Casey the Punisher :*


Yang sekali ini tentang bullying.

Minggu lalu, TV di Australia ramai menayangkan perlawanan Casey. Casey ini bocah lelaki yang dari kelas dua (kira-kira umur tujuh tahun) sampai tiga minggu yang lalu (15 tahun) mengelami “bullying” di sekolahnya. Akhirnya, kira-kira tiga atau empat minggu yang lalu Casey memutuskan untuk melawan anak-anak yang mengganggunya.

Dalam rekaman video sekolah, diperlihatkan seorang anak (yang jauh lebih kecil ukuran tubuhnya) memukuli Casey di bagian perut. Lalu, tiba-tiba Casey maju, meraih tubuh anak itu – mengangkatnya, lalu membanting ke tanah. Casey sendiri, setelah kejadian, langsung berlalu.

Bullying, sepertinya belakangan ini “mulai” terdengar sering dilakukan anak-anak di sekolah pada temannya. Bentuknya bullying ini bermacam-macam. Mulai dari bentuk “menggoda” sampai yang paling hardcore: “menyakiti fisik” (ada beberapa yang ekstrem sekali, berakhir pada kematian). Sekarang, malah ada yand disebut online bullying: kegiatan bullying yang dilakukan di dunia cyber melalui online media.

Kenapa Casey di bully? Karena gemuk. Katanya, anak-anak itu pintar mencium “keanehan” temannya. Anak-anak yang dipilih untuk “dikerjain” biasanya “menarik perhatian” karena “aneh”: berperilaku berbeda, ukuran berbeda (gemuk sekali, kurus sekali, tinggi sekali, pendek sekali, dll), berpenampilan berbeda (baju, rambut, sepatu, warna kulit, dll), dan punya ketahanan tubuh berbeda (lemah, mudah sakit, pucat, dll).

Yang paling membuat saya sedih, ACA juga menayangkan wawancara dengan pelaku (yang dibanting Casey). Pewawancara menanyakan “Do you feel sorry?” Anak tersebut menjawab dengan tangkas: “No”. Terkejut? Saya juga. Pewawancara itu juga. Makanya si pewawancara itu bertanya: “Why?” – jawabannya: “Karena saya dulu juga di bully”. Lalu pada bagian wawancara yang lain ada jawaban lain: “Karena semua anak melakukan itu pada Casey”.

Ada dua sebab. He passed it on (karena dulu juga di bully). He saw everybody did that to Casey (mencontoh). Dua kondisi cukup dan perlu. Dan anak itu merasa “tidak ada yang salah dengan bullying. “Toh dulu saya juga dibuli. Toh semua anak juga melakukan”.

Mengerikan ya? Mengerikan, karena saya selalu berpendapat anak-anak itu baik: dilahirkan dengan kebaikan.

Tetapi, masyarakat merusak mereka.

Masyarakat? Ya. Kok?

Pertama, sekolah tempat Casey itu belajar kemana aja?
Dalam wawancaranya dengan Casey, ACA tanya: kamu pernah nggak lapor? Jawabannya: Ya. Jadi, setiap kali Casey mengalami bullying – sekolah meminta anak itu untuk membuat surat laporan. Lalu MEMPERINGATI anak-anak yang membully Casey. Memperingati? Ya. Berapa surat laporan yang pernah dibuat Casey? 80 lembar surat pengaduan. Disekolah yang sama? Ya, sekolah yang sama.

Menurut saya, sekolahannya Casey tuh benar-benar tidak peduli. Peringatan? Come on! Peringatan macam apa?

Saya ingat, dulu – anak saya, Gita pernah juga dibully. Berkali-kali Gita bercerita dijadikan sasaran oleh anak ini. Suatu hari, Gita menolak untuk baris. Setelah saya bentak pun, dia tetap tidak mau kembali ke barisan. Ketika saya bicara sambil berlutut, Gita menunjukkan lebam biru di bagian tulang keringnya. Saya langsung menemui guru kelasnya, yang menjawab: “Akan saya laporkan pada kepala sekolah. Tetapi, sekolah tidak bisa melakukan apa-apa”.

Well, ya. Kamu pasti tahu saya. Dengan marah, saya tanya ke gurunya: “What do you mean you can’t do anything? Also with this? *sambil menunjukkan biru di tulang kering Gita* I sent Gita today to school without having this brust. How could you say the school can’t do anything? YES, YOU CAN – or I WILL.”

KEesokan harinya, ketika saya bertugas di kantin – saya diberitahu Gita dipanggil kepala sekolah. Setelah pertemuan selesai, saya melihat anak yang membully Gita pergi kemana-mana diikuti seorang perempuan yang terus mengawasi sambil mencatat.

Well, I am very proud to Gita’s school. They did care.

Tapi, sayangnya sekolah Casey tidak. Bayangin aja – dari umur tujuh tahun sampai umur 15 tahun di sekolah yang sama. Oh my.

Kedua, orang tua pada kemana? Tau nggak sih, baru pas wawancara – ortunya Casey bilang mau mindahin anaknya ke sekolah lain. Hello?? Setelah delapan tahun? Setelah anaknya hmmm sampai bilang: “every day, going to school just like going to the war”. Wow.

Ketiga – ini yang paling menyedihkan tapi kerap terjadi: menindas karena melihat orang menindas s. Bukti kalau manusia itu, nggak anak kecil atau dewasa: sama aja. Coba deh liat khasus orang yang menggebuki maling. Kadang mereka ikutan menggebuk tanpa tahu alasannya: hanya karena melihat orang lain – beramai-ramai, menggebuki satu orang. Terpicu karena orang lain, beramai-ramai melakukan hal yang sama. Ikut-ikutan tanpa tahu sebab asal muasalnya.

Keempat – ini juga sering terjadi: menindas karena (dulu pernah) ditindas. Ring a bell? Hahaha. Rasanya saya nggak perlu menjelaskan ya?

Perlawanan Casey menggerakan banyak hati orang untuk menulis email: mengucapkan selamat dan terimakasih.

Ucapan selamat terdengar wajar ya. Tapi terimakasih? Hmm ternyata, banyak orang merasa mendapat inspirasi dari tindakan Casey: tidak banyak korban bullying yang berani melawan. Untuk banyak orang (yang aku percaya merupakan khasus tersembunyi) – memilih diam dan menarik diri kalau di bully. Artinya, para korban yang memilih diam ini – membiarkan aroma ketakutan mereka tercium oleh para pelaku bullying. Artinya, mereka memilih untuk lebih lama menjadi korban.

Yang paling mengharukan, salah satu email: dari seorang pemuda berumur 24 tahun yang bilang “Five or six thousand miles away, you’ve given hope to this forty two years old man hope – Ian, US”.

Wow. Ternyata, nggak banyak ya – orang yang bisa MEMILIH untuk keluar dari tekanan. Mudah-mudahan, keputusan Casey bisa jadi satu momentum untuk para mereka yang tertindas untuk melawan.

Hebat sekali, Casey.

6 thoughts on “Casey the Punisher :*

    • Nggak dan iya. Sama kok Nabil. Bedanya di Indonesia itu lebih ke “silent cases”.

      Well, aku juga dulu korban bullying. Kenapa? Karena aku gendut.
      Aku pernah kok selama beberapa bulan di kucilkan satu klas, dikerjain, dll.
      But, well – aku tidak seberani Casey. Jadi diam saja. dan aku percaya banyak anak di Indonesia yang diam seperti aku.

  1. kalo ga salah dulu ada kasus heboh jg. Ttg anak asia diamerika yg bawa pistol nembak2in org2 ditaman sekolah apa kampus gt krn udah ga tahan dibully. Lupa deh berita persisnya pas jaman aku kuliah dl kalo ga salah.. Gila y. Efeknya jg bs seekstrim itu.

    Btw mbak, salut dirimu msh sempet nulis tulisan yg inspiratif gini ditengah hecticnya s3. Hehehe..😀

  2. Ouch, dibanting??😦

    Duh, di Indonesia sini juga mengkhawatirkan, tapi di tingkat kuliah.😀
    Biasa, perpeloncoan. Alasan memelonco adik angkatan serupa seperti si korban di atas, “karena saya dulu juga dapat perlakuan seperti itu waktu saya mahasiwa baru”.😐
    Jadi lingkaran setan, gak ada habisnya.

  3. kalau perpeloncoan itu pemerintah aja disalahkan,.. perpeloncoan harusnya ditiadakan.. .. mosok masuk kuliah kayak mau masuk ABRI…

    btw, looking at the past… menurutku di Indonesia nggak seserem di western schools.. ya aku lihat beberapa anak yg dikucilkan,.. tapi kalau di Indonesia cuan sebatas mengejek,.. nggak sampek memukul.. dll dsb…
    tapi yo bener ding,.. even dikucilkan pun bisa merusak mental anak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s