebay.

Kembali tentang Wow Word. Saya jadi berpikir. Apakah itu karena sekolah-sekolah kebanyakan hanya menitik beratkan pada “rapot” yang menghargai anak dari nilai-nilai: matematika, IPS, IPA, Pancasila, kimia, bahasa Inggris dan lain-lainnya? Sementara sekolah tidak pernah ‘secara formal’ menghargai cara mereka berinteraksi dengan dunia sosial sehari-hari? Taken for granted “masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang berakhlak?” – dan jadi tidak sadar ketika nilai itu semakin hari semakin luntur?

Dan, anak-anak kita melakukan tindakan ‘keren’ (dan diterima secara salah kaprah di dunia sosial), yang kadang melupakan apa yang ‘layak’ dan ‘benar’ tidak hanya dari sudut pandang ‘ujian’ atau ‘raport’ tapi juga dari sudut pandang ‘moral’ dan ‘akhlak’ dan ‘etika’. Yang benar secara moral, akhlak dan etika malah dianggap ‘kuno’ atau ‘lebay’ atau ‘biasa aja donggg’ – karena institusi-institusi pendidikan berhenti merayakan sisi “hidup sebagai manusia yang baik’.

————–
Maaf, sebelumnya. Foto yang saya pakai bukan milik saya. Saya lupa dari situs mana gambar yang saya pinjam saya ambil. Kalau ada yang tahu, mohon infonya ya. Terimakasih untuk pemilik foto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s