I call it a miracle, M-I-R-A-C-L-E


It’s weird. When I pray serendipities happen; and when I don’t pray they don’t happen (Sir William Temple).

Akhir-akhir ini saya merasa kesepian sekali. Rindu ‘rumah’. Lelah menjadi ibu dan teman. Hanya ingin menjadi anak dan adik kecil. Ingin dinyamankan. Kangen meringkuk dipeluk ibu. Dipeluk. Disayang. Dilindungi. Dinyamankan. Capek, emosi dan badan.

Walaupun fasilitas komunikasi online ada 24 jam, tetap saja rasanya berbeda. The Internet paradox. It bears only an external and deceptive resemblance to a putative model. The relationship is galactic distances. It is a simulation, not the real.

Dan saya hanya bisa berdoa. Mengadu. Minta seseorang. Minta teman. Minta pelukan yang nyata. Dekapan yang tidak bersyarat.

Hari ini saya jalan-jalan sama Gita. Niatnya mau beli coklat Baci di mall, terus cari sepatu boots – mumpung hari ini libur.

Waktu mau bayar coklat, ada sepasang kakek-nenek lagi bayar juga. Sambil menggenggam uang, Gita antri di belakang mereka. Setelah kakek-nenek ini selesai bayar, mereka nggak langsung pergi. Waktu Gita lagi bayar, kakeknya bilang ke Gita: “We have a grand daughter. She looks like you! What is your name?” – “Gita”. “How do you spell it?” – “Ji-Ai-Ti-Ey”. “Ahh… Gita. That’s a German name! Our grand daughter, Zara, is coming this July.”

30 menit lamanya kami ngobrol di depan konter coklat. Bicara tentang anaknya yang sekarang tinggal di Malaysia, ikut suami. Bicara tentang ‘It is hard to live in Malaysia’. Bicara tentang cucu mereka: “She is adopted”. Bicara tentang “The first marriage was for 25 years. This time, the second is turning 25 years old too. I am old!”. Bicara tentang banyak hal.

Lalu …

“Would you like to visit us when our grand daughter comes? She is coming, on 5th of July. We can have evening tea. Or we can have lunch before or after – any time.”

Lalu mereka memberikan alamat. Dan meminta nomor telpon saya. Dan mencatat tanggal lahir Gita. “What day do you prefer to visit us? – We will come to pick you up. Please keep that note, don’t forget us.”

Aneh ya. Tuhan selalu punya kejutan manis. Apa yang kita minta selalu diberi sesuai kebutuhan kita. Jawaban yang cepat, lugas, dan indah. Orang asing bisa jadi siapa saja bagi kita, kalau Tuhan berkehendak. Tidak butuh penjajagan untuk merasakan ‘chemistry’. Tidak perlu banyak pertanyaan untuk merasa percaya. It just happened.

Sebelum kami berpisah, saya peluk nenek itu, Beth. It felt so good, comforting. She hugged me, saying “It’s all right.”

It is now. Thank you.

… dan Tuhan tidak tinggal di gereja. Atau di surga. Tapi di sini. Dekat. Melihat. Mendengarkan. Menjaga.

Gambar diambil dari sini.

=======
…the times when you have seen only one set of footprints, is when I carried you. (Mary Stevenson)

4 thoughts on “I call it a miracle, M-I-R-A-C-L-E

  1. Tuhan memberikan “apa yang kita butuhkan”…..bukan “apa yang kita inginkan” *sotoyModeOn* Salam buat Gita ya …🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s