Barbie in Mermaid Tale: a Millitant Barbie?


Sudah nonton Barbie in Mermain Tale? Ini bukan serial film Barbie yang paling baru kok. What do you think?

Kalau menurut saya: keren. Yang paling keren adalah cara film ini menggambarkan hubungan mesra anak perempuan dan teknologi. Memang, kalau lihat data tentang blogger: jumlah blogger remaja perempuan populasinya paling besar diantara kategori demografis lain. Tetapi, kalau melihat penelitian-penelitian tentang teknologi internet, terutama yang fokus melihat kenyamanan dan kemampuan menggunakan komputer/internet: remaja perempuan lebih kikuk dan nggak pede menggunakan komputer/internet, juga lebih tidak ahli dibanding laki-laki.

Nah, Merliah dan teman-temannya dalam film ini nyaman sekali menggunakan komputer/internet: mematahkan mitos technophobia atau technology anxiety atau fear of technology di kalangan perempuan. Eh, pernah dengar kan tentang perempuan dan technophobia/technology anxiety/fear of technology? Intinya sih bilang kalau: perempuan itu bawaannya ga nyaman aja kalau pakai teknologi (dibanding laki-laki). Ada sih, perempuan-perempuan yang kemampuan teknologinya mengalahkan laki-laki. Tapi seringnya perempuan-perempuan ini dianggap “bukan perempuan biasa” (para feminis menyebut: militant women). Hhmm. Saya termasuk yang nggak percaya, kalau ada yang mengatakan bahwa perempuan secara alamiah punya ketakutan/ketidakmampuan terhadap teknologi (dan matematika). Haha. Mitos tuh! Well, kalaupun bukan mitos – saya 100% percaya itu bentukan sosial. Nah, film ini keren benar untuk dijadikan salah satu senjata membongkar ulang bentukan sosial tentang perempuan dan teknologi.

Walaupun penggambarannya agak-agak mustahil, tapi menurut saya film ini memberdayakan perempuan (tepatnya: anak perempuan) dengan memperkenalkan manfaat apa yang bisa didapat dari Internet (tanpa bermaksud sinis: selain social-networking-an, online shopping, instant messaging *menurut banyak penelitian tiga hal ini yang paling banyak dilakukan perempuan dengan Internet*. Iya, bener. Tiga hal itu positif juga. Tidak ada yang salah. Saya hanya melihat, film ini menawarkan manfaat internet yang lain.)

  1. mencari informasi sehingga menjadi lebih “berdaya” (errr waktu Merliah *dari dalam laut* minta tolong temannya mencari data tentang tiga benda yang dapat menghancurkan kekuatan jahat Calissa). Dan saya ingat komentar Gita waktu menonton film ini: I did that too! I learn how to pronounce words on the Internet and found things about the bunyip.
  2. mengenal dunia luas: ide bahwa Internet dapat membawa kita kemana saja melihat tempat-tempat yang jauh dari tempat tinggal kita (waktu Merliah memperlihatkan dunia bawah laut dan butiknya *hehehe teteuppp sterotipe perempuan* tapi kan nggak apa-apa! Laki-laki juga suka belanja kok! Tentu dengan masculine taste-nya mereka. Tetap, nggak papa kan?)
  3. berkomunikasi, melewati batas-batas fisik/waktu (waktu Merliah berkomunikasi dengan teman-temannya menggunakan Internet).

 
Banyak yang komentar, film ini (lagi-lagi, katanya, seperti film khas perempuan yang lain: berisi tentang mitos-mitos yang nggak bener, seperti putri duyung. Ah, mitos itu kan pengetahuan yang tidak mampu kita (manusia) pecahkan. Hanya karena tidak mampu kita pecahkan, lalu kita dengan mudahnya bilang kalau itu mitos. Hehe. Lagi pula, laki-laki juga hidup dengan banyak mitos kok. Seperti Rambo yang dibunuh kayak apa tetep hidup aja, ya kan?)

Eh, satu lagi yang penting: film ini menyajikan asiknya jadi perempuan tanpa harus punya kisah romantis, alias being single. Hidup itu tidak harus menggarisbawahi pentingnya cari jodoh, tetapi: petualangan, persahabatan, kepedulian pada orang lain dan pilihan hidup.

Satu lagi isu yang menurut saya penting: walaupun tidak diasuh orang tua (ibu) melainkan oleh kakek angkat, Merliah tumbuh jadi anak (perempuan) yang baik kok (cerdas, bertanggung jawab, sehat, peduli, dan positif). Apa ya, mmhh – menurut saya film ini juga menawarkan diri sebagai alat pembongkar bentukan sosial bahwa peran perempuan sebagai pengasuh anak adalah alamiah.

Oiya, ada satu hal yang penting tapi… Saya sih menyarankan pada orang tua/pengasuh anak untuk tetap mendampingi anak-anak ketika menyaksikan film ini. Soalnya, errr – internet itu kan termasuk teknologi segala bisa: bisa membawa manfaat, bisa membawa mudarat. Nah, pelan-pelan ketika/sambil menonton tetap disuarakan “kemungkinan-kemungkinan” lain. Paling tidak memperkenalkan bahwa “tidak semua tentang Internet/teknologi itu bermanfaat”.

Eiya, ada yang lucu. Gita punya boneka-nya Merliah. Hal pertama yang dikeluhkan Gita adalah: “Wow! This Merliah has giant foot!!! Other shoes don’t fit her foot! Hahahaha. Setelah saya cek, bener aja loh! Kakinya Merliah lebih besar dibanding kaki Barbie yang lain!

 

One thought on “Barbie in Mermaid Tale: a Millitant Barbie?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s