Buah simalakama


…dimakan mati ayah, tidak dimakan mati ibu.

Nggak segitunya sih. Yang jelas, ini bukan postingan saru.

Tapi, ini tentang saya dan Gita. Sebelum saya melahirkan, saya baca beberapa buku yang mengatakan cara mudah memberikan pendidikan seksual pada anak. Caranya adalah mengajak anak mandi bersama orang tua (baik ibu maupun ayah). Buku itu menganjurkan untuk melakukan sedini mungkin, lalu berhenti saat anak ada di usia tertentu.

Tujuannya adalah agar anak melihat (dan terbiasa berpikir bahwa) organ seksualitas sebagai organ biologis yang berfungsi untuk alat reproduksi – bukan organ saru (pertama). Juga, agar anak menyadari bahwa ibu (perempuan) dan ayah (laki-laki) memiliki organ seksual yang berbeda – tentunya dengan fungsi yang berbeda (kedua). Salah satu buku (saya lupa judulnya) mengatakan, ada kencenderungan anak akan bertanya apa beda milik ayah dan milik ibu. Dari pertanyaan-pertanyaan itu, orang tua (diharapkan) dapat memberi penjelasan mengenai fungsi dan tentunya konsekuensi (maksudnya, bukan secara seksual tapi juga sosial).

Nah.

Beberapa minggu yang lalu, ketika saya sedang menstruasi – saya mengajak Gita mandi bersama. Bener aja, dia bertanya “itu apa”. Lalu, saya jawab: “Ibu sedang menstruasi”. Gita bertanya, apakah sakit atau tidak berdarah seperti itu. Saya jawab: “Kadang ada yang sakit, kadang ada yang tidak. Tapi, sakitnya di daerah perut atau bawah perut, atau di daerah pinggul tapi, bukan di “situ”.” Lalu, komentar lanjutannya adalah: “It’s all right, Bu. You will get well soon. Just have a rest so it won’t happen again. I hope your bleeding will stop soon.

Hmmm.

Dan saya lalu menerangkan bahwa “bleeding” itu adalah kejadian bulanan dalam jangka waktu empat sampai tujuh hari. Tapi, kebanyakan perempuan mengalami setiap bulan.

Mata Gita terbelalak. “Kenapa?”

Lalu penjelasan soal ovarium. Eggs. Womb.

Am I going to have it also, Bu?” I replied: “Sure, I hope so“. Pertanyaan lanjutannya: “When?” Jawab saya: “No, maybe a bit later, when you are 14 or 15 years old”. Dan kata Gita: “Oh. I should not worry about it now then”. “Yes, Gita. Of course not now. Still long to go“.

Lalu mandi pun selesai.

Beberapa hari kemudian, ketika menstruasi saya sudah mau selesai – saya dan Gita ngobrol lagi di bawah pancuran air. Gita mulai bertanya tentang: “Wah, sudah berhenti ya berdarahnya? Aku senang kamu tidak kesakitan lagi”. Lalu, selanjutnya: “Aku dulu telur juga ya?” Saya jawab: “Ya, Gita”. Lanjutannya: “Kok bisa jadi aku?” Jawaban saya: “Karena, telur bertemu sperma”. Bisa nebak pertanyaan berikutnya?

Pfff.

What is sperm?

Lalu penjelasan mengenai men’s sperms. Lots of sperm. Only one will survive, which penetrates the egg. Fertilisation. Lalu mandi pun selesai.

Tadi malam, sebelum tidur – Gita tanya: “How can men deliver sperm into women’s womb?“.

Berpikir keras.

My answer was: “Through the passageway, tubular track inside women’s body – known as vagina”. Gita kept going, continued with next question: “How?”. Then I drew a picture. Then she asked: “Have you ever tried that?”. Jawaban saya: “Sure, that’s why I have you now”.

Saya pikir, Gita udahan dengan pertanyaannya.

Ternyata, “When will you do it again, Bu? May I see?”

Dan buah simalakama… Maybe I should have believed “ignorance is bliss”.

Jadi, jawaban saya adalah: “Let’s have some rest, Gita. Aren’t you tired? You had swimming today”.

Gambar diambil dari blog ini.

11 thoughts on “Buah simalakama

  1. Hahah… :)) such a nice conversation.
    Anakku lanang kabeh… dan masih berkutat dengan truk molen, mobil ambulans, truk tengki air, mobil sedan, mobil derek, traktor, dll dll.🙂

  2. 😆 ohmy, gita.. rasa ingin tahu anak2 memang besar ya, mbak.. dan untungnya gita punya mba titut, jadi sebagian besar rasa ingin tahu nya bisa terjawab dengan baik tanpa salah paham😉

  3. Clara, was looking for you (and found this nice blog!) to tell you that we agree to extend the deadline…. contact me (by email) for further info, OK?
    Btw, you did very well in explaining a difficult subject to Gita!

  4. Masih banyak ya, saking pahitnya, mahkota dewa dijadikan kambing hitam. Padahal si malakama kalau di pisah menjadi ‘mala’ dan ‘kama’. ‘Mala’ itu artinya buruk, jelek, tidak bermutu. Lha, ‘kama’ bermakna benih, biji, bibit. Harfiahnya, sepele, bibit yang bermutu buruk. Ditanem hasilnya bakal ‘ngecewain’, dibiarin tergeletak terlihat ‘nyebelin’. Begitu kali. Sekarang tugas kita ‘mengobok-obok’ dunia maya asal dari bahasa apakah: MALA DAN KAMA itu yang kalau digabung

    • Masih banyak ya, saking pahitnya, mahkota dewa dijadikan kambing hitam. Padahal si malakama kalau di pisah menjadi ‘mala’ dan ‘kama’. ‘Mala’ itu artinya buruk, jelek, tidak bermutu. Lha, ‘kama’ bermakna benih, biji, bibit. Harfiahnya, sepele, bibit yang bermutu buruk. Ditanem hasilnya bakal ‘ngecewain’, dibiarin tergeletak terlihat ‘nyebelin’. Begitu kali. Sekarang tugas kita ‘mengobok-obok’ dunia maya asal dari bahasa apakah: MALA DAN KAMA itu yang kalau digabung menjadi [buah si] malakama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s