Hoodlum and fans


Ini tentang plonco-ploncoan.

Saya tidak pernah senang/setuju dengan ide perpeloncoan. Walaupun, selalu ikut (di)pelonco (never missed it!). Beberapa kali ikut panita perpeloncoan yang tugasnya cari track buat jurit malem.

Perpeloncoan yang paling saya nikmati dan saya akui MASIH ada gunanya (nggak semua program perploncoannya berguna) adalah waktu saya jadi mahasiswa baru di jurusan Komunikasi FISIP UI. Perpeloncoannya selama satu semester. Tugasnya macem-macem. Dari mulai buat iklan, nulis feature, wawancara, buat iklan baris, dan buat jingle iklan. Selama satu semester itu, kami juga diminta ngumpulin tanda tangan senior. Beberapa senior itu minta kami, misalnya, mlesetin lagu sambil bergaya. Di depan umum. Sebelum mulai masa perploncoan, kami memang sudah diberi tahu: putusin urat malunya. Seingat saya, selama satu semester itu hampir nggak ada bentak-bentakan. Ada sih, tapi hmmm masih banyak manfaatnya, daripada tidak manfaatnya.

Buat saya pribadi, perploncoan di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI waktu itu banyak sekali gunanya. Terutama, karena setelah lulus S1 saya kerja di biro iklan, di bagian kreatif. Tuntutan kerja – kadang mengharuskan saya kreatif (bahkan dalam waktu mendadak), kadang mengharuskan saya untuk jadi orang nggak tau malu (tapi harus cuek), selalu mengharuskan saya menulis kreatif (dari mulai tag-line, copy iklan, feature, dan banyak hal lain). So, ya. Waktu itu, saya senang diplonco.

Waktu saya dapat giliran memelonco, semua yang minta tanda tangan saya harus pake biru-biru: dari kaus kaki, baju, bolpen.

Tapi menurutku hampir semua perpeloncoan itu nggak ada gunanya. Dari alasannya aja udah kelihatan mengada-ada. Ada yang bilang: untuk mendekatkan senior dengan yunior. Yang bener aja, mendekatkan senior dan yunior dengan acara membentak-bentak yang hampir selalu disertai hukuman fisik (belum termasuk tendangan, pukulan dan toyoran). Ada yang bilang: supaya lebih disiplin. Kebanyakan perpeloncoan itu kan paling satu minggu ya? Sementara, menurut saya disiplin itu bukan sesuatu yang bisa ditularkan/diajarkan secara instan. Seminggu ngajarin disiplin? Haha kamu ah! Ada-ada aja. Ada lagi yang bilang perploncoan itu ngajarin sopan santun. Lagi-lagi loh, menurut saya sopan santun itu bukan sesuatu yang bisa diajarin selama seminggu.

Buat saya loh, perpeloncoan yang nggak berguna itu hanya ajang kakak kelas buat menekan anak baru – yang dianggap orang luar, bukan kelompok: “Eh, lo anak baru – jangan macem-macem ya!” – atau sama aja bilang “Ah, kamu anak kecil. Tau apa sih?”. Perpeloncoan, menurut saya, hanya masalah kekuasaan (yang nggak jelas). Dan, pemborosan uang yang nggak ada gunanya sama sekali.

Saya paling kesal kalau senior yang membentak-bentak itu nggak berkualitas apa-apa selain karena dia senior. Pinter nggak. Cakep nggak. Disiplin nggak. Sopan nggak. Berprestasi nggak. Contohnya kayak gini nih: Udah 8 tahun kuliah nggak lulus-lulus, IPK pas-pasan, dateng selalu telat, kerjaan nggak ada selain cuma nongkrong di kantin seharian.

Males banget.

Yang lebih kesal lagi, kalau ada orang yang masuk lingkungan baru terus minta dipelonco. Saya merasa, orang-orang semacam ini pada dasarnya tahu, dia tidak bakalan diplonco (secara serius) karena berbagai macam hal. Misalnya karena dia masuk karena ‘dibawa’ oleh orang yang cukup punya kuasa (dan lalu merasa aman), atau karena merasa ‘lebih tua’ (dan pede nggak ada yang berani melonco), atau karena merasa cukup ngetop (dan banyak fans). Tapi, kalau beneran ada yang melonco – dia kesal. Marah. Melonco balik. Semua backingnya dikumpulin. Hahaha.

Budaya pelonco itu kan pada dasarnya budaya bullying. Eh, ini menurut saya loh. Lha kok malah minta dipelonco! Kalau nggak sombong, ya sepertinya si peminta (dipelonco) punya mental dijajah. Mungkin penderita sadomasochism akut.

Gambar diambil dari laman sini. Terimakasih.

One thought on “Hoodlum and fans

  1. Saya dulu tidak ikut di-plonco-kan, berbekal “surat sakti sebelas maret” saya-pun lolos dari maut, nah…, saya memang tidak pernah suka dengan acara ini😀.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s