All good!


Waktu saya lulus SMU, saya “hanya” keterima di program D3 bahasa Jerman. Saya masih ingat, rasanya malu sekali bertemu teman-teman saya yang kuliah di tempat “lebih keren”. Beberapa saat setelah itu, saya lalu diterima di Jurusan Komunikasi. Saya masih ingat komentar ibu saya: “Coba, waktu itu kamu langsung keterima di tempat yang “keren”, kamu tidak bisa seperti sekarang”. Saya sempat bingung dengan maksud ibu saya. Lalu ibu saya menjelaskan, “Sekarang, kamu bisa jadi sarjana komunikasi yang bisa bahasa Jerman. Belum tentu teman-temanmu yang lebih dulu keterima di tempat “keren” punya bonus seperti yang kamu punya sekarang”.

Lalu, ketika saya sedang kuliah – rasanya iri sekali melihat teman-teman saya magang di sana dan magang di sini, dapat uang tambahan untuk jajan, dan terlebih: terlihat keren. Tapi juga, saya merasa takut: takut tidak bisa dapat kerjaan setelah lulus. Karena waktu itu saya pikir kalau bisa magang sebelum lulus, saya bisa punya koneksi. Jadi, begitu lulus tidak akan sulit dapat kerjaan (karena saya tahu, betapa kecil probabilita mendapat pekerjaan yang lowongannya diambil dari surat kabar). Tapi, ibu saya bilang: “Sabar saja”. Begitu saya dinyatakan lulus sidang skripsi, saya langsung melamar kerjaan – yang lowongannya saya dapat dari iklan di surat kabar besar nasional. Selama menunggu waktu wisuda, saya mendapat beberapa panggilan. Seminggu sebelum saya wisuda, saya sudah diterima disebuah biro iklan. Tepat di hari wisuda saya, saya sudah mulai bekerja. Untung, waktu itu saya tidak dapat tempat magang dan tidak keterima kerja selama kuliah. Entah, kalau sampai keterima – apakah saya bisa lulus tepat waktu.

Pengalaman melamar S3 juga sama. Selama hampir tiga tahun, saya berusaha melamar S3. Tidak ada satupun yang tembus. Saya mulai putus asa. Persis ketika Gita mau masuk TK, tiba-tiba seorang profesor bersedia menjadi pembimbing saya. Lalu, saya mulai mencari beasiswa. Saya masih ingat, wawancara pertama tes beasiswa – dan saya dinyatakan tidak lulus. Tapi ya sudah, saya pasrah. Dua minggu kemudian, seorang teman mengirimkan SMS yang bilang: “Selamat ya, kamu dapat beasiswa” (dari institusi lain). Dan, disinilah saya sekarang setres berat menulis disertasi S3 saya.

Tapi sekarang saya bersyukur, untung saya tidak keterima S3 selama waktu tiga tahun itu. Sekarang, semua lebih mudah – karena Gita sudah masuk sekolah dan biaya sekolahnya gratis. Kalau dalam waktu tiga tahun itu saya keterima, Gita pasti masih kecil sekali, artinya saya harus membayar untuk daycare. Untung saya tidak lulus tes beasiswa pertama. Karena institusi yang memberikan beasiswa hanya memberikan uang saku 1200 AUD, jauh lebih sedikit dari yang saya terima sekarang, artinya – belum tentu saya bisa mengajak serta Gita.

There is a time for everything, and a season for every activity under heaven:
a time to be born and a time to die, time to plant and a time to uproot,
a time to kill and a time to heal, a time to tear down and a time to build,
a time to weep and a time to laugh, a time to mourn and a time to dance,
a time to scatter stones and a time to gather them,
a time to embrace and a time to refrain,
a time to search and a time to give up, a time to keep and a time to throw away,
a time to tear and a time to mend, a time to be silent and a time to speak,
a time to love and a time to hate, a time for war and a time for peace.

5 thoughts on “All good!

    • iya slam. dan krn yg diatas yg nentuin, semua bagus🙂 bahkan ketika kita mengalami sesuatu yg ga menyenangkan *dan kita bilang kita ketimpa musibah*, padahal bukan musibah tp berkah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s