(WOMEN) Affirmative action


Ini tentang kondisi.

Ada seorang teman, suatu hari cerita begini: “Tadi di bis, aku lihat perempuan berdiri. Tapi aku tetap duduk. Kan katanya emansipasi? Sama-sama kerja dan dia masih muda. Nggak hamil lagi, tau dong capeknya gimana”.

Jawaban saya: “Iya, capek ya? Tapi, pulang kantor kamu ngapain? Pasti langsung leyeh-leyeh ya? Makanan sudah siap. Anak-anak sudah mandi. Rumah sudah rapi. Kamu tinggal mandi, baca koran, nonton berita, main sebentar sama anak-anak, terus tidur. Ya kan? Perempuan yang tadi kamu biarkan berdiri itu, pulang kantor (mungkin) harus masak dulu. (Mungkin) harus ngurusin anak-anak dulu. (Mungkin) harus beres-beres rumah dulu. Terus, besoknya pagi-pagi – kamu tinggal sarapan sambil baca koran, mandi, berangkat deh. Perempuan yang tadi kamu biarkan berdiri itu, sebelum ke kantor (mungkin) harus buat sarapan dulu, (mungkin) nyiapin anak-anak sekolah, (mungkin) nyiapin bekalmu dan bekal anak-anak, (mungkin) belanja dulu, baru mandi, baru berangkat kantor naik bis yang umpel-umpelan dan berdiri karena semua laki-laki punya pikiran kayak kamu. Nanti pulang kantor, perempuan itu harus berdiri umpel-umpelan lagi karena semua laki-laki punya pikiran kayak kamu.”

Teman saya itu diam.

Besoknya, dia cerita lagi begini: “Tadi di bis, aku liat perempuan berdiri. Aku kasih tempat dudukku ke dia.”

Jawaban saya: “Makasih ya.”

Affirmative action. Tindakan khusus. Karena kondisi biologis dan sosial yang khusus pula.

Jadi perempuan tuh enak, di kantor dikasih libur dua hari tiap bulan kalau lagi mens. Kita cowok, mana ada libur bonus dua hari tiap bulan? Katanya emansipasi?

Ketika menstruasi, dinding rahim kan meluruh. Cukup membuat perempuan kesakitan dan tidak nyaman di bagian perut dan pinggul. Belum di daerah-daerah lain. Pada beberapa perempuan, rasa sakit dan tidak nyamannya sangat besar. Sampai-sampai pingsan karena tidak tahan, terutama di hari pertama dan kedua menstruasi. Laki-laki mengalami menstruasi tidak?

— atau,

Jadi perempuan tuh enak, sama-sama kerja ngelinting rokok. Tapi kalau waktu untuk ke WC lebih lama dari kita yang cowok-cowok. Katanya emansipasi?

Coba deh datang ke pabrik rokok. Lihat perbandingan antara pekerja perempuan dan pekerja laki-laki. Lalu, lihat perbandingan jumlah WC laki-laki dan WC perempuan. Pekerja perempuan di pabrik rokok lebih dari 50% total seluruh pekerja. Tapi, jumlah WC laki-laki dan WC perempuan sama. Jadi, gimana bisa perempuan pekerja di pabrik rokok dikasih waktu untuk ke WC sama lamanya dengan pekerja laki-laki?

— atau,

Enakkan jadi perempuan, habis melahirkan boleh cuti setahun. Dibayar pula. Katanya emansipasi?

Menjadi ibu memang menyenangkan (dan anugrah). Tapi juga melelahkan – dan seringkali: membuat frustrasi. Pekerjaan ini kurang dihargai karena taken-for-granted dilihat sebagai: perempuan ya jadi ibu dong! Pekerjaan di kantor ada break makan siang atau ngemil sore. Pekerjaan jadi ibu, hmmm ada gitu breaknya? Pekerjaan di kantor memungkinkan bertemu teman-teman, haha-hihi, makan siang ke luar berlama-lama. Pekerjaan jadi ibu, hmmm haha-hihi sama siapa (apalagi pas anaknya masih bayi)? Bisa gitu makan siang keluar berlama-lama? Bisa gitu keluyuran ketemu temen-temen? (Well, bisa. Tapi nanti ujung-ujungnya: Jadi ibu kok gitu! Mana anaknya masih bayi pula!). Pekarjaan kantor menghasilkan slip gaji tiap bulan. Merdeka secara finansial. Pekerjaan jadi ibu? Belum lagi baby blues🙂 Belum lagi harus bangun malam untuk menyusui (ketika suami/ayah tertidur pulas), atau mengganti popok (lagi-lagi ketika suami/ayah tertidur pulas). Tertidur pulas dengan alasan: kan capek kerja di kantor! Hahaha Padahal kerja jadi ibu seorang bayi itu 24 jam. Tanpa break makan siang (atau makan siang yang terburu-buru), tanpa break baca koran, bahkan kadang-kadang ibu-ibu muda ini mengalami konstipasi, karena waktu untuk buang air besar saja tidak ada.

— atau,

Jadi perempuan tuh enak, SIMnya sama tapi kalau parkir mobil dikasih tempat istimewa. Katanya emansipasi?

Ini bukan karena perempuan lebih tidak jago nyetir dibandingkan laki-laki. Ini lebih merupakan aksi untuk melindungi keselamatan perempuan di tempat umum. Coba perhatikan, Women-only parking spot biasanya terletak di dekat pintu masuk gedung atau didekat gardu penjaga. Kenapa? Karena data statistik menyatakan tempat parkir (terutama di malam hari) jadi tempat yang nyaman untuk menyerang perempuan. Perempuan jadi sasaran empuk kejahatan karena … perempuan🙂 Mulai dari jambret, penodongan, sampai pemerkosaan. (Alasan yang sama untuk gerbong kereta khusus untuk perempuan).

Affirmative action. Tindakan khusus. Untuk menyayangi perempuan🙂 Tidak pernah bisa emansipasi, karena bagaimana pun juga secara biologis perempuan berbeda.

Gambar diambil dari sini.

One thought on “(WOMEN) Affirmative action

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s