Castells dan youtube


Di salah satu bagian tesis saya, saya berargumen pemerintah Suharto dulu ragu-ragu untuk mengembangkan teknologi Internet di Indonesia. Argumen saya adalah: Pak Harto bingung. Manuel Castells (1996 dan 1997) bilang, Internet itu memberdayakan penggunanya dalam hal sensor. Sensor terhadap Internet ada di tangan penggunanya – bukan di tangan pemerintah. Di jaman Pak Harto, pemerintah memegang kendali sensor untuk segala macam media. Tapi Internet? Hahaha, bahkan Pak Alwi Dahlan, menteri penerangan terakhir di jaman Pak Harto bilang: “Saya nggak tau gimana cara kita bisa mengatur Internet“. TAPI Internet punya banyak kelebihan dibanding media sebelumnya, terutama di dalam bidang pengetahuan dan ekonomi (dua hal ini sebenernya berhubungan kan ya?). Akibatnya, pembangunan infrastruktur Internet di Indonesia lamaaaaa sekali: antara mau dan tidak mengembangkan infrastruktur teknologi internet. Ingin mengembangkan karena dapat memajukan ekonomi bangsa, tidak ingin karena sulit mengatur kendali sensor.

Castells juga bilang, dari segi teknologinya saja – Internet itu adalah media yang bisa diutak-atik (baca: technologically open designed) – baik bagi penemu, pengembangnya, atau bahkan pengguna biasa. Jadi, pengembangan teknologi Internet hampir tidak bisa dibendung batasnya. Tidak bisa disensor. Nah, sementara tempat dan waktu penggunaannya juga sama, sulit dibatasi dan SULIT untuk diawasi (apalagi oleh pemerintah). Demikian juga dengan isi/pesan, nggak bisa dibatasi dan sulit diawasi: siapa yang membuat dan siapa yang mengkonsumsi. Makanya, Castells berargumen bahwa Internet itu media yang membutuhkan kedewasaan penggunannya. Kenapa? Karena sensor ada di tangan pengguna – dan orang di sekitarnya (Castells menyebutkan orang tua, keluarga dan sekolah sebagai “badan sensor” lainnya selain diri sendiri).

Ngomong-ngomong soal sensor, isi media yang biasa di sensor di negara kita itu kan yang bermuatan pornografi ya? Baru-baru ini – dalam waktu yang berdekatan, keluar dua file mp4 berisi adegan dewasa dua orang artis dari Indonesia. Banyak orang memberikan komentar pada ketiga orang ini – terutama pada apa yang sudah mereka lakukan. TAPI sangat sedikit komentar yang diberikan pada orang yang menyebarluaskan rekaman pribadi secara ilegal di ranah publik (Internet). Lalu, secara maraton link-link untuk mendownload juga disebarluaskan.

Link pertama saya dapat dari teman saya, dan saya download lalu saya tonton sendiri (link tidak saya teruskan pada orang lain). Link yang kedua saya cari sendiri, saya tonton dan hanya sampai di situ. *menghela nafas* Lalu, saya jadi teringat lagi buku Manuel Castells yang saya baca. Ternyata, saya belum menjadi pengguna Internet yang dewasa (untuk khasus link yang pertama). Agak senang, karena saya sudah menjadi pengguna Internet yang lebih dewasa pada khasus link kedua: karena saya memutuskan untuk mencari sendiri, melihat, dan selesai. Dan sekarang saya jadi berpikir, apakah legal mengkonsumsi informasi yang dipublikasikan secara ilegal?

Oh iya, di Australia ada beberapa khasus yang hampir serupa. Ada gadis yang bersama teman-temanya ke pub, lalu gelasnya dimasuki obat tidur oleh seseorang (laki-laki). Dalam keadaan tidak sadar, aktivitas dewasa pun dilakukan. Ketika terbangun, si gadis menemukan secarik kertas di atas tempat tidur: “see you on youtube“. Dan begitulah terjadi.

Siapa saja, bisa jadi penghasil informasi di Internet- baik informasi legal, illegal, bermanfaat, atau sampah. Sangat mudah untuk menyebarkan informasi di Internet. Sangat mudah (di beberapa tempat) untuk mengakses informasi dari Internet. Semua ada di tangan pengguna Internet, bagaimana mau menggunakan Internet. Saya sendiri memilih untuk belajar menjadi pengguna Internet yang lebih dewasa.

Castells, M. (1996). The information age : economy, society and culture . Malden, Mass. :, Blackwell.
Castells, M. (1997). The power of identity . Malden, Mass. :, Blackwell.

=============================================
Let he who is without sin cast the first stone

3 thoughts on “Castells dan youtube

  1. jadi inget status FB ku tempo hari.. apa yang salah ya dengan infrastruktur IT di negeri ini?
    sistemnya tidak salah, mungkin. yang keliru adalah orang yang membuat dan mengatur sistem itu. regulasi nya juga harus ditentukan dengan baik dan benar sehingga sistemnya berjalan sesuai standarnya..

    halaaaahh, aku koq ngomyang pagi2😦

  2. Ah…, internet lagi, biasanya kalau sesuatu yang “meledak” di internet, bahkan yang tidak mengaksesnya pun bisa kebagian informasi yang sama…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s