r3Maj4 d4n b4h45A 4l4y


Beberapa waktu yang lalu, saya dikirimi email oleh seorang teman, tentang gerakan tiga A, Anti Anak Alay. Email itu sekaligus menyebutkan ciri-ciri anak alay yang harus – katanya, dikurangi populasinya dari muka bumi. Hahaha. Ciri-cirinya anak alay itu kayak gini:

  1. kalo sms suka kurang kerjaan . hurufnya besar kecil – besar kecil. Ga capek apa ngetik nya ?!
    contoh : iYa nIe , aBiS lAgI sIbUq siCh
  2. suka ga bisa bedain huruf .
    contoh : juga = juja , iya = eap , sms = cmz
  3. kalo foto gaya nya norak .
    contoh : tangan dibentuk angka satu , trus di letakin di depan bibir . mlut di gembungin (supaya apa coba ?)
  4. nick fb or twiter mereka serasa paling oke.
    contoh : cii mUna imUtz / cii LeMouDh / raTu ManieeeZ / sii CuEXz / coMel CayNk CaaBaT.
    ckckck parah !
  5. kalo nge wall / comment selalu ada : rePP iah / plis repp
  6. Kalo sms biasany pake angka. Contoh : 9w 9ag 8i5a 5kr9 ! (helloo .. dikira plaat nomer)

Senada, dalam salah satu mailing list yang saya ikuti, ada juga tret untuk mendiskusikan “Bahasa allay..kreatif apa destruktif?” Kebanyakan anggota milis sebal kalau dapat sms dari generasi alay ini. Yah, bisa dimaklumi – setiap kendala komunikasi, pasti menyebabkan ketidaknyamanan.

Yang menarik adalah, mereka yang marah-marah ketika berkomunikasi dengan generasi Alay ini adalah mereka yang menggemari budaya popular dari Jepang. Tidak sadar rupanya, kalau pada tahap perkembangannya, budaya popular Jepang itu juga menimbulkan “keresahan” serupa di kalangan generasi sebelumnya. Mungkin mereka yang sekarang marah-marah pada generasi Alay belum lahir karena budaya popular Jepang itu baru muncul awal tahun 1970an.

Seperti umumnya negara kerajaan lain, Jepang punya aturan-aturan tradisional yang kuat dan ketat: mulai dari tulisan kanji yang harus pakai tinta dan kuas sampai aturan berbusana. Nah, sekelompok remaja merasa “sesak” dengan aturan yang menurut mereka “menindas” kebebasan mereka. Mulailah mereka menciptakan gaya mereka sendiri.

Awal mula budaya pop Jepang ini berbentuk tulisan kanji yang campur aduk dengan bahasa Inggris dan gambar-gambar kartun, yang bukan ditulis dari atas ke bawah melainkan dari kiri ke kanan (seperti tulisan latin biasa) yang ditulis menggunakan pensil mekanik (bukan kuas). Gaya menulis remaja saat itu sangat menyimpang dari aturan ketat Jepang yang serba “resmi”. Banyak orang menilai gaya menulis ini kekanak-kanakan, karena memang gaya menulisnya seperti gaya anak-anak yang baru belajar menulis. Saya yakin sekali, gaya menulis ini membuat geram generasi yang lebih dewasa, karena dianggap mengacaukan “rutinitas”. Hahaha, sama seperti yang banyak orang rasakan sekarang ketika menerima sms dari generasi Alay!

Gaya menulis campur baur yang seperti tulisan anak-anak ini melahirkan budaya pop Jepang yang lebih dikenal sebagai: cute culture (karena menggemaskan), dan segera mewabah – tidak hanya di Jepang tapi di seantero dunia. Cute culture ini lalu berkembang dalam banyak bentuk, antara lain manga, gaya rambut juga gaya berpakain remaja di Jepang *yang banyak ditiru oleh kita di Indonesia, lho!*

Chris Barker (2008) bilang kalau remaja itu punya budayanya sendiri, yang biasanya merupakan bentuk “pemberontakan” terhadap budaya arus utama (baca: budaya kaum tua yang penuh tata krama hahaha). Parsons (1963) bilang sebenernya “remaja” itu bukan kategori biologis. Jaman dulu nggak ada tuh yang namanya remaja: dari anak langsung dewasa. Anak-anak adalah manusia yang alat-alat seksualnya belum berfungsi. Begitu alat-alat seksual mereka berfungsi, mereka langsung dianggap sebagai manusia dewasa.

Terus kok bisa ada kelompok remaja? Akal-akalan kapitalis, demi mengeruk keuntungan secara ekonomi. Kok? Iya dong. Dulu hanya ada bedak bayi dan bedak emak-emak. Sekarang ada bedak yang khusus remaja. Jadi, remaja itu adalah pasar (target market) yang sengaja dibuat oleh kapitalis, supaya mereka bisa mengeruk keuntungan ekonomi lebih banyak.

Akibatnya, remaja sering bingung. Dibilang anak, mereka bukan anak-anak lain *sudah tidak pakai bedak bayi*, tapi dibilang dewasa juga belum bisa! Mereka nggak mau dibilang anak-anak lagi, TAPI juga belum mau bertanggung jawab sepenuh orang dewasa. Ya coba aja, remaja mana mau dibuatkan pesta ulang tahun yang mulai jam 4 sore dan selesai jam 5 sore? Mana mau ulang tahun pakai kantong-kantong plastik warna warni? Tapi, mereka juga ogah kalau disuruh kerja model nine to five selama lima hari kerja? Masih maunya seneng-seneng (bebas) tapi ogah dibatasi seperti anak-anak. Pemberontak ya? Nah, untuk “menandai” kelompok mereka sebagai yang berbeda, mereka menciptakan identitas-identitas sendiri – identitas yang khas, bukan anak dan bukan dewasa tapi remaja.

Sama, trend Alay yang sekarang mewabah adalah bentuk sub kebudayaan yang digunakan remaja untuk “menandai” diri mereka sebagai entitas berbeda. Sama kok kejadiannya dengan cute culture. Menarik ya, karena sekarang orang-orang yang mencintai cute culture ini justru sebal pada generasi Alay. Hahaha, padahal kan ya sejenis secara prinsip! Padahal generasi Alay ini hanya jadi “tanda” kalau kita semua – yang sebel sama trend anak Alay ini – udah tambah tua!

31 thoughts on “r3Maj4 d4n b4h45A 4l4y

  1. alay itu cuma salah satu bentuk ekspresi diri. Likes-dislike, wajar2 aja. Tp hatred spt imel ajakan kek gt? Bullying.

    Heh, remaja ga diakui? Itu teori dr mana? Kl dlm psikologi perkembangan, tahap remaja itu ada, lengkap dg tugas2 perkembangan yg beda ma anak2 dan dewasa.

    • Neng, ada kok rujukannya, coba baca lagi. Hehe.
      Balik tanya, psikologi perkembangannya siapa?
      Rujukannya?

      • iya, baca diatas ada namanya. maksutnya, itu ungkapan keterkejutan, kok ternyata ada bidang yg tidak mengakui masa remaja.

        kl dlm psikologi perkembangan, coba bisa disimak di buku2 teks psikologi perkembangan. teori yg diajarkan (yg plg terkenal) dibangku kuliah umumnya adl teori perkembangannya hurlock atau havighurst.

        kl teorinya hurlock adl ttg life-span, sdgkan teorinya havighurst adl ttg tugas2 perkembangan.

        kl definisi mnrt para pakar, bisa lbh banyak lg. silaken digugling. tp rata-rata benang merahnya adl ‘masa transisi’ dan ‘perubahan perkembangan’ (secara fisik)

        mnrt havighurst, tugas2 perkembangan remaja (didefinisikan kl dlm umur yaitu rentang 13-18 thn) adl:
        * Memiliki hubungan yang lebih dewasa dengan teman sebaya dari kedua jenis kelamin
        * Memiliki peran maskulin atau feminin
        * Menerima keadaan fisik yang dimiliki dan menggunakannya secara efektif
        * Memiliki kemandirian emosi dari orang tua dan orang dewasa lain
        * Mengembangkan pemahaman tentang pernikahan dan kehidupan berkeluarga
        * Mulai berusaha mandiri secara ekonomik dan memiliki aktivitas menghasilkan
        * Memiliki sistem nilai dan etika sebagai panduan berperilaku
        * Menginginkan dan memiliki perilaku yang merupakan perwujudan tanggung jawab sosial
        (kupipes dr gugling, soale ga apal, haha)

        utk sekilas info, bisa dilihat disini: http://en.wikipedia.org/wiki/Adolescent_psychology

      • terkait dg statement, akal2an para pemasar, itu bisa dipahami bhw para produsen gimanapun caranya selalu berusaha untuk menciptakan kebutuhan.

        ga usah yg remaja. general saja. dulu nyuci ga pake pelembut pewangi oke2 saja. skrg selain pelembut pewangi bahkan pelicin setrika dg klaim yg disinfektan bla3.

        jd kl aku ngeliat bukan masalah menciptakan kategori remaja. tp remaja mmg sudah ada, nah mrk melihat ini sbg calon pasar. nah gimana caranya membentuk kebutuhan. ya kilik2 aja dengan bahasa iklan, ciptakan imaji, gedor bawah sadar mereka, dst.

    • hehehe kerja sub kebudayaan itu memang gitu. resisten terhadap budaya terdahulu yg sudah lebih mapan. akan terus begitu kerjanya. masalah budaya yang lama musnah/budaya baru musnah – itu masalah kuat2an. tapi, siapa pun yg menang, akan (lagi-lagi) ditantang oleh budaya baru. gitu terus prosesnya. makanya disebut resistensi budaya.

  2. Pingback: Tweets that mention r3Maj4 d4n b4h45A 4l4y « Tobytall’s Blog -- Topsy.com

    • hehehehe kalau akujadi gurunya, itu akan aku pertimbangkan. tetap bisa kan membuat kalimat EYD tapi dalam format alay?

  3. Saya sih tidak mempermasalahkannya jika memang untuk ranah pribadi, lha kalau orangnya suka begitu mau diapakan coba?

    Tapi kalau saya dikirimi sms atau surel seperti itu, ya mohon maaf juga jika saya tidak membalas. Daripada saya menginterpreatasikan bahasanya yang tidak saya mengerti, atau saya kemudian menjawab dengan seadanya dan bahasanya pun dia tidak mengerti, ya sudah-lah kalau begitu.

  4. mba titut masa aku baru mau komen di sini, padahal postingan lama. hehehehe,

    aku jadi ada pertanyaan nih mba, jadi standar alay itu apa ya? maksud aku kalau dalam lagu. apa penyanyinya yang rambutnya dicatt warna-warni, genrenya yang pop melayu, atau liriknya?*penasaran dunia akhirat:mrgreen:

  5. standard allay? uumm standard budaya jawa itu apa? :p

    kalau menurutku, allay itu sub-kebudayaan: muncul karena resistensi thd budaya arus utama (budaya yang lebih dominan). kalau menurutku, tahap sekarang ini allay itu belum kuat posisinya. jadi, sebenernya lebih mirip fenomena dibanding sub-kebudayaan. (beda sama cute-culture nya Jepang yang udah bukan fenomena lagi krn sudah berlangsung bertahun2).

    kenapa?

    Ps. maaf, balasnya juga lama euy…

  6. Pingback: Jelajah Budaya » Menyimak Ekspansi Bahasa Alay di Kalangan Anak Muda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s