Be Evil!


Kemarin saya datang ke konferensi Indonesians Overseas: Historical Perspective. Salah satu penyaji makalah memaparkan jejak-jejak budaya Indonesia di Cape Town, Afrika. Mulai dari kitab kuning sampai beberapa kata yang akarnya dari bahasa Melayu (Melayu Indonesia). Berdasarkan paparannya, jejak-jejak budaya itu berasal dari budak-budak dari Indonesia yang dibawa ke Afrika ratusan tahun lalu oleh kolonial Belanda.

Pada sesi tanya jawab, seorang pendengar menyatakan argumennya. Menurut dia, sebenarnya yang meninggalkan jejak-jejak itu bukan budak, tetapi para perempuan “lokal” Indonesia (ada gitu perempuan bukan lokal Indonesia? errr). Perempuan-perempuan ini adalah selir-selir atau istri-istri “kontrak” (si Bapak yang berargumen bilang ‘concubine‘ mungkin maksudnya ‘nyai’ di zaman Belanda ya?) orang-orang Belanda ketika mereka datang ke Indonesia.

Nah, ketika orang-orang Belanda ini pindah tugas ke Afrika (Cape Town), nyai-nyai ini pun dibawa serta (inget kan ya, di abad 17 Afrika itu dijajah oleh Inggris dan Belanda). Nah, masa dominasi apartheid (apartheid adalah sistem pemisahan ras secara hukum/legal di Afrika Selatan yang dicetuskan oleh partai nasional) nyai-nyai ini disingkirkan. Walau baru disahkan tahun 1940an, tapi pada dasarnya akar pemisahan ras ini sudah terjadi sejak abad 17an. Cek deh di sini:

The roots of apartheid go back to the first decade of European presence on the Cape. The white settlers did not consider the prospect of sharing citizenship with Africans, but they well understood the advantages of exploiting non-white labor in capital development and wealth creation. They began using slave labor — African and Asian — within five years of setting foot on the Cape, in farming and other chores. The 1707 census listed 1,779 whites settlers with 1,107 slaves.

Nah, karena kondisi ini, orang-orang Belanda yang membawa para nyai mulai ‘menyingkirkan’ pasangan berkulit gelap yang dibawa dari Asia. Bagaimanapun, jaman itu (errrr sampai sekarang rasanya ‘rasa’ itu masih ada kali ya. Tsaaaahah!) apapun yang kulitnya berwarna dianggap derajatnya lebih rendah dibanding yang kulitnya putih (white supremacy).

Well, argumen si Bapak ini kuat juga. Si Bapak menyebut informasi yang dibaginya pada para peserta (dan penyaji) dalam konferensi itu dengan sebutan “hidden history“. Cerita. Cerita. Cerita. Mau budak atau ‘nyai’, mengacu pada Foucault: kekuasaan dan wacana, dua versi keberadaan orang Indonesia di Cape Town itu benar-benar merefleksikan posisi orang Indonesia jaman itu: warga kelas dua (atau kelas tiga, atau kelas empat). Tidak punya kekuasaan, sehingga tidak bisa bercerita. Tidak punya kekuasaan, maka tidak bisa membuat sejarah.

Selama hidup saya, paling tidak sudah empat kali saya membuktikan bahwa argumen Foucault itu benar: wacana dan kekuasaan itu saling menjalin. Yang pertama ketika saya membuat tesis untuk S2, dan menemukan bahwa Mulan versi Disney beda banget sama Mulan yang dikenal oleh masyarakat Cina. Sayangnya, karena DIsney lebih punya kuasa – kita dan anak-anak kita jadi tahunya MUlan yang versi Disney (yang sama sekali tidak keren).

Yang kedua ketika datang ke presentasi disertasinya Gadis Arivia, dan jadi tahu latar belakang pembakaran para tukang sihir di Barat sana. Baru sadar, bahwa tukang sihir itu selalu identik “perempuan” (dan yang dibakari jaman dulu dengan isu tukang sihir adalah perempuan-perempuan)*. Tukang sihir identik dengan mistis jahat, tidak dilihat dari segi kepemilikan ilmu. Bahwa, semua perempuan yang punya ilmu dan kecerdasan luar biasa (dan tahu cara memanfaatkan ilmu dan kecerdasaanya – kekuasaan) adalah tukang sihir.

Ahh jadi ingat seorang teman yang selalu menjuluki saya: PKI (Perempuan Korban Ilmu). Hahaha. Dan, di ranah patriarki – tidak boleh itu terjadi! Mana boleh perempuan lebih punya kuasa dibanding laki-laki? Sehingga – ilmu pengetahuan yang ‘sudah dikenal’ sebagai salah satu alat untuk menjadi kuasa, haram dijamah perempuan. Eh, boleh ding! Asal jangan banyak-banyak. Asal, jangan sampai sama banyak dengan jumlah ilmu yang dimiliki laki-laki. Ohhhh!!!!

Yang ketiga ketika saya menulis disertasi saya ini. Salah satu bab dalam disertasi saya bicara soal ilmu pengetahuan dan kekuasaan. Akhirnya, mau tak mau menyinggung soal Gerwani. Dan setelah selesai menulis bab itu, maaf seribu maaf, saya menjura pada organisasi perempuan ini. Menurut saya, jaman keemasan perempuan di Indonesia itu ada pada jaman Gerwani. Gerakan mereka tidak pandang bulu, sangat militan. Walau para petingginya itu adalah perempuan-perempuan ‘high-profile’, mereka tidak ragu turun ke desa-desa terpencil (grassroot), mengajari perempuan-perempuan petani membaca dan menulis dan berargumen. Dan, program mereka sangat jelas. NGgak cuma sekadar membaca dan menulis, tapi diajari membaca supaya bisa baca surat kabar, supaya bisa berpartisipasi dalam politik. Wow!

Apa yang saya baca mengenai Gerwani, beda jauhhhhhhh sekali dengan yang bertahun-tahun saya dapat dari film G 30 S PKI, atau buku-buku PSPB (singkatan apa ya? Lupa saya. Ini salah satu mata pelajaran waktu saya SD sampai SMU dulu), jauh dari yang saya baca di buku-buku sejarah zaman SD sampai SMU dulu. Lagi-lagi, karena kekuasaannya – Orde Baru bisa menciptakan sejarah, mengubur ‘sejarah’ yang lain dalam-dalam supaya bisu.

Yang keempat adalah yang kemarin saya dengar dalam konferensi Indonesians Overseas: Historical Perspective. Dan saya belajar untuk memahami bahwa sejarah tidak pernah jauh-jauh dari kekuasaan. jangan pernah mau ‘diberi’ sejarah. Cari tau! Cari tau sendiri!

Dan saya juga jadi tahu, kenapa sejarah adalah history, bukan herstory 🙂

Power corrupts. Knowledge is power. Study hard. Be evil!
*ketawa setan*

* padahal, tukang sihir itu awalnya dari dukun: penyembuh dengan ramuan. Logikanya mudah saja, karena ada pembagian kerja berburu dan meramu. Berburu untuk laki-laki, meramu untuk perempuan. Perempuan jadi dekat dengan alam. Secara pengelaman, salah satunya jadi tahu: tumbuhan apa untuk obat apa. Perempuan jadi dekat dengan manusia (anak). Secara pengalaman, salah satunya jadi tahu: kalau bibir merah dan kering itu kenapa. Lewat mengamati dan mendengarkan dan percobaan, jadi punya kuasa menyembuhkan. Tapi, lalu dicemburui oleh laki-laki. Dari dukun, istilahnya diganti penyihir/tukang tenung. Bah!

Gambar di ambil dari sini.

10 thoughts on “Be Evil!

  1. Wah…wah gitu ya, kasihan kaum perempuan yang selalu tertindas :p

    Btw, sejarah G 30 S PKI itu sampai sekarang masih kabur. Setahu saya Seoharto itu anak mudanya yang meyelamatkan RI dari pengaruh komunis, ntah iya atau tidak. *nyengir

  2. hmmm,. untuk yang afsel, aku dpt pengetahuan baru tuh mbak. thanx ya dah share pengetahuan semacam ini.
    soal PKI, well, i dont know wether its embarrassing or my lucky childhood, tapi aku gak pernah nonton film itu seumur hidupku. waktu kecil meskipun gurunya nyuruh nonton tp ortuku gak kasih izin dan mereka menemui guruku untuk membuat perkecualian. pas aku dah dibebasin untuk nonton (SMP) film itu dah gak pernah di putar. my parents really protected me form that kind of movie, or story, or article.
    sudah nonton Mulan yang versi mandarin mbak? yang main Vicky Zou kalau gak salah. keren banget. beda buanget sama yang versi disney. ning marake nangis2.
    btw, sekarang jadi tau kenapa penyihir selalu disebut nenek sihir. :p

    • Belum pernah nonton tuh yg versi Vic Zhou. Tapi aku punya bukunya. Mulan itu beneran ada loh. Dia dari Cina Selatan (perbatasan dg Mongolia), yg budayanya beda dg Cina Utara. Perempuan2 Mongol itu jago perang. Jadi, tidak setereotipe perempuan kebanyakan. Keren deh pokoknya!
      Belum nonton G 30 S PKI? hehehe Nonton dong.

      • kl versinya vic zhou kie settingan asale gak jelas sih, tp emang dasare jago bela diri gitu. trus pas di camp ketemu ma temen kecile dulu. pokoke trus dadi jendral besar gt dan sir2an ma jendralnya dulu (pas dia jd prajurit). lha jendralnya kie anak ke 3 nya kaisar. tp endinge gak ada happy2nya. si anak kaisar mesti nikah ma cewe mongol biar di perbatasan damai, trus si mulan itu menjadi salah satu jendral besar. kl pas nemu coba nonton deh mbak. aku lebih suka versi yg ini dr pada versinya disney dengan naga dudut itu.

  3. mbaaaakkk…. pernyataan km yg “Well, argumen si Bapak ini kuat juga. Si Bapak menyebut informasi yang dibaginya pada para peserta (dan penyaji) dalam konferensi itu dengan sebutan “hidden history“. Cerita. Cerita. Cerita. Mau budak atau ‘nyai’, mengacu pada Foucault: kekuasaan dan wacana, dua versi keberadaan orang Indonesia di Cape Town itu benar-benar merefleksikan posisi orang Indonesia jaman itu: warga kelas dua (atau kelas tiga, atau kelas empat). Tidak punya kekuasaan, sehingga tidak bisa bercerita. Tidak punya kekuasaan, maka tidak bisa membuat sejarah.” itu maksudnya gimanaaa….

    saya lagi mendalami teori michel foucault tp saya ndak paham “wacana dan kekuasaan”…. dibaca bolak balik tetep g mudeng T_T skripsi saya pending mampus….. tulung bantuannya mbak yaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s