A-B-O-R-S-I


No woman wants an abortion. Either she wants a child or she wishes to avoid pregnancy.
~Author Unknown

Dua minggu ini, salah satu milis yang saya ikuti ramai membicarakan soal aborsi. Tolong dimaklumi, ini adalah milis para feminis (well, I hope you don’t then question whether I belong to those or not. Do you need my reply? Or you already can smell it? haha). Mbak Gadis Arivia memulai diskusi dengan mempertanyakan kasus yang dipublikasi dalam detikSurabaya tanggal 14 Agustus 2010.

Saya pun mempertanyakan hal yang sama dengan Mbak Gadis. Undang-undang macam apa itu, yang membiarkan laki-laki pemilik sperma bisa bebas begitu saja? Sementara kedua perempuan itu harus masuk penjara? Saya memang tidak ikut dalam diskusi lebih lanjut, yang intinya mempertanyakan sistem legal di Indonesia mengenai aborsi.

Feminisme membuka wacana diskusi untuk dua pilihan perempuan – khususnya dalam hal punya anak: pro life and pro choice. Pro choice adalah pemikiran/pendapat/gerakan yang berpihak pada hak perempuan untuk memiliki anak/tidak, kapan dan bagaimana. Kegiatan yang termasuk dalam pandangan pro-choice adalah penggunaan kontrasepsi dan aborsi. Sementara pro-life adalah pandangan yang berpihak pada hak hidup, dalam hal postingan saya ini – adalah hak hidup janin/bayi. Kegiatan yang termasuk dalam pandangan pro-life adalah larangan terhadap penggunaan kontrasepsi dan aborsi.

Menurut saya, baik pro-choice dan pro-life stand for both mums and fetus. Bukan berarti ibu/perempuan yang mendukung pro-choice tidak memikirkan hak hidup bayi/anak. Mengurus anak itu kan bukan hal main-main. Dan ya, ga bisa “lihat saja nanti” (eh, itu kalau saya loh). Mulai dari mengandung sampai melahirkan, lalu membesarkan – semuanya membutuhkan kesiapan emosi, fisik dan keuangan. Usually in unwanted pregnancy, couples missed fire – so when they find out the girl is pregnant, they are usually unprepared, then take the short cut. Biasanya sih, kebanyakan cowok yang ga siap ini bakalan menghilang atau beralasan: “itu bukan anakku, wong kamu ML sama aku aja mau. Pasti kamu juga mau sama laki-laki lain. Aku mana tau itu anakku atau bukan” *CIH*. Nah, perempuan ditinggal dalam bingung, marah, sedih dan takut – juga: hancur. Kondisi terbaik adalah bila keluarga si perempuan ini suportif pada kondisi. Tetapi, hhmm *GRIN* – yah, you know lah.

Sementara ya, ini menurut saya – biar si perempuan tidak siap untuk punya anak, biasanya dia juga tidak siap jadi pembunuh. How can you coldshoulder to a living thing growing inside your self? SEmentara, biasanya laki-laki lebih mudah “pergi” dan “menghilang” karena tidak bakal pernah mengalami hal serupa: memiliki kehidupan di dalam dirinya sendiri. Sementara, sebenernya kan janin itu hasil pembuahan SPERMA MILIK LAKI-LAKI pada sel telur perempuan ya? Tapi, karena sesudah menanam si laki-laki tinggal ngos-ngosan, bersih-bersih dan pergi dan TIDAK PUNYA IKATAN FISIK apa-apa dengan si janin, biasanya sih si laki-laki tenang-tenang aja. Ga bakalan deh, dia merasa jadi seorang pembunuh setelah aborsi terjadi.

Ngerti nggak sih sekarang, gimana susahnya jadi perempuan pada posisi ini? Mau melahirkan, ga siap. Dan belum tentu ketidaksiapan ini TIDAK berdampak negatif pada si bayi. Mau ga dilahirkan, waduh. Ini bernyawa. Ini yang saya bilang, bahkan depresi berat biasa terjadi pada perempuan-perempuan yang secara sadar memutuskan aborsi. Biasanya, mereka dihantui perasaan bersalah – terutama karena sudah menghilangkan nyawa. PErasaan kotor karena merasa sudah melakukan kejahatan. Laki-laki nya kemana? Hmmm

Di luar depresi, risiko lain menunggu: kesehatan alat reproduksi perempuan. Karena di Indonesia aborsi itu kebanyakan illegal, jadi banyak perempuan mengunjungi tempat-tempat aborsi yang tidak aman. Mulai dari beli pil eceran yang ditawarkan di Internet, atau ke “orang pintar”, atau “dukun”, atau uumm dokter-dokter yang menjalankan malpraktik di bidang ini. Karena sifatnya yang “underground” – kalau ada apa-apa juga gimana mau nuntut? Kalau nuntut, nanti ketahuan dong kalau aborsi? See? Nah, karena pilihan dilakukan tanpa dukungan, tanpa pengetahuan – akhirnya banyak kasus aborsi yang berujung pada kematian si perempuan. Kenapa? Karena aborsi dilakukan tanpa di dukung teknik kedokteran yang layak. Pernah dengar kan, ada perempuan yang rahimnya disodok pake batang pohon singkong oleh “dukun”? Risiko paling “ringan” adalah kasus infeksi rahim setelah aborsi karena kuret tidak bersih. Gimana mau kuret bersih kalau bius juga seadanya? Lagi-lagi, laki-lakinya kemana?

Masalahnya ya, saya bingung deh – terutama dengan cara pandang orang menyikapi perempuan yang hamil di luar pernikahan. Pertama ya, kalau perempuan ini hamil di luar pernikahan (misalnya sama pacarnya) dan dengan kondisi si pacar nggak mau tanggung jawab, pasti deh – posisi perempuan ini jadi dibuat susah. Kalau dia memilih untuk tetap memelihara anak yang dikandung, nanti orang akan bilang: “huh, perempuan apa itu. punya anak kok ga punya bapak.” Lalu dengan riuh rendah cap-cap sosial yang jahat dihadiahkan pada perempuan yang penyayang ini: perempuan nakal lah, perempuan binal lah, perempuan gatel lah. Itu belum apa-apa (tega-teganya ya, saya bilang itu belum apa-apa *sigh*). Ini yang kedua. Nanti, anak yang dilahirkan ikut kena getahnya. Ikutan dikasih cap-cap jahat yang sangat, sangat, sangat kotor: anak haram lah, haram jadah lah, anak hasil kecelakaan lah. Ya ampun. Nah yang ketiga, kalau perempuan itu memilih untuk tidak melahirkan anaknya – mmhh. Sama. Cap-cap sosial yang jahat juga akan diterima oleh perempuan ini. Ditambah, kalau ketahuan sama polisi, hukuman penjara.

Aneh kan? Lalu, sama pertanyaan saya dengan pertanyaannya Mbak Gadis. Laki-laki yang menabur sperma itu kemana? Cap apa yang seharusnya diberikan ke dia? Haha saya sih punya sejuta cap jahat untuk laki-laki macam ini. Tapi, sebaiknya saya simpan saja di kepala saya. *GRIN*

Kemarin sih, dalam diskusi di mailing list saya itu – mereka meributkan sistem legal. Tapi ya, menurut saya bagaimana sistem legal mau berjalan dengan baik dan pantas, kalau masyarakat sendiri masih terus menyudutkan perempuan. Apa juga yang perempuan lakukan, pasti salah.

Kalau saya sih, saya lebih memilih untuk menyayangi perempuan. Tentu! Tentu itu. Tentu saja karena saya sendiri perempuan yang punya anak perempuan🙂 Juga, karena perempuan itu penggendong kehidupan🙂

Jadi, perempuan siapa saja deh, yang baca postingan saya ini. Ayo! Berani bilang TIDAK untuk hubungan seksual tanpa pengaman. Berani bilang TIDAK untuk hubungan seksual di luar pernikahan. Berani bilang TIDAK untuk hubungan seksual dalam pernikahan kalau memang tidak lagi ingin punya anak. Jangan lagi merasa tidak enak, merasa harus nurut, merasa harus berkorban, merasa harus mengikuti kemauan pasangan – yang belum tentu mendukung kita sepenuhnya. Jangan percaya dengan mitos: nggak pake kondom lebih enak (iya buat kamu lebih enak, buat kami? Cih!) Balik lagi, perempuan itu penggendong kehidupan, ujung-ujungnya – kalau sudah hamil, ummmm liat deh quote di atas: gimana pun juga, ga ada perempuan yang ingin melakukan aborsi. Aborsi adalah pilihan paling berat yang harus dilakukan perempuan. Dan, hihihi ini agak stereotipe, tapi bener kok. Gimana-gimana juga, kalau udah urusan anak, pasti perempuan yang lebih aktif dan giat. Ya, karena kita memang dekat dengan kehidupan. Itu sebabnya, setelah aborsi, bahkan bila itu dilakukan dengan sadar oleh perempuan – banyak perempuan yang depresi dan frustrasi karena merasa bersalah.

Sayangi tubuhmu. Sayangi hidup.

7 thoughts on “A-B-O-R-S-I

  1. yaaa, lebih ironisnya lagi, yang menghukum wanita yang melakukan hal diatas ini adalah wanita lain di lingkungan itu juga.. pria tidak dihukum??ohh, itu urusan Tuhan saja😉

  2. kami siap membantu dengan dasar mencegah aborsi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan,untuk yang butuh bantuan masalah diluar nikah, kalau ada teman Anda yang butuh bantuan,bisa hubungi pengurus LSM PPS Indria , di no telp 0274-9252090, email pps_indria@yahoo.com, domisili Yogya, tapi kita akan berusaha untuk bantu teman2 dluar yogya juga…

  3. sayangnya banyak orang yg tidak sadar akan pentingnya hal ini. di luar sana masih banyak orang yg melakukan hubungan seksual di luar nikah dan tanpa pengaman.

    balik ke kepercayaan masing-masing sih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s