Perempuan yang punya susu, kok situ yang ribut!


Sebelum kalian meneruskan membaca, tolong dipahami: saya tidak anti gerakan Air Susu Ibu (ASI). *only God knows* Silahkan baca postingan saya tentang ASI.

TAPI….

Berita ini sungguh membuat saya sebal luar biasa. Generasi yang lebih baik? Halooooooooo!!!!!

Jadi, enam bulan ASI eksklusif = generasi yang lebih baik untuk Indonesia

Coba, mari lihat sebentar, ya:

1. kenyataan banyak ibu yang membiarkan TV jadi babysitter untuk anaknya – sementara mereka sibuk facebook-an, sibuk twitter-an, sibuk blackberry-an, sibuk nonton TV juga, YANG

2. isi TV masih sinetron2 ga jelas, masih reality show yang membodohi, iklan-iklan yang tidak ramah keluarga simpang siur dimana-mana, bahkan ketika program-program anak sedang tayang

3. budaya membaca tidak dibudayakan dan tidak dikampenyakan, sementara orang tua merasa hebat kalau sudah bisa membelikan anaknya dengan segala macam mainan berakhiran S: PS, DS, WK, KS, NS, BS dan *S.

4. Pemerintah tidak memperbaiki sistem upah dan SISTEM CUTI UNTUK IBU SETELAH BERSALIN DAN BREASTFEEDING FATHER. Sementara,

5. Pemerintah tidak memaksa kantor-kantor untuk menyayangi ibu dan anak dan keluarga dengan, misalnya, memberlakukan sistem day care di kantor-kantor.

6. Kalau pun ada day care – biayanya selangit dan kualitasnya entah bagaimana.

7. Sudah day care tidak ada, ibu-ibu tidak diijinkan membawa anaknya ke kantor.

8. Jangankan day care, banyak ibu RIKUH memeras ASI di kantor karena tidak disediakan maternity room (dikira kalau ga ada anak ga butuh maternity room kali).

9. Soal maternity room, hhmmm sebutkan 10 tempat perbelanjaan yang menyediakan maternity room!

10. Dengan sistem upah dan ketenagakerjaan yang kayak hari ini, cukup gitu gaji dari laki-laki saja untuk menanggung beban rumah tangga? Tolong jangan lihat keluarga-keluarga kelas eksekutif ya. Liat keluarga-keluarga kelas pekerja! Mau tidak mau, suami dan istri harus bekerja supaya kebutuhan sehari-hari bisa mencukupi untuk kebutuhan DASAR keluarga (saya menggaris bawahi kata “mencukupi”, karena memang “cukup” – bukan “berlebih”).

HALOOOOOO PEMERINTAH!!!!
Kenapa ga buat UU untuk para laki-laki? Yang memperkarakan mereka, menimpakan hukuman seberat-beratnya pada mereka, membebankan biaya dengan jumlah sepuluh kali lipat KALAU mereka, ketika istri-istri mereka habis melahirkan:

1. pulang kantor malah mainan PS atau baca-baca koran atau mainan blackberry atau mainan internet

2. pulang kantor malah dugem-dugem ga jelas

3. pulang kantor malah minta dilayani ini itu

4. udah mandi, udah makan, habis itu NGOROK

5. ga ada niat baik bantuin ibu yang menyusui/habis melahirkan untuk sharing pekerjaan rumah tangga – menganggap pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak itu MUDAH, lebih mudah dari pada kerja kantoran, menganggap pekerjaan rumah tangga itu KERJAAN PEREMPUAN.

6. nggak berhenti merokok ===> saya benci sekali sama para perokok (yang kebanyakan laki-laki), yang kalau merokok di tempat umum dan ditegur (oleh perempuan) malah menjawab dengan MAKIAN atau BENTAKAN, berusaha mempermalukan si penegur di depan umum!

7. masih juga melakukan kekerasan rumah tangga, baik secara fisik (main pukul, main tendang, main hajar), verbal (menumpahkan semua sumpah serapah dan makian dalam kehidupan rumah tangga) dan emosional (mengecilkan keberadaan perempuan sebagai manusia).

8. masih juga minta anak tiga, empat, lima, enam, selusin dari perempuan (tanpa kontribusi yang memadai untuk turut serta mengasuh dan melakukan pekerjaan rumah tangga).

HALLOOOOO PEMERINTAH!!!!
Buat juga tuh, undang-undang untuk mengganjar mereka yang tidak menyayangi perempuan di tempat publik:

1. perempuan dibiarkan menunggu angkutan publik sambil berdiri di tempat terbuka: tidak ada atap (bayangkan kalau panas terik dan hujan deras), tidak ada bangku yang memadai, kadang malah tidak ada halte/tempat menunggu yang layak (risiko keserempet).

2. perempuan tidak diberi prioritas di dalam angkutan publik untuk mendapat tempat duduk: dibiarkan berdiri, dibiarkan terhimpit-himpit, dibiarkan terbuka untuk pelecehan seksual, dibiarkan jadi sasaran empuk kejahatan.

3. jadwal angkutan publik yang sangat tidak jelas. Jam-jam tertentu perempuan harus menunggu angkutan umum datang.

HALLLOOOOO PEMERINTAHHHH!!!!
Gimana perempuan bisa menghasilkan air susu yang cukup dan berkualitas, kalau karena semua hal yang saya sebut di atas, perempuan jadi:

1. kurang tidur
2. kurang gizi
3. stress
4. lelah fisik
5. lelah psikologis

11000 fined/1 year in prison to force (I write “to force” not “to encourage”) mums breastfeed their babies is just such shalow imagined wish for Indonesia’s better generation!

Oh no. Maafkan saya. Saya emosi.

14 thoughts on “Perempuan yang punya susu, kok situ yang ribut!

    • makasih pak. tadi saya main ke blogmu, tapi kok nggak nemu kontaknya ya? *bingungan mode: ON kalau pake multiply, maafff*

  1. akhirnya ada yg ngebahas ini.
    Saya juga bkn anti ASI. Tp realitanya memang sangat menyedihkan.
    Disamping fasilitas yg tdk memadai untuk ibu2 mnyusui, ada tambahan yg saya ingin sekali utarakan.
    Pemerintah sedang gembar gembor melarang iklan susu formula. Hello?!
    1. tanpa iklan pun sbenernya dr pihak Rumah sakit bersalin pasti “menyodorkan” susu formula.
    2. Bagaimana dengan ibu2 yg tdk bisa menyusui karena alasan medis? contoh yg plg parah ibu2 yg kena AIDS dan tdk mau menularkan anak2nya.
    3. tentang korban bencana alam. jg ada himbauan tdk boleh menyumbang susu formula. saya jadi berfikir, bagaimana kalau bayi2 itu ditemukan tanpa ayah dan ibunya (lagi). mesti menyumbang ASI kah kita sebagai perempuan? its a funny think that I can imagine.
    maaf kalau ada yg tersinggung atau saya salah ucap. sy cuma mau sharing. terima kasih

    • hai felicia, salam kenal.

      iya tuh. banyak RS yang justru nyodorin susu formula ketika bayi baru lahir *sebal*
      soal donor ASI, hhmmm ada rumah sakit Jakarta yang memberlakukan ini. Kakakku dulu jadi pendonor ASI karena produksinya sangat berlimpah. aku punya perasaan campur aduk dengan ide ini. sebagian setuju (dan mendukung) sebagian lagi – bertanya akan banyak hal.

      hhmm i don’t know how to argue. Tapi, agak naive kalau ada orang yang potong kompas, langsung bilang kalau ASI itu kualitasnya pasti lebih baik dibanding yang lain. *saya bicara ASI, bukan bicara kolostrum*. Padahal, nggak selalu. Saya baru tahu, ada ASI yang berkualitas dan ada ASI yang sama sekali tidak berkualitas. Itu sebabnya, misalnya – ada bayi yg sehat sekali selama minum ASI, terus jadi kurus setelah ASI berhenti. Tapi ada sebaliknya, kurus selama ASI tapi gemuk setelah berhenti ASI.

      TErgantung gizi ibunya. Gizi ibu, tentu saja, dipengaruhi banyak faktor. Maksud saya adalah, UU soal ASI ini tujuannya baik. TAPI tidak serta merta akan berhasil baik. Karena banyak hal yang harus dibereskan dulu. Banyak sekali.

      Hey, kamu punya blog?

  2. 6. nggak berhenti merokok ===> saya benci sekali sama para perokok (yang kebanyakan laki-laki), yang kalau merokok di tempat umum dan ditegur (oleh perempuan) malah menjawab dengan MAKIAN atau BENTAKAN, berusaha mempermalukan si penegur di depan umum!

    iya tuh, mba..nggak kebayang gimana kalo ntar punya anak, dan bapaknya ngerokok!! ihhh, sayang sama diri sendiri aja enggak, koq bilang sayang anak-istri..😆

  3. kemarahanku tersalurkan dengan tulisan ini. all of my anger. bukan lagi hak pemerintah untuk mengurusi hal ini kecuali pemerintah mau memberikan kompensasi jelas untuk ibu2 yang memilih untuk memberi asi eksklusif dan untuk para ayah yang membantu para istri. aku juga baru tau kl kualitas asi itu berbeda2 tergantung gizi ibyu dan baby itu cocokan. ini kesaksiannya ibuku sendiri. aku sehat justru setelah lepas asi dan dpt susu formula. adekku sebaliknya. kupikir pemerintah kita perlu melihat masalah ini lebih dalam dan g asal bikin aturan.

  4. hai mbak Titut🙂

    numpang komen ya..?

    saya tergugah dengan tulisan di atas. terasa banget kalo ada emosi yang mengalir di sana. harus kita akui memang kalau pemerintah kita kebanyakan melihat masalah hanya di permukaan saja tanpa pernah berusaha menyentuh akarnya. soal ASI ini salah satunya. dan karena analisa yang serba serampangan ini akhirnya masyarakat juga yang jadi korban.

    kalau menurut saya, sebelum mengambil sebuah keputusan ekstrim alangkah nikmatnya bila pemerintah terlebih dahulu melakukan semacam edukasi di masyarakat sambil tentu saja membenahi infrastruktur yang mendukung tingkat kesejahteraan..ngomong memang gampang ya..? hehehe, tapi setidaknya harus ada itikad baik yang kelihatan dari kebijakan pemerintah dong, jangan ujug-ujug bikin aturan tanpa membedah secara tuntas akar masalahnya..

    demikian…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s