Cinema and sexuallity


Seksualitas bukan sekadar bicara soal jenis kelamin manusia yang secara logika harusnya mengenai kondisi biologis, terutama organ seks laki-laki dan perempuan. Seksualitas tumbuh sebagai wacana buatan masyarakat, yang seringnya tidak berhubungan dengan kondisi fisik sama sekali. Itu sebabnya mereka yang melek gender membedakan seksualitas dengan gender. (Gambar diambil dari sini)

Dalam wacana sosial “seksualitas” berkelindan sistem kebudayaan, pengetahuan, keyakinan, politik dan ekonomi: sistem kepentingan. Tubuh dan seksualitas bukan lagi sesuatu yang “netral”, banyak kepentingan berperan dalam pembentukan wacana sosial tentang seksualitas ini. Dalam wacana sosial mengenai seksualitas ini, seksualitas perempuan punya peran/aturan/karakter/fungsi/cerita yang berbeda dengan seksualitas laki-laki. (Gambar diambil dari sini)

Media massa adalah salah satu alat penguat wacana sosial tentang seksualitas ini. Media massa menjadi arena untuk memproduksi, mengkonsumsi dan mereproduksi gagasan mengenai seksualitas, baik laki-laki maupun perempuan. (Gambar diambil dari sini).

Media massa sebagai industri berpengaruh kuat mengukuhkan hegemoni mengenai seksualitas, sekaligus menjadi tempat ideologi tandingan yang berusaha mendekonstruksi makna seksualitas. Wacana seksualitas menjadi sesuatu yang amat menarik dalam film. Kebanyakan film dibuat dalam lingkungan industri. Yang menarik, ketika kita bicara mengenai industri, kita tidak dapat menghindari bicara tentang kapitalisme dalam industri film. (Gambar diambil dari sini)

Di satu sisi ada anggapan kapitalisme menjadikan tubuh (terutama tubuh perempuan) sebagai komoditas, yang sebagian akibatnya adalah mengukuhkan wacana seksualitas yang ada. Tapi di sisi lain kapitalisme mengangkat seksualitas yang tadinya bersifat personal dan tertutup ke ranah publik. Wacana seksualitas yang tadinya tumbuh dalam ‘hening’, mulai menjadi bahan diskusi terbuka. Gambar diambil dari sini.

Pro dan kontra mengenai tampilan wacana seksualitas (dan tubuh dengan segala maknanya) dalam film pada akhirnya melahirkan perdebatan terbuka dalam segala bentuk aktifitas. Mulai dari lahirnya film-film yang menentang arus utama, lahirnya kebijakan-kebijakan baru yang berkaitan dengan seksualitas dan media (misalnya, Undang Undang Pornoaksi/Pornografi), dan juga gerakan-gerakan dalam masyarakat baik yang mendukung maupun yang melawan wacana arus utama tentang seksualitas. (Gambar diambil dari sini)

Wacana seksualitas dan diskusi (arena pertarungan antara arus utama dan arus tandingan) mengenai seksualitas dalam ranah publik itu berdinamika, memberikan kontribusi pada sistem sosial: politik, agama, nilai, budaya, ekonomi dan nilai: baik menguatkan atau menggugat.

5 thoughts on “Cinema and sexuallity

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s