M-A-N-T-R-A


Fr. Jerome Cummings mengatakan: “Love is shown in your deeds, not in your words” [Cinta itu melalui perbuatan, bukan melalui perkataan]. Mhhhh, romantisme cinta yang terlalu berlebih, menurut saya. Tentu saja saya tidak setuju-setuju amat dengan pernyataan Cummings itu. Bagi saya, perbuatan dan perkataan itu setara, and also saying is an action too, no? Tapi, terlebih saya percaya bahwa our words reflect what we believe, our values. Dan terlebih, saya percaya kata-kata yang kita ucapkan adalah mantra: mantra bagi kita sendiri dan mantra bagi orang lain.

Di salah satu buku cara melatih anjing, ada salah satu point yang bilang: “kalau (anak) anjing Anda melakukan kesalahan, jangan pernah mengatakan “bad dog!” – karena, anak anjing akan percaya ia adalah “bad dog” – dan begitulah ia akan tumbuh besar, menjadi “bad dog“. Dengan logika yang sama, orang tua disarankan untuk tidak mengumpat “anak nakal” atau “anak setan” atau “anak nggak tau diuntung” atau “anak jelek” atau “kamu gendut” – karena, anak akan mendengar kata-kata itu, dan ketika kata-kata itu sering diucapkan – anak akan belajar percaya bahwa begitulah mereka: “anak setan” atau “anak nakal” atau “anak nggak tau diuntung” atau “anak jelek” atau “kamu gendut”. May Rowland percaya bahwa there is a miracle-working power to the word. Kata-kata adalah mantra. As soon as we agree with the information passed on – with the mantra, we believe it to be true. We pick it as our consciousness.

Makanya, saya prihatin sekali sama orang-orang yang mengatakan “gimana nggak diperkosa, habis pakenya celana pendek banget gitu sih!” atau “kalo diperkosa itu juga salah wanitanya tho? yah, mungkin kalo memang dia berpenampilan menggoda sih” – apa lagi kalau hal-hal sampah kayak gitu diomongin ditempat-tempat “umum”. You are a poor thing, because I believe – that’s how you were taught. Now, those words become your mantra and you teach your mantra – you pass it onto some one else, and this is how we are running our world.

Our word is our power to create – baik good power or evil power. Ruiz bilang, the impeccable use of the word creates a consciousness of heaven on earth. Anak akan menjadi pintar dan baik ketika orang tuanya rajin mengucapkan kata-kata itu. Kita akan mampu melakukan banyak hal, kalau orang-orang di sekitar kita terus memotivasi dengan kata-kata: “Kamu pasti bisa”.

The misuse of the world creates a consciousness of a living hell. Kata-kata sampah macam “Kamu dicolek sama cowok? Makanya! Pakai baju yang sopan!” akan membuat perempuan jadi percaya, kalau mereka diperkosa – itu karena salah mereka berpakaian. Padahal, jangan lupa – banyak khasus perkosaan terjadi pada perempuan-perempuan yang berpakaian tertutup pula. Jadi, masalahnya sebenarnya kan bukan pada cara perempuan berpakaian. Juga bukan pada cara perempuan menghargai seksualitasnya. Ada hal lain yang harus diurus! Kamu! Ya, kamu yang harus diurus! Kamu yang tidak bisa mengendalikan nafsu. Kamu yang tidak bisa mendisiplinkan gairahmu sendiri. Kamu yang tidak bisa menjaga tingkah laku dan sopan santunmu! Lalu, kamu menyalahkan orang lain.

Watch your thoughts, for they become words.
Watch your words, for they become actions.
Watch your actions, for they become habits.
Watch your habits, for they become character.
Watch your character, for it becomes your destiny.

4 thoughts on “M-A-N-T-R-A

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s