(best)-F-R-I-E-N-D-(S)


Pernah nonton serial Friends? Itu serial TV favorit saya🙂

Saya menulis postingan ini dengan tulus (dan ikhlas – tidak dipaksa maksudnya haha) dan dengan niat baik.

Teman. Saya membedakan (dengan jelas) siapa itu teman dan kenalan.

Kenalan adalah orang-orang yang penting (juga) – tapi, saya tidak akan memberikan energi berlebih dalam hubungan saya dengan kenalan. Artinya, saya akan melakukan komunikasi ‘aman’ dengan kenalan: sopan, ramah, singkat dan tidak sering. Kalau ada salah komunikasi, saya tinggal. Begitu cara saya ‘menangani’ hubungan dengan kenalan.

Teman adalah orang-orang yang penting. Saya akan memberikan energi yang pantas untuk menjaga hubungan saya dengan teman-teman saya. “Pantas” dalam arti, saya akan ‘menjaga’ hubungan menggunakan aturan berkomunikasi yang ‘tepat’. Ketika saya merasa ada yang ‘tidak benar’ (baca: salah/kurang tepat komunikasi), yang menyebabkan hubungan jadi ‘berubah’ dalam arti ‘dingin’ dan ‘berjarak’ saya akan bertanya: “Hai, apakah kamu baik-baik saja?”.

Energi yang pantas tadi, maksudnya adalah: saya membuka diri dengan suka rela untuk menerima, bahkan kalau (ternyata) teman saya marah dan mengemukakan semua ‘pendapat negatif’ tentang saya. Tapi, menurut saya – selalu ada ‘tempat’ untuk berkonflik dengan teman. Juga, selalu ada ‘tempat’ untuk berdamai juga. Dua-duanya bisa didatangi kapan saja. Artinya, memberikan ‘energi’ yang pantas untuk ‘tidak meninggalkan hubungan’.

Ada kondisi untuk “agree to disagree“. Ada kondisi untuk “take time to be upset“. Ada kondisi untuk “take time to be distanced“. “Take time” artinya ada batasnya. Tidak berlarut-larut. Dan, selalu mau ‘kembali’. Ketika saya bertanya “Apakah kamu baik-baik saja” dan tidak dijawab, buat saya – itu tanda bahwa orang yang bersangkutan memilih untuk ‘meninggalkan hubungan’ (karena tidak kembali dengan jawaban).

Sebisa mungkin, saya menjaga hubungan pertemanan saya: personal. Menurut saya, perlu untuk meminimalkan distorsi komunikasi – dengan tidak melibatkan orang lain. Artinya, saya akan bertanya apa saja pada teman saya tanpa merasa perlu melibatkan orang lain. Selalu mau duduk dan berbincang berdua. Duduk dan marah berdua. Duduk dan saling memaki berdua. Duduk dan saling diam. Duduk dan saling mengerti. Duduk dan saling malu. Duduk dan menyadari kami berdua tidak ingin ‘meninggalkan pertemanan’. Membuka hati. Membuka pikiran.

Teman, untuk saya, adalah ‘partner in crime‘ untuk menjadi orang yang lebih baik. Saya ingat, dulu sekali suatu hari sahabat tersayang bilang: “Kamu kalau kalau lagi sedih, curhat hal yang sama nggak selesai-selesai. Aku capek. Ikhlaskan saja. Berdamai.” Awalnya, sebal sekali baca emailnya. Tapi, pelan-pelan saya pikir she’s damn right! Dan, saya tidak mau meninggalkan pertemanan kami. Setelah beberapa hari – saya balas emailnya: minta maaf.

I owe her for teaching me how to ‘ikhlas’ and ‘to let go’.

Masalahnya, kadang ada orang-orang yang memilih untuk tetap ada di jalurnya, dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Nggak, saya tidak bilang itu salah. Tapi, we agree to disagree kan? Jadi, kalau itu membuat saya lelah dan dia tidak mau mengerti kelelahan saya (dan mungkin saya membuatnya lelah juga) – lebih baik, saya ‘let go‘ – not good bye though. Siapa tahu, dia masih mau kembali, saya selalu mau kembali juga🙂

I miss you. Cepat pulang dari Norwegia ya.

Gambarnya saya pinjam dari sini.Terimakasih ya.

One thought on “(best)-F-R-I-E-N-D-(S)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s