Words don’t mean, people do :)


Ini tentang kemau(tau)an.

Dua hari yang lalu, saya baca postingan yang membahas soal opsi status hubungan (relationship status) di jejaring sosial Facebook. Yang membuat posting mempermasalahkan kenapa kok Facebook menyediakan opsi janda/duda (widowed). Pertanyaannya: “apa fungsi status janda/duda (widowed red) pada facebook?”, “apa ada orang yang mau menggunakannya, memproklamirkan bahwa dirinya janda/duda?”

Yang menggelitik adalah di bagian ini: “Jadi relevan, jika ternyata di negara barat, memproklamirkan diri sebagai seorang janda/duda merupakan bukan satu masalah. Tapi, kalau di timur jadi sangat aneh, dengan bangga memproklamirkan seorang janda/duda”.

Barat – Timur. Bukan satu masalah – Sangat aneh. Stigma. Labeling. Social prejudice.

Kejelasan perbedaan kata dari definisi dan manfaat
Jawaban saya simpel saja. Bahasa Inggris, mengacu asal Facebook dibuat, membedakan antara widowed dan divorcee. Widowed, kalau diambil dari sini – artinya adalah: single because of death of the spouse. Sementara, divorcee adalah A person divorced. Separated, mengacu dari sini, adalah: That means that a couple’s relationship is in some trouble and that one or the other has seperated to cool things and to evaluate everything concerning the relationship to determine if it is going to lead to a healthy union or not!

Sementara, dalam bahasa Indonesia – semua dipukul rata: janda/duda.

Jadi, tentu saja dalam ‘budaya barat’, jadi penting untuk orang untuk membedakan (dan mungkin mencantumkan) status hubungan. Meminjam asumsi saya yang cetek, MUNGKIN begini skenarionya:

  1. orang yang statusnya widowed itu lebih pantas dikencani, karena pasti setia (nunggu pasangannya meninggal dulu, baru memulai hubungan baru.
  2. oh, dia divorced. Hmmm kenapa ya? Mesti hati-hati nih. Tapi, yang penting urusan hukum sudah selesai, dan sah bercerai.
  3. Oooo dia separated. Doh, berarati masih mungkin balik nih sama pasangannya!

Sementara, tentu saja dalam “budaya Indonesia” (saya tidak bilang ‘budaya timur’), pukul rata penggunaan kata janda/duda – itu menyesatkan (kadang-kadang) – yang arahnya adalah: stigma, labeling, social prejudice.

Stigma. Label. Social prejudice: salah sangka.
Menurut saya facebook itu tidak pantas digunakan untuk kesedihan yang mendasar, seperti mengabarkan diri sebagai widowed. Karena pada dasarnya perpisahan merupakan satu hal yang menyedihkan, seburuk apapun tingkah yang pernah pasangan kita perbuat.

.. dan,

… status itu (janda/duda) harus hati-hati dalam menggalinya karena menyandang status itu bukanlah tanpa risiko kesalahpandangan orang lain. Mengapa ia sampai menerima status itu? Terlebih kepada perempuan, janda. Dalam sebuah lagu dangdut yang tanpa sengaja saya dengar saja digambarkan bahwa seorang perempuan malu mengakui dirinya janda “kau masih gadis atau sudah janda katakan saja jangan malu.. lalalalalala..” Lalu mengapa facebook menawarkan opsi yang peluangnya sangat kecil untuk dipilih? Stigma yang selalu berkembang, janda itu genit, centil, apalagi jika usianya muda maka ia akan menjadi sesuatu yang sangat ditakuti oleh ibu-ibu. Mereka khawatir suami-suaminya main serong dengan janda muda yang kebanyakan ibu-ibu berpandangan janda pasti kesepian, mencari lelaki, dan butuh uang…Soal duda, saya tidak terlalu tahu bagaimana stigma yang berkembang. Nah jadi mengapa ada opsi widowed di facebook?

Stigma bahwa perpisahan itu menyedihkan. Kalau berpisah karena pasangan kita meninggal, sangat mungkin pasangan yang ditinggal sedih. Tetapi, saya tidak tahu, perpisahan yang disebabkan karena kekerasan dalam rumah tangga – misalnya, akan menyedihkan atau melegakan (dan patut disyukuri). Saya tidak tahu.

Stigma status janda, terlebih pada perempuan. Kalau sudah tahu itu stigma – kenapa juga dipelihara? Kalau sudah tahu itu stigma, kenapa juga membahas dengan sudut pandang yang menguatkan stigma? Lalu kenapa ada opsi widowed di Facebook? Jawabannya simpel: karena Facebook tidak memberi stigma. Atau label. Atau social prejudice. You should learn how to be socially networked (using Facebook), as well as how to be open minded (from Facebook).

Karena, “words don’t [v.] mean, people do (and, indeed, they are sometimes really [adj] mean

Gambar diambil dari sini.

3 thoughts on “Words don’t mean, people do :)

  1. mba titut, itu seperti tulisan aku, pertama aku mau terima kasih sekali mba titut ada pandangan lain, memang tulisan yang aku buat tidak sensitif sama sekali dan buruk karena memang aku akui itu berdasar becandaan saja dengan teman-teman, ditambah sebelumnya seorang teman mengganti statusnya ke widowed hanya untuk bermain-main, aku sangat bersalah dalam hal ini. dan kedua, aku seharusnya meminta maaf kepada siapapun yang merasa tersakiti hatinya dari bercandaan itu, dan terakhir seharusnya aku menghapus tulisan tersebut karena bisa jadi banya diluar sana memandang dengan kacamata social prejudice terhadap status janda.

    sekali lagi terimakasih yak mba titut, aku justru senang mendapat kritik dan saran terbuka seperti ini. dan maafkan aku karena ini pasti melukai sisi intelektulitas mba titu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s