Self discrimination (money involves)


I reblogged from photographywelove.

Tadi malam nonton berita di ACA TV. Tentang review produk sayuran dan buah yang dijual pada tiga supermarket papan atas Australia, sebut aja We, Al, dan Ce (semua dalam bunyi ala Indonesia ya).

Dalam liputan khususnya, ACA TV menghadirkan seorang profesional yang kerjaannya dibayar untuk menguji kualitas makanan (sayuran, buah-buahan, keju, daging, dan ayam) oleh restoran dan hotel papan atas di Australia. artinya pendapatnya mengenai kesegaran/kualitas makanan sahih – atau paling tidak dapat dipercaya.

ACA lalu meminta profesional ini menilai kualitas makanan pada tiga supermarket papan atas Australia di beberapa daerah berbeda. Daerah investigasi pun ditentukan berdasarkan tingkat ekonominya: atas, menengah, bawah.

Temuan profesional penilai kualitas makanan ini membuat saya tercengang. Ini hasilnya (catatan: ingat, harga produk makanan relatif sama atau malah sama di tiap daerah yang berbeda).

Dari ketiga supermarket papan atas We, Al, Ce, profesional menemukan hal yang sama. Untuk harga yang relatif sama, kualitas makanan berbeda, ukuran pun berbeda.

Di daerah elit, ketiga supermarket menjual bahan makanan dengan kualitas super, potongan lebih besar, ukuran produk juga lebih besar. Di daerah ekonomi menengah, ketiga supermarket menjual bahan makanan dengan kualitas menengah, potongan lebih kecil daripada yang dijual di daerah elit, ukuran produk juga lebih kecil dibandingkan ukuran produk yang dijual di daerah elit. Nah ini dia. Di daerah ekonomi bawah (artinya, di daerah ini hidup masyarakat yang serba tidak mampu secara ekonomi) – ketiga supermarket menjual bahan makanan dengan kualitas sampah (baca: sangat buruk), potongan lebih kecil, ukuran produk juga sangat kecil.

Curang? Iya.

Kok bisa?

Hasil penelitian lalu dihubungkan dengan penelitian psikologis manusia yang pernah dilakukan. Bunyi penelitian tentang psikologis manusia itu seperti ini: orang dengan tingkat ekonomi rendah merasa tidak percaya diri (karena miskin) dan – menghargai diri sendiri dengan rendah pula, sehingga – akhirnya, menerima perlakuan tidak adil. Orang-orang ini jarang ada yang mau protes, karena merasa apa yang mereka terima pantas mereka dapat. Dalam hal ini, mereka tidak akan protes “Kenapa kok brokoli yang kamu jual sudah kuning-kuning dan patah-patah?”

Sebaliknya, penelitian yang sama menyatakan orang-orang dengan tingkat ekonomi tinggi (dari daerah elit) percaya dirinya sangat besar dan menghargai diri sendiri dengan layak (baca: tinggi). Mereka berani (dan mudah) protes atas perlakuan yang mereka nilai tidak adil: “Ini supermarket macam apa – kok menjual brokoli yang sudah kuning-kuning dan patah-patah?”.

Saya jadi berpikir, kadang (mungkin) ketika kita menerima fakta bahwa kita diperlakukan dengan tidak adil – sebabnya adalah karena kita sendiri memperlakukan diri kita dengan tidak adil. Tidak cukup percaya diri untuk bilang: saya berharga (walaupun tidak menggunakan tas merek Gucci, sepatu merek Prada, mobil merek Audi, dan tinggal di rumah gedongan).

2 thoughts on “Self discrimination (money involves)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s