Ala(h) bisa karena biasa


Pribahasa jadul yang singkatnya berarti: menjadi biasa karena ter/dibiasakan. Kali ini tentang keragaman di Indonesia, negara saya. Penyerangan terhadap jemaah Ahmadiah di Banten dan pembakaran gereja di Bekasi. Dua kejadian terbaru yang membantu saya memanggil ingatan masa lalu. Mulai dari pelarangan membangun rumah ibadah, perang antar suku (Madura vs Dayak), perang antara “etnis” (lokal Indonesia vs Cina Indonesia), dan perang antar partai (Golkar vs PDI).

Kalau peribahasa ala(h) bisa karena biasa itu benar, hmmm saya bingung saja. Mari belajar geografi. Indonesia itu letaknya kan di persimpangan ya: dua benua dan dua samudra. Strategis, sangat. (Waktu saya masih SD, bangga sekali setiap kali disodori kenyataan bahwa posisi geografis Indonesia itu diapit dua benua dan dua samudra. Kesannya gimana gitu). Karena posisi silangnya itu, dari jaman baheula – banyak orang dari berbagai tempat datang dan berdagang (atau pelesiran): beda bangsa, beda agama, beda etnis, beda tingkat ekonomi, beda tingkat pendidikan. Entah, ini apes atau untungnya Indonesia. Tanah yang subur dan cantik akhirnya menarik orang untuk menetap (dan menjajah).

Tapi, intinya adalah: udah biasa orang asing itu sliweran, menetap dan hidup di Indonesia. Mata kita itu warisan nenek moyang, yang matanya biasa melihat orang Arab, orang Belanda, orang Portugis, orang Cina, orang jelek, orang cakep, orang item, orang putih, orang tinggi, orang pendek. Macem-macemlah. Nenek moyang kita bukannya terbiasa dengan praktik hormat menghormati hidup berdampingan, hidup dengan harmonis dan saling membantu?

Tapi kok… nggak terbiasa juga ya sampai hari ini? Masih aja nggak bisa hidup rukun, akur, dan bahagia – hidup bersama orang-orang yang berbeda-beda. Masih aja takut, curiga, negatif pada mereka yang berbeda. Takut apa? Hmmm mungkin karena nasionalisme yang tipis? Tidak percaya pada UUD 45 dan Pancasila yang memang sudah disiapkan untuk mengantisipasi perbedaan-perbedaan di Indonesia?

Atau….

Karena sebelum jaman NKRI dulu – tiap etnis di Indonesia biasa perang? Ribut sana. Ribut sini. Serang sana. Serang sini. Rebut anak gadis orang, rampas harta suku tertentu, menduduki tanah etnis tertentu. Praktik kekerasan untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar. Hasrat kita itu warisan nenek moyang, yang hasratnya ingin memiliki kekuasaan lebih besar supaya keuntungan juga berlipat? Sehingga, kita jadi terbiasa dengan kekerasan dan penindasan (asal dapat kekuasaan lebih)?

Jadi, ala(h) bisa karena biasa yang mana?

Atau saya harus bilang kalau asumsinya Putnam bener? Putnam punya gagasan tentang sosial kapital. Di jaman spektakuler seperti sekarang, sebenernya – warganegara nggak butuh pemerintah. Di jaman Internet dan komunikasi mutakhir macam sekarang, warganegara sangat berdaya untuk mengatur lalulintas hidup bernegara.

TAPI

Tendensi orang untuk mencari rasa nyaman dalam kelompok-kelompol sejenis – meruntuhkan harapannya Putnam. Kata asumsi identitas kolektif, manusia itu kan pada dasarnya mahluk sosial. Bisa mati kita, kalau nggak punya temen. Akhirnya, manusia mencari perlindungan dan rasa aman dalam kelompok sosial (bukan ormas sosial hehe). Biasanya, kelompok sosial yang disasar itu adalah kelompok sosial yang punya karakter sejenis. Masalahnya, kalau sudah tergabung dalam kelompok – anggotanya akan melihat orang di luar kelompok sebagai ancaman. We and Us. I and Them. Saya dan Kamu. Kami dan Kalian.

Haha kebayang nggak sih. Untuk kasus di Indonesia – ada berapa kelompok: agama, etnis, partai, ekonomi, dan lainnya. Ada berapa I dan Them, yang masing-masing merasa kelompoknya terancam atas keberadaan orang/kelompok lain yang berbeda.

Apesnya Indonesia. Maaf.

Gambar diambil dari sini

4 thoughts on “Ala(h) bisa karena biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s