Pro Bono for Somba Opu


Waktu saya baca twit seorang teman, Ipul Ji, tentang Benteng Somba Opu, Sulawesi Selatan akan diganti dengan pusat rekreasi air (waterboom) – kok tiba-tiba rasa hati saya nggak keruan ya? Saya memang belum pernah mengunjungi Somba Opu. Tapi, saya tahu sejarahnya.

Sekilas saya baca di beberapa berita online, ada beberapa alasan bagus untuk menghancurkan situs bersejarah ini. Pertama, situs bersejarah ini tidak terurus. Biaya perawatannya hanya menjadi beban pemerintah Sulawesi Selatan. Intinya, tidak ada keuntungan apa pun yang dapat diperoleh dari benteng ini – selain ingatan sejarah. Kedua, hmmmm kepedulian terhadap keluarga dan anak? Coba lihat ini: “Kami akan membangun kawasan wisata bertaraf internasional di kawasan tersebut, selain kawasan budaya yang sudah dikenal selama ini. Kawasan ini akan menjadi pilihan wisata alam, konservasi alam, wisata keluarga, serta sumber pendidikan,” jelas Direktur PT Wira Mega Wisata I Ketut Saudika, Senin (18/10)”. Ada juga yang mengatakan ini: ” “Ini semakin melengkapi apa yang sudah kita miliki. Sejak bulan Ramadan lalu sampai hari ini, nyari kamar hotel sudah sulit. Tingkat okupansinya di atas 90 persen. Jumlah orang yang keluar masuk bandara berkisar 6.000-7.000 per hari. Ini menunjukkan kunjungan ke daerah kita sangat tinggi,” papar Syahrul dihadapan Gamawan.”

Nggak tau deh. Tapi lucu juga ya, sama-sama dalam satu pemerintahan dan satu negara. Tapi kok pemerintah lebih mendengarkan investor dibanding, misalnya arkeolog dari Unhas yang menyatakan: sebenarnya situs Benteng Somba Opu itu tidak boleh diganggu sedikit juga, bahkan cuma di cangkul aja nggak boleh. Lha, ini malah dibuldoser.


Pic taken from Ipul Ji’s facebook profile.

Nanti, tahu-tahu ada yang mengeluh kenapa anak-anak Indonesia lebih paham cerita Superman, Batman, Spiderman, Doraemon, dan Pokemon dibanding cerita Gajahmada, Imam Bonjol, Gatotkaca, Sawerigading, La Galigo, atau Perempuan Keumala. Nanti, tiba-tiba ada yang ngeluh kenapa generasi muda Indonesia lebih cinta budaya bukan Indonesia. Nanti, tiba-tiba ada yang resah kenapa masyarakat Indonesia semakin meninggalkan nilai-nilai baik Indonesia. Nanti tiba-tiba ada demo anti kapitalisme yang pake bakar-bakar bendera negara orang segala. Sementara, sumber-sumber ingatan kearifan negeri sendiri sedikit demi sedikit dihapus dari kepala kita (dan anak-anak kita). Sementara, diciptakan kondisi yang memandang orang-orang yang pergi ke museum/benteng/candi sebagai orang aneh. Aneh kan?

Bener deh, saya nggak lihat ada hubungan “kalau dibangun water boom, maka ada biaya untuk merawat Somba Opu”. Apa harus begitu ya, cara untuk merawat situs-situs budaya yang tidak menghasilkan uang? Sebenernya logikanya aneh nggak sih? Cari uang untuk membiayai perawatan, dengan cara yang justru akan menghancurkan tanpa jejak obyek yang akan dirawat. Hmmm *halloooo??*

Saya pernah dengar ada istilah yang namanya pro bono: “for the public good“. Mengingat, begitu banyak kebaikan hati tanah Indonesia (menyediakan diri dimanfaatkan, dieksploitasi, dijarah dan memberikan banyak keuntungan finansial pada para pengusaha, pemerintah, perompak, siapa aja deh) – apa tidak bisa ya, pemerintah melakukan tindak pro bono pada situs-situs bersejarah?

Kalau saya boleh milih, mending mall saja yang digusur lalu dijadikan pusat rekreasi aktivitas luar ruang untuk keluarga, gimana? Heran, banyak bener ya mall di Indonesia?

14 thoughts on “Pro Bono for Somba Opu

  1. Pingback: Pro Bono for Somba Opu | Tobytall's Blog - Website Kumpulan Dongeng

  2. aku beberapa kali ke makassar tapi belum pernah ke somba opu juga. sangat disayangkan kalo situs bersejarah harus tergusur oleh kepentingan modal. pemerintahan yang picik. boleh aku ikut share di fesbuk, mbak?

  3. ….menyedihkan….😦
    Gimana dengan pemda-nya? Apa juga menyetujui..?😦
    Gini ini kalo di negara berkembang, semua yang dilakukan hanya ingin mencari keuntungan….😐

    • Pemda setujulah! Wong yg meletakan batu pertama itu gubernurnya kok. Gile bener. APa juga ukurannya kok uang ya? Sedih deh aku.

  4. Ajaib..
    Pemerintah bilang tidak ada yg merawat, lalu akan merusak dgn alasan agar terawat??
    Alangkah baiknya dilakukan kajian lebih dalam mengenai sebab – sebab apa saja yg menjadikan sombaopu tdk terawat dan mengapa sombaopu kurang diminati.

  5. no comment deh mbak. cm bisa berharap, ntar kl aku punya anak masih ada peninggalan sejarah yang tersisa untuk kasih tau anakku ini lho sejarah bangsa ini.
    btw, tak share di twit ya.

  6. Pingback: Tweets that mention Pro Bono for Somba Opu | Tobytall’s Blog -- Topsy.com

  7. salam kenal
    oh ya, aku juga baca berita ini di kompas, dan itupun cuma berita kecil sekali, aku hampir2 nggak baca,
    dan potongan koran itu masih kusimpan, rencana mau disiapkan untuk artikel,
    ok, boleh kupinjam sebagian isi dan fotonya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s