Mari membaca tanda (tanya)


Ini tentang film.

Saya masih ingat, beberapa tahun lalu – saya mempresentasikan artikel disebuah konferensi internasional. Dalam artikel itu, saya bilang kalau Disney menjajah budaya dengan cara memutarbalikan fakta sejarah, misalnya: Pocahontas pergi ke Inggris segagai sandera, bukan maunya sendiri seperti dalam versi Disney atau karir akhir Mulan adalah jenderal besar, bukan pacarnya Shang.

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta dari Amerika mengajukan pertanyaan kayak gini: “Kok bisa-bisanya analisamu jauh amat? Cuci otak? Penjajahan budaya? Yang dilakukan sama Disney kan semata tindakan ekonomi pasar. Masalah Disney punya kekuatan ekonomi, ya jangan disalahkan dong. Ini hanya masalah cari uang.

Saya hanya menjawab bahwa film adalah TANDA, yang dapat dibaca dari berbagai sudut pandang. Sudut pandang saya (waktu itu) adalah dengan menggunakan kajian feminisme dan orientalisme. Peserta dari Amerika membaca dengan menggunakan kajian ekonomi. Tentu saja ketika sudut pandang yang berbeda dipakai dalam membaca film yang sama – hasilnya akan beda.

Membaca film adalah tentang semata “sudut pandang”. Sementara, sudut pandang adalah hasil dari banyak hal: latar belakang budaya, pendidikan, ekonomi, agama, sejarah, jenis kelamin, politik, pekerjaan, keluarga, dan masih banyak lagi.

Sudah baca artikel online dari voa-Islam tentang debat Hanung dengan salah seorang wartawannya mengenai film “?” belum? Saya sudah. Ternyata, membaca cara orang membaca film sama mengasikannya loh dengan membaca filmnya sendiri.

Ini dia, cara Adian Husaini membaca tanda tanya:

Hanung menuduh umat Islam sebagai pelaku penusukan terhadap pendeta dan pengeboman terhadap gereja. Film ? menggambarkan umat Islam identik dengan kekerasan dan teroris:

Anda jelas mengacu pada peristiwa di Ciketing Bekasi tahun lalu, dimana seorang Pendeta HKBP ditusuk pemuda Islam setelah sebelumnya mereka diprovokasi jemaat HKBP Ciketing dan terjadi bentrokan.

Hanung menggambarkan bahwa seolah-olah babi itu halal dan menyarankan umat Islam tidak perlu ragu-ragu lagi makan daging babi:

Tetapi disitu anda jelas lebih mendukung masakan babi yang haram daripada ayam atau bebek yang halal. Terbukti anda mengejek masakan halal itu dengan kata-kata: “babi rasanya gurih tanpa banyak bumbu”, seperti yang dikatakan pak Tan. Bahkan juga dikampanyekan betapa nikmatnya makan daging babi daripada ayam atau bebek yang harus banyak bumbunya supaya menjadi nikmat. Tetapi kalau babi tidak perlu bumbu sudah nikmat sekali.

Mayoritas pengunjung restoran Cina milik Tan Kat Sun (Hengki Sulaiman) yang ada masakan babinya itu umat Islam. Karena (digambarkan) pada bulan puasa sepi, berarti restoran itu para pelanggannya umat Islam.

Hanung menggambarkan bahwa orang menjadi muslim karena didorong niat untuk menikahi gadis cantik:

Setelah itu anaknya Ping Hen (Rio Dewanto) sadar dan masuk Islam demi menikahi Menuk setelah menjadi janda karena ditinggal mati suaminya Soleh (Reza Rahadian), seorang Banser yang tewas terkena bom setelah menjaga Gereja pada hari Natal. Jadi orang menjadi muslim niatnya untuk menikahi gadis cantik. Sebagaimana anda menjadi sutradara berfaham Sepilis dengan kejam menceraikan istri yang telah melahirkan satu anak demi untuk menikahi gadis cantik yang jadi pesinetron.

Hanung mengajak penonton membenci poligami karena ada adegan Endhita minta cerai gara-gara suaminya poligami (ini lucu deh! Hhahahaa)

Seandainya Anda setuju dan poligami dengan menikahi si pesinetron itu, Anda tidak perlu menceraikan istri dan menelantarkan anak anda sendiri sehingga tanpa kasih sayang seorang ayah kandung dan dengan masa depan yang suram. Kasihan benar anak dan istri anda korban dari seorang ayah yang kejam penganut faham pluralisme dan anti poligami.

Hanung melakukan kesalahan dengan menggambarkan Islam sebagai agama yang penindas, kejam dan anti toleransi terhadap umat lain terutama Kristen dan Cina:

“Padahal sesungguhnya meski mayorits mutlak, umat Islam Indonesia dalam kondisi tertindas oleh Kristen dan Katolik serta China yang menguasai politik, ekonomi dan media massa.”

Sayangnya, Adian Husaini tidak menyertakan alat analisanya ahaha. Padahal, kalau Adian menyertakan – pasti akan asik sekali. Membaca film adalah masalah subyektivitas karena menyangkut interpretasi si pembaca. Nah, karena isu subyektivitas ini, kegiatan membaca film perlu dibekali dengan alat-alat analisa yang cukup: mulai dari teori, latar belakang sejarah, dan metode. Metodenya ada banyak: semiotik, dekonstruksi, wacana sosial, dan beberapa yang lain. Siapa saja berhak membaca film dengan cara apa saja sehingga menghasilkan analisa tertentu. Tapi ya itu tadi – supaya tidak membabi buta dalam menyatakan sikap dan pandangan (semoga tidak haram karena ada ‘babi’-nya).

Saya yakin, pasti masih banyak di luar sana yang juga “membaca” film tanda tanya ini dengan cara dan sudut pandangnya sendiri. Pasti menarik sekali. Saya sendiri belum nonton. Tapi, menarik juga nonto orang membaca film ini.

Saya jadi inget cerita salah satu dosen saya di program master dulu. Dia cerita tentang seorang dari Madiun yang mau menghidupkan lagi kejayaan bakso Madiun. Karena katanya, dulu itu bakso Madiun enak sekali. Entah kenapa – bakso Madiun jadi kalah pamor dengan bakso Malang. Lalu orang ini membangun sebuah warung bakso (di Madiun). Sebagai salah satu senjata pemasaran (yang dipikir) mantab, orang ini menulis: MADIUN BANGKIT LAGI pada tembok dan genteng rumahnya dengan: cat warna merah. Tidak dalam hitungan minggu, beberapa hari kemudian satu truk pasukan militer datang menyerbu warung bakso yang baru dibangun itu. Bangunannya dihancurkan dan tukang bakso ditangkap.

Hahaha kenapa coba?

Gambar dari sini.

=======
Men are disturbed not by things, but by the view which they take of them – Epictetus.

6 thoughts on “Mari membaca tanda (tanya)

  1. *manggut-manggut baca tentang “membaca film”*😮

    Eeeeeeh tampaknya saya tahu itu kenapa kok warung bakso Madiun dihancurin. Jangan2 disangka PKI yang mau bangkit lagi ya?😀

  2. Hore! Asop bener. NTar kalau aku pulang, silahkan menagih satu buku untuk hadiahnya ya Sop (beneran nih!).
    Iya. Karena PKI itu (entah kenapa) identik dg merah (komunis) – dan memang dulu pernah ada PKI di Madiun. Hahaha kita menginterpretasi sesuatu berdasarkan ‘knowledge’ kita. Itu true story loh. rumahnya luluh lantak (dibakar) dan yg punya dipenjara. *kasihan*
    Dasyat ya kekuatan interpretasi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s