Fear/Honour/Respect?


Ini tentang rasa.

Pagi ini saya membaca berita online dari MSN, judulnya: Astaga… Siswi SMA Ini Nekat Buat Video Mesum. Kutipan salah satu paragraf adalah ini:

Banyak warga yang tidak percaya bahwa adegan terlarang yang terekam dalam handphone itu adalah seorang siswi salah satu smu negeri di Grobogan. Pasalnya orangtua siswi ini merupakan guru di sekolah tempat DAP mengajar.

Saya jadi ingat, waktu dulu hamil – rencananya saya ingin anak saya panggil nama saja. Nggak usah pakai “Ibu” atau “Mama” atau “Embok” atau “Bunda” atau “Biung”. Cukup: “Titut” atau “Clara”. “Mboti” juga boleh.

Saya ingin Gita hormat karena saya pantas dihormati, bukan karena saya Ibu-nya. Saya ingin Gita sayang karena saya pantas disayang, bukan karena saya Ibu-nya. Saya ingin Gita cinta karena saya pantas dicintai, bukan karena saya Ibu-nya.

Kalau saya keliatan, dia hormat. Kalau saya ada di dekatnya, dia sopan dan patuh. Kalau saya bisa disentuhnya, dia memeluk dan menggandeng.

Tapi tidak dalam pikiran, tidak dalam hati. Jadi kalau saya tidak keliatan, tidak dekat, tidak bisa disentuh – dia tidak hormat, tidak sopan, tidak patuh, tidak memeluk dan tidak menggandeng: tidak cinta. Lalu main belakang :p

Semoga Gita menghargai, menghormati, menyayangi, mencintai, menginginkan saya dalam hati, dalam pikiran, dalam tingkah laku. Karena saya pantas menerima.

I think, it should be respect rather than honour – or moreover: not fear.

Gambar dari sini.

5 thoughts on “Fear/Honour/Respect?

  1. Don’t worry ..Gita pasti akan menghargai, menghormati, menyayangi, mencintai dan menginginkan kamu dalam hati, pikiran dan tingkah lakunya…
    Why..? Karena kamu juga melakukan itu semua untuknya… :))

  2. Saya mungkin akan lebih fleksibel, kesetaraan dalam memandang individu antara satu dan yang lainnya tidak serta merta bisa hadir begitu saja dalam kesadaran seseorang, orang dewasa saja sulit, apalagi anak-anak. Saya kira, akan ada waktunya untu hal seperti itu hadir, namun jika memang belum ada, ya, saya tidak ingin memaksanya.

    Cukup umum seorang anak memanggil Bapak dan Ibu, tanpa menyebut nama. Karena itu (mungkin) di budaya kita sebagai rujukan hubungan yang hadir dengan teristimewa dan perlu diistemewakan, sesuatu yang unik, yang bahkan tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menggunakan panggilan itu. Karena di dalamnya tersimpan sesuatu yang tak dapat diungkapkan meski menyebut nama ribuan kali. Saya rasa Mbak Titur yang paling memahami hal ini🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s